Kupi Beungoh
Catatan Perjalanan Ramadhan - Turki itu Istanbul, Istanbul Bukan Turki
Istanbul dan Turki - Pertumbuhan ekonomi Turki selama lebih dari 35 tahun, 1980-2017 sangat berasosiasi dengan kelompok provinsi harimau Anatolia itu
Oleh: Ahmad Humam Hamid*)
Ketika Istanbul terbayang seperti sekeping Eropa, bahkan kota-kota besar di Eropa, dapatkah kemudian Istanbul dapat dijadikan sebagai ukuran -seperti perilaku publik dalam bulan Ramadhan-, yang mewakili seluruh Turki secara keseluruhan?
Dapatkah kemudian diambil kesimpulan bahwa kawasan yang luasnya 3 persen Eropa telah total mendominasi kawasan Turki Asia yang mempunyai penduduk mayoritas, dan luas wilayah 97 persen.
Jawabannya adalah tidak.
Konsep sekuler mendapat tantangan yang luar biasa.
Sebagai sebuah pikiran revolusioner yang sangat bertolak belakang dengan kultur Ottoman, Mustafa Kemal Ataturk menerapkan perobahan “dari atas” yang sangat berlawanan dengan apa yang terjadi dengan penerapan konsep sekular revolusi Perancis yang mendapat dukungan msyarakat luas yang sangat kuat.
Dengan umur kekuasaan Attaturk selama 15 tahun ada kawasan yang telah menjadi “barat”-layaknya Istanbul dengan sejumlah kota-kota tertentu, dan ada pula yang bertahan, dengan berbagai konsekwensi yang dialami oleh warga dan tokoh, bahkan para ulama besar.
Baca juga: Shalat Tarawih Perdana di Masjid Hagia Sophia Turki Dalam 88 Tahun
Perlawanan itu telah terjadi semenjak Ataturk masih hidup sampai dengan hari ini, seperti apa yang sedang dikerjakan oleh Recep Tayyip Erdogan.
Ada sebuah “pulau kecil” di tengah-tengah Istanbul yang “barat “ -di kawasan Fatih, yang tak pernah berhenti membuat perlawanan “diam” terhadap Kemalisme yang membuat kawasan itu unik di Istanbul.
Nama kawasan itu adalah Carsamba- dijuluki karena warganya berasal dari wilayah Casambra di kawasan Samsun dengan gaya hidup sehari-hari yang jelas sangat kontradktif dengan apa yang terjadi di lautan sekular Istanbul.
Sebagian menyebutkan Attaturk membiarkan kawasan ini apa adanya yang kehidupan religiusnya sangat menonjol.
Apapun yang terjadi di berbagai tempat lain di Istanbul, relatif tidak ditemui pada komunitas Casambra di kawasan Fatih itu.
Pakaian lelaki dan perempuan adalah pakaian Ottoman klasik yang islami.
Kegiatan perdagangan yang dilakukan hampir semuanya tidak bertentangan dengan ketentuan agama, bahkan barang-barang yang diperjualbelikan pun berurusan dengan kehidupan Islami yang klasik.
Ada siwak, ada berbagai baju islami, minyak wangi nonalkohol, dan berbagai kerajinan cinderamata yang juga islami.
Harimau Anatolia
Apakah ada Casambra lain di Turki?
Bukan hanya ada, akan tetapi cukup banyak.
Hanya saja jika di Casambra terkenal dengan ketat, klasik, dan nyaris tradisonal, di berbagai tempat lain di wilayah Anatolia, terdapat masyarakat yang didominasi oleh mayoritas yang terpelajar, maju secara ekonomi, dan sangat islami.
Kawasan yang terdiri dari beberapa provinsi dan kota besar di Anatolia itu, dalam beberapa dekade terakhir telah dijuluki sebagai “harimau Anatolia”- sebuah istilah yang berasosiasi dengan pembangunan dan pertumbuhan ekonomi luar biasa sejumlah negara dan kawasan Asia, yakni Korea Selatan, Taiwan, Hongkong, dan Singapore.
Paling kurang ada tujuh provinsi inti di wilayah Anatolia yang sangat hebat pembangunan dan pertumbuhan ekonominya, dan bahkan menjadi tumpuan ekonomi Turki secara keseluruhan.
