Jurnalisme Warga

Aceh dalam Kenangan Gadis Betawi

MENDAPATKAN kesempatan ikut Program Pertukaran Mahasiswa bagi mahasiswa pada umumnya bukanlah perkara yang mudah

Editor: bakri
zoom-inlihat foto Aceh dalam Kenangan Gadis Betawi
FOR SERAMBINEWS.COM
MELINDA RAHMAWATI, Mahasiswi Pendidikan Sejarah Universitas Muhammadiyah Prof. Dr. Hamka yang mengambil Program Pertukaran Mahasiswa Merdeka di Universitas BBG, melaporkan dari Banda Aceh

Tanah pusaka nenek moyang ini telah diwariskan sejak berabad lampau bersama dengan megahnya kebudayaan dan sejarahnya yang agung.

Harga mahal dari sejarah Kerajaan Aceh Darussalam sebagai salah satu kerajaan Islam tertua di nusantara nyatanya tersimpan rapi di sini.

‘Adat bak Poteumeureuhom, hukom bak Syiah Kuala, qanun bak Putroe Phang, Reusam bak Laksamana (Bentara)’, demikian 'narit majah' atau pepatah masyarakat Aceh yang secara jelas menyatakan sikapnya menjaga nilai adat, tradisi, dan warisan kebudayaan dari para nenek moyang mereka.

Syariat Islam ditegakkan sungguh-sungguh di sini berjalan seiring dengan kebinekaan yang dijalin dan menghadirkan bentuk toleransi yang belum saya temukan di mana pun, bahkan di Jakarta sekalipun.

Sebagai seorang gadis asli Jakarta (Betawi) dan didukung dengan latar belakang pendidikan sejarah yang sedang saya tempuh membuat kecintaan saya pada tanah Aceh ini semakin mendalam.

Tiga bulan saya berjalan di "tanoh aulia" ini sebagai mahasiswa pertukaran yang ditempatkan di Universitas Bina Bangsa Getsempena (UBBG) Banda Aceh.

Saya menjalani aktivitas bersama masyarakat di sekitar saya, menikmati keberagaman dan kemegahan tradisi yang berjalan, bahkan lukisan alamnya yang asri dan masih terjaga benar-benar membuat saya tak mampu memalingkan mata dan pikiran ke tempat lain.

Baca juga: Akan Segera Menikah, Inilah Sosok Pria yang Bakal Jadi Suami Roro Fitria, Berdarah Betawi-Arab

Baca juga: Haji Lulung Meninggal Dunia, Anies Baswedan: Jakarta Kehilangan Putra Betawi Terbaik

Dalam kajian sejarah yang selama ini saya pelajari di kampus asal saya, jika ingin melihat sejarah Aceh, kami pasti akan membuka terlebih dahulu catatan-catatan sejarah yang ditulis oleh Snouck Hurgronje.

Seorang antropolog merangkap spionase Belanda yang mencatat dan memecah belah rakyat Aceh dengan hasil catatan atau advisnya ke elite Belanda.

Tokoh-tokoh pahlawan dari Provinsi Aceh juga yang selalu muncul tidak lebih dari Teuku Umar, Cut Nyak Dhien, Cut Meutia, Laksamana Malahayati, dan Teuku Chik diTiro.

Nyatanya, masih banyak sekali tokoh pahlawan yang berasal dari Aceh yang jarang disebutkan perannya untuk negeri ini.

Bahkan, baru saya sadari betapa kuatnya masyarakat Aceh dalam berpegang teguh pada agama dan tradisi mereka.

Hingga produk-produk kebudayaan mereka masih terjaga dan lestari hingga era modern sekarang ini.

Keteguhan yang dimiliki oleh masyarakat Aceh telah sejak lama tertempa dengan berbagai peristiwa yang tercatat dalam sejarah terjadi di sini.

Konflik antara kelompok GAM dengan Pemerintah RI pada tahun 1976-2005 membuat Aceh memiliki catatan sejarah kelam sebagai daerah konflik.

Halaman
1234
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

Berita Populer

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved