Kupi Beungoh
Putin, Ukraina, dan Perang Dunia 3 (IV), Georgia dan Kegagalan Barat Menjegal Putin
Walaupun tentara Rusia sudah merasuk ke wilayah Ukraina, bahkan telah mendekati ibu kota Kiev, mereka belum berhasil masuk dan menguasai kota.
Keinginan Georgia untuk menjadi anggota NATO telah dimulai semenjak tahun 1992, hanya setahun setelah medeka dan memisahkan diri dari Uni Soviet.
Disamping ingin menjadi anggota NATO, Georgia juga sangat berkeinginan untuk menjadi anggota Uni Eropa.
Georgia ingin melepaskan diri sepenuhnya dari bayang-bayang imperium Rusia, baik secara kultural, dan ekonomi.
Georgia ingin sepenuhnya menjadi bagian dari “keluarga besar” Eropa yang maju, dan demokratis.
Sejumlah survei terhadap terhadap warga Georgia pada awal tahun 2000an, menunjukkan mayoritas rakyat Georgia ingin bergabung dengan NATO dan Uni Eropa.
Alasannya sangat sederhana, ingin aman, dan ingin kaya dan makmur.
Bukankah NATO payung keamanan Eropa? Bukankah Uni Eropa adalah persekemakmuran ekonomi Eropa.
Rusia, dalam hal ini Putin, tidak bisa menerima keinginan kedua pihak itu.
Ia tak mau menerima dan tak mau mau melihat Georgia menjadi bagian dari NATO.
Ia juga tidak mau NATO membuka pintu untuk Georgia menjadi anggota.
Putin menyatakan keberatan itu dalam berbagai kesempatan dan bahkan dalam nada ancaman.
Cukup sudah negara-negara Eropa Timur yang pernah menjadi sekutu Uni Soviet dalam pakta WARSAWA bergabung dengan AS dan negara-negara Eropa dalam NATO.
Ia berang dan menyesali tentang tiga negara Baltik bekas anggota Uni Soviet, yang “lari” dan menyeberang menjadi anggota NATO.
Kalau hal itu terus dibiarkan maka potensi Rusia akan “tamat” digilas Barat hanya tinggal masalah waktu.
AS, terutama ketika George Bush junior menjadi Presiden sangat berkeinginan agar Georgia segera menjadi anggota NATO, dan sering kali hal itu diucapkan Bush dengan nada percaya diri yang tinggi dan kadang terkesan arogan.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/ahmad-humam-hamid-profesor.jpg)