Kamis, 11 Juni 2026

Kupi Beungoh

Catatan Perjalanan Ramadhan - Turki itu Istanbul, Istanbul Bukan Turki

Istanbul dan Turki - Pertumbuhan ekonomi Turki selama lebih dari 35 tahun, 1980-2017 sangat berasosiasi dengan kelompok provinsi harimau Anatolia itu

Tayang:
Editor: Muhammad Hadi
Dok Pribadi
Ahmad Humam Hamid, Sosiolog, Guru Besar Universitas Syiah Kuala 

Yang dimaksud adalah agama justeru menjadi pendorong dan bahkan menjadi basis dalam kegiatan perdagangan.

Bedanya, di Eropa Barat pada masa itu kapitalis dan kapitalisme tampil dengan nilai-nilai Protestan, sebaliknya di Turki kapitalisnya tampil dengan nilai-nilai Islami.

Fenomena ini seringkali diistilahkan dengan tampilnya kaum Kalvinist Anatolia yang membuat ekonomi Turki bangkit.

Bila dikaitkan dengan suasana Ramadhan yang ada di kawasan harimau Anatolia, dan bahkan di sebagian besar kawasan sepanjang pantai Laut Hitam, apa yang terjadi di Istanbul tidak terjadi di kawasan ini.

Tepatnya di kawasan harimau Anatolia ini, kemajuan, modernitas, dan tumbuhnya kehidupan industrial tetap saja terikat dengan nilai-nilai islami yang sangat kental.

Baca juga: VIDEO Putin Klaim Menang di Mariupol dan Stop Gempur Relawan Ukraina yang Sembunyi di Pabrik Baja

Di lain pihak, penampilan kehidupan keseharian di kawasan Harimau Anatolia juga sama sekali berbeda dengan kawasan “enclave” Carsamba, yang mencerminkan islam yang sangat klasik, periode Ottoman.

Suasana kehidupan urban industrial yang toleran terhadap keragaman tentu saja ada di kawasan harimau Anatolia, akan tetapi, masyarakat dan nilai-nilai yang berkembang sama sekali tidak tercerabut dari nilai-nilai agama yang telah tertanam lebih dari 1.000 tahun.

Penentu Kemenangan Erdogan

Pada hakekatnya, naiknya Erdogan menjadi Wali Kota Istanbul yang kemudian menjadikannya sebagai Presiden Turki, tidak terlepas dari kelompok pengusaha kaya Anatolia.

Berbagai dana zakat, waqaf dan infak yang digelontorkan oleh pengusaha Anatolia dalam bentuk bantuan sosial, bantuan langsung, maupun bantuan modal terhadap kelompok miskin perkotaan, dan golongan menengah bawah Istanbul berperan besar terhadap kemenangan Erdogan.

Itulah cerita awal mula naiknya Erdogan menjadi Wali Kota Istanbul.

Kepiawaian politik Erdogan secara perlahan mampu menarik pengusaha-pengusaha muslim Anatolia yang agamais untuk mendapatkan kontrak-kontrak besar kota Istanbul.

Ketika Erdogan mulai menjabat presiden pada tahun 2002, ia menjalankan kebijakan ekonomi yang sangat propengusaha domestik, yang mengakibatkan ekspansi kelompok pengusaha Harimau Anatolia semakin menggelembung dalam kancah dunia usaha nasional Turki.

Tidak dapat dibantah, secara umum kejayaan Partai AKP-nya Erdogan berhubungan erat dengan berbagai kemajuan dunia usaha para Kalvinist Anatolia ini.

Mereka tampil dalam kancah dunia usaha Turki yang mampu menjadi partner berbagai mitra internasional.

Kini berbagai usaha konstruksi, industri, jasa, dan perbankan Turki telah melakukan ekspansi besar ke kawasan Balkan, Timur Tengah, dan bahkan ke sejumlah negara bekas Uni Soviet di Kaukasus dan Asia Tengah.

Apakah benar atau cocokkah ungkapan julukan Kalvinist Anatolia yang ditabalkan kepada kawasan atau pengusaha Anatolia?

Dapatkah prestasi sukses, bahkan kaya dalam perdagangan dan berbagai kegiatan ekonomi lainnya, membuat kawasan atau kelompok itu meninggalkan nilai-nilai Islami?

Sebagai antitesis Istanbul, pergilah ke Kota Konya, salah satu jantung Harimau Anatolia.

Kota ini adalah kota yang sangat bersejarah, karena merupakan ibu Kota Kerajaan Bani Seljuk, yang memberikan landasan bagi tumbuhnya imperium Ottoman ratusan tahun yang lalu.

Di kota ini pula terdapat makam ulama dan sastrawan besar, Maulana Imam Jalaluddin Rumi, yang sangat dihormati, dan kebesarannya diakui lintas negara dan agama.

Baca juga: Ramzan Kadyrov Dipromosikan Jadi Letnan Jenderal Militer Rusia, Langsung Berangkat ke Mariupol

Pergilah ke Konya- kota dengan penduduk lebih dari 2 juta jiwa, pada bulan Ramadhan.

Apa yang akan ditemui? Apapun yang ada di istanbul pada bulan Ramadhan yang berlawanan dengan ajaran agama, tidak akan ada di Konya.

Tidak ada restoran yang buka siang hari, apalagi minuman keras, dan hingar bingar musik di cafe cafe.
Suasana puasa benar-benar sangat terasa, siang dan malam.

Hampir semua biro perjalanan menganjurkan tamunya untuk berpakaian sopan di Konya, bahkan dalam bulan biasa sekalipun.

Konya adakah tipikal yang paling ekstrim yang berlawanan secara diametral dengan istanbul.

Selanjutnya berbagai kota dan kawasan yang terletak pada suatu garis indeks kedua kota, semakin menunjukkan kecendrungan yang menunjukkan kesesuaian antara modernitas dan nilai-nilai agama.
Dan kontestasi itu sampai saat ini belum selesai.

Baca juga: Sosok Suami Baru Rohimah, Ternyata Zeki Bayrak Iskander Pengusaha Tajir, Punya Perkebunan di Turki

Kini bagi para pengunjung yang melihat suasana puasa di Turki pada bulan Ramdhan, atau melihat bagaimana Islam dan modernitas dalam dua wajah, pergilah ke Turki.

Pilihannya bisa Istanbul atau Konya dan kawasan-kawasan sejenis Konya.

Sebaiknya, keduanya dikunjungi saja.

*) PENULIS adalah Sosiolog, Guru Besar Universitas Syiah Kuala.

KUPI BEUNGOH adalah rubrik opini pembaca Serambinews.com. Setiap artikel menjadi tanggung jawab penulis.

BACA ARTIKEL KUPI BEUNGOH LAINNYA DI SINI

Halaman 4/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved