Kupi Beungoh
Bu Ana dan Mimpi-Mimpi Lintang dari Sarah Raja
Sosok Bu Muslimah yang diceritakan Andrea Hirata dalam novelnya Laskar pelangi cukup menarik perhatian
Disamping mempunyai semangat tinggi, Bu Ana juga mempunyai sejuta akal cerdik yang membuat takjub. Diantaranya beliau menyulap salah satu rumah untuk dijadikan “Sekolah” tempat beliau mengajar.
Dimana ruang tamu bangunan tersebut dibagi menjadi dua bilik. Bilik pertama dijadikan sebagai ruang mengajar untuk anak-anak setingkat TK dan ruang kedua diperuntukkan untuk anak setingkat SD.
Sedangkan meja belajarnya terbuat dari tiga papan yang dipaku-menyatu berbentuk U, dengan panjang 4 meter. Mirip tempat “Makan Bebek”, hanya saja posisinya dibalik kebawah.
Tentang Anak-anak, kehausan akan ilmu pengetahuan terpancar dari ketekunan dalam melahap setiap materi yang diberikan oleh Bu Ana.
Hal ini mengingatkan kita kepada sosok Lintang (Laskar Pelangi), seorang murid jenius, yang bercita – cita ingin menjadi seorang ahli Matematika.
Baca juga: Selangkah Lagi! RSUZA Jadi Rumah Sakit Penyelenggara Transplantasi Ginjal
Bu Muslimah sendiri begitu terkesima akan kemampuan yang dimiliki Lintang.
Dia mampu memecahkan soal – soal Matematika, hanya dengan menutup mata (menghitung dalam imajinasi) tanpa perlu menghitungnya secara manual.
Disamping kegeniusan yang dimilikinya, Lintang merupakan seorang anak yang bersungguh - sungguh dalam menuntut ilmu.
Ia harus mendayung berpuluh-puluh kilometer sepeda orang dewasa menuju sekolah setiap harinya. Andrea dalam narasi awal novelnya menjelaskan.
“Anak ini berbau seperti karet terbakar. Bau hangus yang kucium tadi ternyata bau sandal Cunghai, yakni sandal yang dibuat dari ban mobil, yang aus karena ia terlalu jauh mengayuh sepeda”.
Pernah juga suatu pagi, Lintang harus berpapasan dengan Buaya yang sedang “tertidur” di tengah jalan.
Walau menyadari resiko yang besar di depan mata, hati nya tetap teguh untuk tidak bolos sekolah, meskipun harus tiba saat kelas akan berakhir.
Kisah perjuangan Bu Ana untuk mencerdaskan anak didiknya, juga mirip sekali dengan kisah Bu Muslimah yang dijelaskan oleh Andrea.
Dua orang guru yang terus berjuang dengan menutup mata, terus melemparkan senyuman riang dan mencoba bertahan melawan keadaan yang begitu sulit.
Baca juga: Prof Marwan Resmi Jadi Rektor USK, Gubernur Ucap Selamat
Hanya demi menanamkan secercah mimpi dan harapan kedalam jiwa anak-anak mereka. Bahwa masa depan adalah milik mereka, Sang Pemimpi.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/dr-ridhalul-ikhsan-sp-pd_pengurus-ikatan-dokter-indonesia-idi-cabang-aceh-utara.jpg)