Provinsi-provinsi itu adalah; Adıyaman, Çorum, Denizli, Edirne, Gaziantep, Kahramanmaraş,dan Konya.
Ketujuh provinsi itulah yang dijuluki dengan harimau Anatolia, dan mejadi pusat industri Turki, meninggalkan kawasan-kawasan industri tradisonal Turki sebelumnya seperti Istanbul, Kayseri, Ankara, Izmir, Adana, dan lain-lain.
Baca juga: Catatan Perjalanan Ramadhan - Istanbul, Rue de la Roquette, Haarlemmerstraat, dan St. Mar’sk Square
Pertumbuhan ekonomi Turki selama lebih dari 35 tahun, 1980-2017 sangat berasosiasi dengan kelompok provinsi harimau Anatolia itu.
Ekspor tahun 1980 misalnya yang hanya bernilai 2,9 miliar dolar telah meroket menjadi 157 miliar dolar pada tahun 2017.
Hal ini diikuti pula oleh naiknya pendapatan per kapita yang hanya 2.526 dolar pada tahun 1980 menjadi 10,000 dolar pada saat yang sama, yakni 2017.
Pertumbuhan industri dan eskpor Turki yang kontributor terbesarnya adalah kawasan harimau Anatolia telah mempercepat pertumbuhan kawasan perkotaan, yang memperbesar arus urbanisasi Turki.
Hari ini jumlah penduduk Turki yang tinggal di kawasan perkotaan lebih dari 76 persen.
Kelompok migran ini turut berkontribusi terhadap sektor jasa dari hanya 26 persen pada tahun 1960 menjadi 64 persen lebih pada tahun 2014.
Kehebatan tumbuhnya kawasan harimau Anatolia ini telah mendapat pengakuan dari Bank Dunia, yang menyitir sebagai cerita sukses industrialisasi dan urbanisasi negara pendatang baru sistem ekonomi pasar bebas.
Peran besar pertumbuhan itu berkaitan kebijakan liberalisasi ekonomi, dan investasi skala besar properti dan perumahan.
Apa yang tidak dilaporkan oleh Bank Dunia adalah pemain besar yang berada di balik harimau Anatolia adalah tampilnya kelas pengusaha muslim yang girih, cakap, dan sangat memegang teguh nilai-nilai dan praktek kehidupan islami.
Perubahan kebijakan Turki dari kebijakan industri substitusi impor kepada liberalisasi perdagangan yang dimulai pada masa kepemipinan Turgut Ozal.
Baca juga: Turki Mendadak Lakukan Operasi Militer ke Negara Timur Tengah Ini, Apa yang Mereka Incar?
Perdana Menteri yang kemudian menjadi presiden itu yang dianggap islamis inilah yang kemudian memberi jalan kepada bangkitnya pengusaha muslim yang menjadi pemain penting dalam kawasan harimau Anatolia.
Kebijakan liberalisasi perdaganggannya memberi peluang kepada pengusaha Anatolia, yang kemudian tumbuh dengan cepat, menyaingi kelompok pengusaha nasional lainnya, terutama dari Istanbul.
Tidak kurang harimau Anatolia dalam banyak hal tidak hanya dikaitkan dengan nama kawasan, akan tetapi juga sering dijuluki baik kepada pedagang itu sendiri, atau kelompok-kelopok pengusaha besar yang sudah menyaingi, bahkan melebihi para pengusaha di kawasan sekuler seperti Istanbul, izmir, dan lain-lain.
Bila dikaitkan kehidupan Ramadhan, dengan memakai ukuran Istanbul vs komunitas muslim Carsamba di Fatih Istanbul, di manakah skala posisi sekularis-relegious masyarakat kawasan-kawasan dominan harimau Anatolia ini?
Tidak ada sebuah ukuran kuantitatif yang pernah dipakai sampai dengan hari ini yang dapat dipakai untuk mengukur kedua hal itu.
Banyak peneliti menyebutkan kemajuan kawasan itu yang diperankan oleh pengusaha muslim taat, dinyatakan dalam sebutan kategoris.
