Jurnalisme Warga
Aceh dalam Kenangan Gadis Betawi
MENDAPATKAN kesempatan ikut Program Pertukaran Mahasiswa bagi mahasiswa pada umumnya bukanlah perkara yang mudah

Bagi siapa pun yang mencicipi kuliner asli Aceh langsung di daerah asalnya tidak akan menyesal sedikit pun dengan citarasanya, termasuk saya yang sudah menikmati ayam tangkap, ayam goreng Kayee Lheue, pari bakar, dan lain-lain.
Terakhir, yang membuat Provinsi Aceh begitu terkenang dalam benak saya adalah saat setiap kali saya melakukan perjalanan dan singgah di masjid selalu ada kelompok-kelompok Taman Pendidikan Al-Qur’an (TPA).
Anak-anak ramai yang mengaji Juz Amma dan Al-Qur'an bakda asar hingga menjelang waktu magrib tiba.
Terharu saya melihat pemandangan tersebut.
Tidak disangka bahwa pendidikan agama sangat diprioritaskan dalam lingkungan masyarakat di sini.
Sungguh langkah baik yang telah diambil untuk menciptakan generasi penerus yang memiliki akhlak baik dan ketaatan kepada Allah, Sang Pencipta.
Sesuai dengan tagline Program Pertukaran Mahasiswa Merdeka yang saya jalani, ‘Bertukar Sementara, Bermakna Selamanya’.
Saya merasakan sendiri saat saya bertukar wilayah dan memulai beradaptasi dengan budaya Aceh, lalu budaya Aceh yang juga penuh makna bakal mewarnai seumur hidup saya.
Tiga bulan sudah berlalu.
Lusa kami tinggalkan Aceh, kembali ke kampus masing-masing.
Tapi sungguh, hati saya tertinggal di sini.
Baca juga: Gubernur DKI Anies Baswedan Komentari Puisi Penyair Gayo dalam Buku Jakarta dan Betawi
Baca juga: Tokoh Rabithah Alumni Mudi Perwakilan Jakarta Peusijuek Ulama Betawi