Jumat, 24 April 2026

Kupi Beungoh

Putin, Ukraina, dan Perang Dunia 3 (XI) - Teater Perang Ukraina, Islam vs Islam

Divisi ketiga adalah divisi Crimea, yang merupakan muslim dari wilayah Crimea yang telah direbut oleh Rusia pada tahun 20 14.

Editor: Zaenal
SERAMBINEWS.COM/Handover
Prof. Dr. Ahmad Human Hamid, MA, Sosiolog dan Guru Besar Universitas Syiah Kuala Banda Aceh. 

Oleh: Ahmad Humam Hamid*)

PENJELASANNYA dan kenyataannya hanya satu.

Musuh dari musuh saya adalah kawan saya, dan musuh dari kawan saya adalah musuh saya.

Itulah kini yang sedang menjadi fenomena perang sesama Islam di Ukraina.

Chechnya Islam berperang melawan Chechnya Islam, Suriah Islam berperang melawan Suriah Islam.

Siapa yang sesungguhnya berperang? Kristen Ortodoks Ukraina melawan Kristen Ortodoks Rusia.

Mungkin publik banyak yang tidak tahu dengan kehadiran dan berbagai statemen dari Ramzan Kadyrov, pemimpin negara bagian Rusia yang disebut bersama puluhan ribu tentaranya sedang bersiap hendak meluluhlantakkan Kiev dan Ukraina.

Padahal di sebelah sana, di pihak Ukraina, telah menunggu saudara seagama Ramzan, muslim, dari Chechnya, yang telah juga siap dengan segala resiko.

Tiga divisi muslim yang paling terkenal di pihak Ukraina adalah  pertama, Divisi Sheik Mansur-ditabalkan kepada pahlawan dan pejuang Chechnya yang berjuang melawan Imperium Rusia di bawah ratu Chaterina Agung pada abad ke 18.

Divisi kedua adalah Divisi Dzhokhar Duyadev- nama yang ditabalkan kepada  Presiden pertama Chechnya- Republik Ichkeria, yang memisahkan diri dari Uni Soviet pada tahun 1991, dan dibunuh oleh pasukan Putin pada tahun 1996.

Duyadev tewas ketika Putin melancarkan invasi penaklukan Chechnya untuk kembali menjadi bagian dari Rusia pada tahun 1996.

Pembunuhan Duyadev dirancang dengan sangat sempurna oleh pasukan Putin pada waktu itu, dimulai dengan pelacakan dengan pesawat pengintai dan pencari jejak melalui telepon genggam Duyadev.

Lalu dua pesawat pembom SU-24 MR dan SU-25, yang kemudian meluncurkan dua missil yang dikendalikan dengan laser yang kemudian membuat dia terbunuh.

Divisi ketiga adalah divisi Crimea, yang merupakan muslim dari wilayah Crimea yang telah direbut oleh Rusia pada tahun 20 14.

Mereka umumnya berasal dari suku Tatar, yang merupakan penduduk asli Crimea dengan jumlah sekitar 15 persen dari total penduduk wilayah tersebut.

Suku Tatar di Crimea adalah Islam Sunni semenjak abad ke 13, ketika ditaklukkan oleh Panglima Perang muslim Mongol, Batu Khan, cucu Jengis Khan.

Wilayah Batu Khan terbentang dari Afghanistan sampai ke Turki dan ia mengalahkan dan menguasai Rusia pada abad ke 13.

Kecuali divisi Crimea, dua divisi - Mansur Shah, dan Duyadev, terdahulu adalah  bagian pejuang Chechnya, yang masih terus berjuang melawan pendudukan Rusia di Chechnya sampai hari ini.

Mereka berangkat secara suka rela dari Chechnya ke Ukraina untuk memerangi musuh mereka, pasukan Putin dari Rusia.

Sebagian kecil dari mereka adalah pejuang muslim dari Georgia dan Belarus yang simpati dengan perjuangan Chechnya, dan kini berpeluang menuntut balas terhadap Rusia.

Bagi muslim Chechnya secara keseluruhan ini adalah sebuah tragedi besar.

Bagaimana mungkin para pejuang muslim Chechnya yang dahulunya adalah pengikut setia Ahmad Kaydirov- ayah Ramzan Kaydirov, kini berhadapan dengan anaknya yang berada di sebelah Rusia.

Ahmad Kaydirov, adalah pejuang tangguh Chechnya yang kemudian membelot dan pro-Rusia setelah agresi Putin ke 2 yang membuat ibu kota Grozny rata dengan tanah, dengan korban rakyat sipil luar biasa.

Oleh Putin kemudian ia dijadikan pemimpin pertama Chechnya.

Setelah dua kali pergantian dalam masa dua tahun, Ramzan Kaydirov kemudian diangkat oleh Putin pada tahun 2007, menjadi pemimpin resmi Republik Chechnya sebagai bagian dari Republik Rusia Serikat.

Dia terpilih lagi pada tahun 2011, dan ia kemudian melanjutkannya sampai sekarang.

Adakah kelompok Islam lain yang berperang untuk kedua pihak dalam perang Ukraina?

Jawabannya ada, dan siapa mereka?

Keterlibatan Rusia dalam perang di Suriah juga membawa keuntungan besar bagi Putin.

Komunikasi Putin dengan Presiden Suriah Bashir Assad, telah memberikan peluang kepada tentara Suriah untuk bergabung dengan tentara Rusia dalam perang Ukraina.

Dengan gaji 3.000 dollar AS per bulan, sekira 45 juta Rupiah, yang juga setara dengan  50 kali gaji bulanan tentara Suriah, tidak kurang dari 16.000 tentara Suriah kini telah mendaftar dan segera akan berangkat.

Putin sendiri kepada media telah mengakui hal itu.

Apa kelebihan tentara Suriah?

Mereka telah terlatih dengan baik dalam perang kota, ketika pasukan Rusia dan pasukan Assad merbut Aleppo.

Hampir dapat dipastikan mereka adalah alumni perang Aleppo yang selamat, dan dapat diandalkan oleh Putin untuk merebut Kiev (Guardian, Maret 2022).

Sama dengan Rusia yang mendapat pasukan tambahan dari Suriah, Ukraina juga tak kurang.

Ratusan Kelompok Hayat Tahrir al-Sham, dan mungkin ribuan dari berbagai kelompok anti Rusia yang selama ini berperang melawan rezim Assad dan Rusia di Suriah, melalui jalan darat via Turki juga dikabarkan telah tiba di Ukraina (AlMayeden, Maret 2022).

Berbagai laporan tidak resmi menyebutkan bahwa berbagai faksi di Suriah yang berjuang melawan Assad yang didukung oleh Putin, telah mengirimkan pasukannya ke Ukraina.

Rusia kini menuduh, berbagai kelompok itu sebagai “teroris” dari Syiria, kini sedang didanai AS untuk beralih ke Ukraina.

Rusia menuduh, hal yang sama pernah dilakukan Presiden Obama, ketika membantu kelompok sisa Al Qaeda untuk memerangi dan mejatuhkan rezim Bashir al Asad di Suriah.

Baca juga: Putin, Ukraina, dan Perang Dunia 3 (I): Denazifikasi dan Demiliterisasi Ukraina

Baca juga: Putin, Ukraina, dan Perang Dunia 3 (II), Emosional atau Logiskah Alasan Putin?

Baca juga: Putin, Ukraina, dan Perang Dunia 3 (III), Benarkah Putin Reinkarnasi Ivan ‘Ceulaka’ the Teribble?

Islam di Rusia dan Ukraina

Bagaimana tanggapan warga Rusia dan muslim Ukraina?

Untuk diketahui jumlah umat Islam di Rusia berada pada angka 14 juta jiwa, kira-kira 10 persen dari total jumlah penduduk Rusia.

