Selasa, 28 April 2026

Kupi Beungoh

Potret Gayo dalam Perspektif Sejarah (1900 – 1950)

Ini dibuktikan dengan aneka temuan sejarah belakangan yang banyak mengungkap sisi kehidupan orang Gayo yang sebelumnya tidak tergarap secara komprehen

Editor: Mursal Ismail
For Serambinews.com
Prof Dr M Dien Madjid, Guru Besar Sejarah UIN Syarif Hidayatullah Jakarta 

Besar harapan penulis jika ada di antara pembaca yang meneruskan tema ini menjadi suatu penelitian dengan tema dan pendekatan yang lebih beragam. 

A. Pertempuran Rakyat 

Menginjak abad XIX, Aceh Tengah merupakan suatu wilayah yang masih bebas dari sentuhan kolonialis Belanda.

Kendati demikian, terdapat beberapa tokoh Perang Aceh yang pernah menyelamatkan diri ke sini, di antaranya adalah Sultan Aceh T. Muhammad Daudsyah dan Cut Nyak Dien.

Baca juga: Tour de Aceh Etape I Sukses Digelar, Parkside Gayo Petro Hotel Dukung Even Pembangkit Pariwisata

Penduduk Gayo memberikan perhatian sekaligus penjagaan terhadap kelompok-kelompok pasukan Aceh yang sedang menjalankan perang gerilya.

Pola perang ini mengandalkan pada serangan mendadak dengan cara menyergap kawanan musuh yang sedang berpatroli. 

Poin utama dari strategi gerilya di Aceh adalah penguasaan geografis yang baik.

Patroli Belanda mengandalkan eksplorasi suatu daerah secara berkelompok.

Mereka akan menyusuri persawahan, perkebunan, sisi bukit atau tepi sungai.

Di lain pihak, pasukan Aceh lebih banyak bersembunyi sembari bergerak. Jika waktunya tepat, mereka keluar dan menyerang lawannya dari jarak dekat.

Serangan ini mengandalkan kelincahan menggunakan senjata tangan, seperti parang, rencong (belati khas Aceh) bahkan tombak.

Kemunculan serangan kejutan ini tentu saja tidak bisa diantisipasi lawan dengan cepat. Di sinilah titik kelemahan pasukan Belanda.

Pasukan Aceh akan menyerang dengan tanpa ampun dan secepat mungkin akan kembali masuk ke semak-semak atau hutan. 

Meskipun dalam hampir setiap patroli, pasukan Belanda diperkuat dengan personil yang pandai membaca peta dan kondisi geografis, mereka tetap mengalami kesulitan di lapangan.

Untuk itu, mereka memperkerjakan orang lokal untuk mengumpulkan informasi seputar keberadaan pasukan Aceh sekaligus penunjuk jalan.

Halaman 2/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved