Kupi Beungoh
Putin, Ukraina, dan Perang Dunia 3 (IV), Georgia dan Kegagalan Barat Menjegal Putin
Walaupun tentara Rusia sudah merasuk ke wilayah Ukraina, bahkan telah mendekati ibu kota Kiev, mereka belum berhasil masuk dan menguasai kota.
Apa reaksi Putin?
Yang terjadi kemudian adalah “adu saraf berani” antara Putin dengan AS dan sekutunya.
Ketika pertemuan puncak NATO di Bucharest, Romania, pada bulan April 2008 memutuskan menerima Georgia menjadi anggota NATO, apa yang dikerjakan Putin?
Ketika Georgia sedang mempersiapkan berbagai dokumen persyaratan menjadi anggota NATO, Putin mempunyai rencana sendiri yang tidak diperhitungkan oleh barat dan banyak kalangan, menyerang Georgia.
Pada bulan Agustus 2008 Rusia menginvasi Georgia dan masuk melalui dua kawasan konflik separatis, Ossetia Selatan, dan Abkhazia.
Pertempuran keras terjadi selama 5 hari praktis dimenangkan dengan mudah oleh Rusia.
Dalam tempo 12 hari, invasi itu selesai, dan dua republik baru yang disponsori Rusia terbentuk.
AS dan sekutunya tak bisa berbuat apa-apa, selain dari mengecam, mengutuk, dan memberlakukan sanksi ekonomi.
Babak pertama “adu saraf berani” itu dimenangkan oleh Putin.
Putin tak peduli dengan berbagai kecaman dan hujatan.
“Itulah Putin” tulis berbagai pengamat dengan campuran nada marah ataupun kagum.
Baca juga: Perubahan Wajah Presiden Vladimir Putin dari Masa ke Masa, Terlihat Lebih Muda dari Umurnya
Baca juga: Mantan Presiden Georgia Mogok Makan, Tuntut Fasilitas Lebih Baik
Adu Saraf Putin dengan AS dan NATO
Penguasaan Ossetia Selatan dan Abkhazia semakin memperkuat alasan Georgia untuk menjadi anggota NATO yang juga sangat diinginkan oleh AS.
Keinginan kedua pihak itu dinyatakan dalam berbagai pertemuan NATO, baik tahunan ataupun insidental.
Rusia yang telah menguasai Ossetia Selatan dan Abkhazia kini puya kartu ‘turf baru”.
Pasal 5 kesepakatan NATO menyebutkan bahwa serangan atau perang yang dilakukan suatu negara di luar anggota NATO terhadap satu anggota NATO akan dianggap sebagai serangan terhadap semua anggota.
Dan kartu inilah yang dimainkan oleh Putin dalam “adu saraf berani” dengan AS dan sekutunya.
Putin mengancam Georgia dan NATO, bila saja Georgia resmi menjadi anggota NATO, Rusia akan menyerang Georgia.
Apa maksud ancaman Putin itu?
Artinya, merujuk pada pasal 5 kesepakatan NATO, AS dan sekutunya akan terlibat perang dengan Rusia.
Negara-negara Eropa anggota NATO mulai berfikir ulang.
AS jauh dari Eropa, dan kalau Georgia masuk itu artinya Eropa akan menjadi kancah peperangan yang tak terbayangkan.
Jerman dan Perancis adalah dua anggota NATO yang terus-menerus menolak usul AS untuk menerima Georgia menjadi anggota NATO.
Penolakan itu diam-diam juga diamini oleh sebagian anggota NATO yang lain.
Akhirnya, setelah pertemuan puncak Walles di Inggris pada April 2014, NATO bersepakat memberikan sebuah paket bantuan dan kerja sama untuk penguatan keamanan Georgia yang disebut SNPG- Substantial NATO-Georgia Package.
Dengan paket itu pula resmi Georgia “dihibur” oleh NATO, karena keanggotaannya ditolak, mungkin untuk “sementara”.
Alasan kuatnya? Tidak lain tidak bukan, ancaman Vladimir Putin.
Demi menjaga keutuhan NATO, AS akhirnya terpaksa menerima usul Jerman, Perancis, dan beberapa negara anggota NATO lainnya yang menolak Georgia diterima menjadi anggota.
Babak kedua “adu saraf berani” itu kembali berpihak ke Putin.
Untuk diketahui, gertakan dan ancaman Putin terhadap NATO tentang keanggotaan Georgia pada saat itu, juga disatupaketkan dengan ancaman jika Ukraina ikut bergabung dengan NATO.
Tentang keanggotaan Ukraina dalam NATO, AS juga sangat berminat, apalagi Ukraina yan juga sudah tak sabar.
Ketika Rusia menganeksasi Crimea dan sebagian Donbask pada tahun Februari 2014 itu adalah “pesan” awal Putin tetang apa yang akan dilakukan selanjutnya, jika benar Ukraina menjadi bagian dari NATO.
Itu adalah peringatan dini, dengan pencaplokan wilayah Ukraina menjadi bagian dari Rusia dan sekaligus “unjuk gigi” Rusia.
Peringatan itu tidak mendapat perhatian serius dari Barat.
Kini dunia menyaksikan invasi Ukraina Putin dengan mengancam siap perang nuklir.
Kelakuan itu banyak analisanya, termasuk sebagian pengamat dengan menggunakan “mad man theory” -teori orang gila ( Rachman 2022, Braw 2015, Taylor 2022).
*) PENULIS adalah Sosiolog, Guru Besar Universitas Syiah Kuala.
KUPI BEUNGOH adalah rubrik opini pembaca Serambinews.com. Setiap artikel menjadi tanggung jawab penulis.
BACA ARTIKEL KUPI BEUNGOH LAINNYA DI SINI
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/ahmad-humam-hamid-profesor.jpg)