Labelnya penduduk kawasan harimau Anatolia itu konservatif dalam perilaku agama dan sosial, namun sangat liberal dalam hal ekonomi.
Ini adalah sebuah contoh antitesis dari kerangka Ataturk yang menyebutkan seolah-olah kemajuan itu harus seratus persen berpindah dari nilai-nilai agama, bahkan harus menjiplak nilai-nilai sekular Eropa.
Baca juga: Putin, Ukraina, dan Perang Dunia 3 (XVI) - Peringatan Untuk Biden, Putin, dan Tsar Bomba 50 Megaton
Penjelasan mengenai fenomena ini sering dikaitkan dengan temuan kemajuan kelompok protestan di Eropa, terutama kelas pengusaha, pada abad ke 18 dan 19 yang dikemukakan oleh Max Weber di bawah label “etika protestan”.
Apa yang dimaksudkan oleh Weber adalah kebangkitan kapitalis di Jerman, dan Eropa Barat pada umumnya tidak lain daripada penerapan nilai-nllai agama Protestan dalam kehidupan keseharian yang dianggap sebagai ibadah yang sangat bernilai.
Etika Protestan menekankan kerja keras, disiplin, dan hemat ketika mereka bekerja dalam dunia sekuler.
Dalam kaitan dengan kapitalis, kaum Protestan itu bekerja keras dalam mengembangkan perusahaan, perdagangan, dan juga investasi.
Kelompok inti yang lebih dalam nilai-nilai etika Protestannya dan menjadi kapitalis yang unggul secara lebih spesifik disebut sebagai kaum Kalvinis, yakni pengukut Johonnes Calvin, pendeta Protestan Swiss yang menekankan kepada etos kerja, ilmu pengetahuan, sistem perbankan, dan seni.
Apa yang terjadi hari ini dengan para kapitalis muslim di kawasan harimau Anatolia adalah persis seperti apa yang terjadi pada kelompok kapitalis Protestan pada abad ke 18 dan 19 yang diuraikan oleh Weber.
Yang dimaksud adalah agama justeru menjadi pendorong dan bahkan menjadi basis dalam kegiatan perdagangan.
Bedanya, di Eropa Barat pada masa itu kapitalis dan kapitalisme tampil dengan nilai-nilai Protestan, sebaliknya di Turki kapitalisnya tampil dengan nilai-nilai Islami.
Fenomena ini seringkali diistilahkan dengan tampilnya kaum Kalvinist Anatolia yang membuat ekonomi Turki bangkit.
Bila dikaitkan dengan suasana Ramadhan yang ada di kawasan harimau Anatolia, dan bahkan di sebagian besar kawasan sepanjang pantai Laut Hitam, apa yang terjadi di Istanbul tidak terjadi di kawasan ini.
Tepatnya di kawasan harimau Anatolia ini, kemajuan, modernitas, dan tumbuhnya kehidupan industrial tetap saja terikat dengan nilai-nilai islami yang sangat kental.
Baca juga: VIDEO Putin Klaim Menang di Mariupol dan Stop Gempur Relawan Ukraina yang Sembunyi di Pabrik Baja
Di lain pihak, penampilan kehidupan keseharian di kawasan Harimau Anatolia juga sama sekali berbeda dengan kawasan “enclave” Carsamba, yang mencerminkan islam yang sangat klasik, periode Ottoman.
Suasana kehidupan urban industrial yang toleran terhadap keragaman tentu saja ada di kawasan harimau Anatolia, akan tetapi, masyarakat dan nilai-nilai yang berkembang sama sekali tidak tercerabut dari nilai-nilai agama yang telah tertanam lebih dari 1.000 tahun.
Penentu Kemenangan Erdogan
Pada hakekatnya, naiknya Erdogan menjadi Wali Kota Istanbul yang kemudian menjadikannya sebagai Presiden Turki, tidak terlepas dari kelompok pengusaha kaya Anatolia.
Berbagai dana zakat, waqaf dan infak yang digelontorkan oleh pengusaha Anatolia dalam bentuk bantuan sosial, bantuan langsung, maupun bantuan modal terhadap kelompok miskin perkotaan, dan golongan menengah bawah Istanbul berperan besar terhadap kemenangan Erdogan.
Itulah cerita awal mula naiknya Erdogan menjadi Wali Kota Istanbul.
Kepiawaian politik Erdogan secara perlahan mampu menarik pengusaha-pengusaha muslim Anatolia yang agamais untuk mendapatkan kontrak-kontrak besar kota Istanbul.
Ketika Erdogan mulai menjabat presiden pada tahun 2002, ia menjalankan kebijakan ekonomi yang sangat propengusaha domestik, yang mengakibatkan ekspansi kelompok pengusaha Harimau Anatolia semakin menggelembung dalam kancah dunia usaha nasional Turki.
Tidak dapat dibantah, secara umum kejayaan Partai AKP-nya Erdogan berhubungan erat dengan berbagai kemajuan dunia usaha para Kalvinist Anatolia ini.
Mereka tampil dalam kancah dunia usaha Turki yang mampu menjadi partner berbagai mitra internasional.
Kini berbagai usaha konstruksi, industri, jasa, dan perbankan Turki telah melakukan ekspansi besar ke kawasan Balkan, Timur Tengah, dan bahkan ke sejumlah negara bekas Uni Soviet di Kaukasus dan Asia Tengah.
Apakah benar atau cocokkah ungkapan julukan Kalvinist Anatolia yang ditabalkan kepada kawasan atau pengusaha Anatolia?
Dapatkah prestasi sukses, bahkan kaya dalam perdagangan dan berbagai kegiatan ekonomi lainnya, membuat kawasan atau kelompok itu meninggalkan nilai-nilai Islami?
Sebagai antitesis Istanbul, pergilah ke Kota Konya, salah satu jantung Harimau Anatolia.
Kota ini adalah kota yang sangat bersejarah, karena merupakan ibu Kota Kerajaan Bani Seljuk, yang memberikan landasan bagi tumbuhnya imperium Ottoman ratusan tahun yang lalu.
Di kota ini pula terdapat makam ulama dan sastrawan besar, Maulana Imam Jalaluddin Rumi, yang sangat dihormati, dan kebesarannya diakui lintas negara dan agama.
Baca juga: Ramzan Kadyrov Dipromosikan Jadi Letnan Jenderal Militer Rusia, Langsung Berangkat ke Mariupol
Pergilah ke Konya- kota dengan penduduk lebih dari 2 juta jiwa, pada bulan Ramadhan.
Apa yang akan ditemui? Apapun yang ada di istanbul pada bulan Ramadhan yang berlawanan dengan ajaran agama, tidak akan ada di Konya.
Tidak ada restoran yang buka siang hari, apalagi minuman keras, dan hingar bingar musik di cafe cafe.
Suasana puasa benar-benar sangat terasa, siang dan malam.
Hampir semua biro perjalanan menganjurkan tamunya untuk berpakaian sopan di Konya, bahkan dalam bulan biasa sekalipun.
Konya adakah tipikal yang paling ekstrim yang berlawanan secara diametral dengan istanbul.
Selanjutnya berbagai kota dan kawasan yang terletak pada suatu garis indeks kedua kota, semakin menunjukkan kecendrungan yang menunjukkan kesesuaian antara modernitas dan nilai-nilai agama.
Dan kontestasi itu sampai saat ini belum selesai.
Baca juga: Sosok Suami Baru Rohimah, Ternyata Zeki Bayrak Iskander Pengusaha Tajir, Punya Perkebunan di Turki
Kini bagi para pengunjung yang melihat suasana puasa di Turki pada bulan Ramdhan, atau melihat bagaimana Islam dan modernitas dalam dua wajah, pergilah ke Turki.
Pilihannya bisa Istanbul atau Konya dan kawasan-kawasan sejenis Konya.
Sebaiknya, keduanya dikunjungi saja.
*) PENULIS adalah Sosiolog, Guru Besar Universitas Syiah Kuala.
KUPI BEUNGOH adalah rubrik opini pembaca Serambinews.com. Setiap artikel menjadi tanggung jawab penulis.
BACA ARTIKEL KUPI BEUNGOH LAINNYA DI SINI
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/ahmad-humam-hamid_sosiolog-guru-besar-universitas-syiah-kuala_ai.jpg)