Sementara itu, jumlah muslim di Ukraina adalah 1.1 persen dari total penduduk, atau 1.5 juta jiwa.

Sebagai warga negara yang setia dengan negerinya, tentu saja para muslim di kedua negeri itu akan memilih negaranya  masing-masing.

Mufti Besar Islam Ukraina, Said Ismagilov misalnya, telah menampilkan foto terbarunya yang menunjukan pergantian baju resmi mufti hariannya, dengan baju angkatan bersenjata Ukraina.

Ismagilov menyebut kebrutalan Rusia di Suriah memberikan justifikasi baginya sesuai perintah Alquran untuk mengenyahkan Putin dan pasukannya.

Senada dengan Said Ismagilov, Mufti Islam Tatar Crimea, Ayder Rustemov yang wilayahnya kini telah berhasil diduduki dan dikuasai oleh pasukan Rusia juga telah menyerukan kepada tentara Rusia muslim untuk tidak menyerang negerinya, Ukraina.

Hal yang sangat berbeda keluar dari beberapa mufti negara bagian Rusia yang lain seperti dari Tatarstan, Bashkortostan, dan juga mufti Moskow, yang sepenuhnya mendukung langkah Vladimir Putin.

Baca juga: Putin, Ukraina, dan Perang Dunia 3 (X) - Islam, Ukraina, dan Cerita Abbas dari Ramallah

Baca juga: Ucapkan Takbir saat akan Bantu Pasukan Rusia, Pasukan Chechnya Malah Disebut Keluar dari Agama Islam

Baca juga: Kilas Balik Sejarah Kedekatan Kedekatan Rusia dan Republik Chechnya, Dulu Pernah Bermusuhan

Alat Pertikaian Barat dan Timur

Kemana semua itu akan berakhir?

Dalam sejarahnya, ummat Islam selalu berada dalam sebuah kompleksitas yang cukup pedas.

Sejarah ummat Islam abad ke 20, terutama setelah runtuhnya kerajaan Ottoman Turki, adalah sejarah tentang menjadi alat dari kekuatan dunia yang bertikai, terutama pertikaian antara Barat dan Timur, dahulunya, dan kini antara AS dan Rusia.

Berbagai teater perang dan kekerasan global abad ke 20, dan kini awal abad 21, jelas tampak dengan mata telanjang betapa perang antara kedua kekuatan itu adalah perebutan kepentingan dan kelanjutan hegemoni yang tak pernah henti.

Pilihannya tidak banyak, hanya dua Islam yang terjepit atau Islam yang menjadi alat. 

Ketika perang terjadi umat Islam yang berperang, baik dengan non-Islam, maupun sesama Islam, membawa nama Allah SWT dan Alquran.

Seringkali ketika perang selesai mereka ditinggalkan, dimarjinalkan, dan bahkan tak jarang dijadikan musuhnya, dan tak jarang musuh masyarakat global sekaligus.

Banyak pelajaran yang tak cukup kertas untuk dituliskan, dan umat Islam tak pernah jera dengan pengalaman itu.

Mungkinkah ulama dari Indonesia, bahkan dari Aceh mampu memberi justifikasi fikih tentang adagium musuh dari musuh saya adalah kawan saya, ataupun musuh dari kawan saya adalah musuh saya, walaupun pihak yang saya pilih adalah nonmuslim, sementara lawannya adalah muslim?

Kini teater perang, darah, dan kekerasan negara adi kuasa dan  itu sedang dipertunjukkan di Ukraina, dan tragisnya, ada darah ummat Islam di sana.(BERSAMBUNG)

*) PENULIS adalah Sosiolog, Guru Besar Universitas Syiah Kuala.

KUPI BEUNGOH adalah rubrik opini pembaca Serambinews.com. Setiap artikel menjadi tanggung jawab penulis.

BACA ARTIKEL KUPI BEUNGOH LAINNYA DI SINI

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved