Kamis, 7 Mei 2026

Kupi Beungoh

Potret Gayo dalam Perspektif Sejarah (1900 – 1950)

Ini dibuktikan dengan aneka temuan sejarah belakangan yang banyak mengungkap sisi kehidupan orang Gayo yang sebelumnya tidak tergarap secara komprehen

Tayang:
Editor: Mursal Ismail
For Serambinews.com
Prof Dr M Dien Madjid, Guru Besar Sejarah UIN Syarif Hidayatullah Jakarta 

Ini adalah momen ketika para perwira Belanda dipaksa harus mengakui keunggulan pasukan Gayo. 

Berkaca dari kegagalan Colijn, Van Daalen, perwira Belanda lainnya, mencoba peruntungan memasuki Tanah Gayo pada 1904.

Ia tidak melewati jalan yang ditempuh Colijn, melainkan menyisir jalur memutar melewati hutan berlumut.

Zentgraaf menyebutkan bahwa pasukan ini mendaki bukit dengan susah payah.

Mereka juga sering tersesat dan kekurangan makanan. Akibatnya, mereka harus mencari sumber makanan alternatif, salah satunya dari ular phyton besar.

Pada suatu waktu, pasukan ini tersesat dan hanya bisa mengikuti jalur kawanan gajah untuk sampai di daerah terbuka.

Perkampungan pertama yang dicapainya adalah suatu desa bernama Kampung Klah.

Di sana, pasukan Van Daalen tidak mendapat perlawanan yang berat dan terus melanjutkan perjalanan menuju daerah yang ramai (Zentgraaff, 1938).

Di saat Van Daalen bersusah payah keluar hutan, sepasukan Gayo Alas sudah bersiap mencegatnya.

Salah satu yang menonjol adalah Aman Nyerang. Sebenarnya, dia bukanlah berasal dari keluarga bangsawan Aceh atau Gayo, namun keberaniannya membuat ia menjadi orang penting di desanya, Dusun Wih Jamet, Desa Linge (sekarang menjadi Kecamatan Linge).

Informasi mengenai siapa dirinya masih minim, dikarenakan dalam dokumen kolonial berjenis Koloniaal Verslag tidak dijelaskan asal usulnya.

Namun terdapat penjelasan yang menarik tentang dirinya dari Zentgraaf: 

Ama-n-Njerang was een Gajoe van ongeveer 45 jaar, opvallende figuur met grijswitten puntbaard.

Hij had eenigen invloed op de Gajoes en was betrokken in de opleving van het verzet te Linggo in 1916.

Hij was immer onverzoenlijk geweest en zwierf sinds de bezetting van het Gajoeland inde rimboe.

Bijna 20 jaar lang hield hij dit woudleven vol, en nimmer hadden onze troepen zijn gezicht gezien.

Toch kende ieder maréchaussee hem door de duidelijke omschrijving zijner gestalte, bewapening en den witten puntbaard.

Z’n vrouw en kinderen woonden in Pajong aan de Doesoenrivier.

Ontelbare malen heeft men hem gezocht, doch nimmer gevonden, en dit schiep de suggestie, dat hij „kramat" was, buiten eten en drinken kon en zich onzichtbaar kon maken.

Artinya: 

Aman Nyerang adalah orang Gayo berusia sekitar 45 tahun. Ia adalah sosok yang menonjol dengan janggut runcing berwarna abu-abu putih.

Dia memiliki kharisma di Gayo dan terlibat dalam munculnya perlawanan di Linge pada 1916.

Sulit untuk berdamai dengannya, dan ia memilih berkelana di hutan sejak Kompeni mendudukui Gayo.

Selama hampir dua puluh tahun, dia mempertahankan (hidup)  di hutan ini, dan pasukan kami tidak pernah bertemu dengannya.

Namun, setiap polisi mengenalnya dengan deskripsi yang jelas tentang perawakan, persenjataan, dan janggut runcing putihnya. Istri dan anak-anaknya tinggal di daerah Payung di Sungai Dusun.

Tidak terhitung lagi, berapa kali dia dicari, namun tidak pernah ditemukan. Ini membentuk persepsi, bahwa dia "keramat", bisa makan dan minum di luar (hutan), dan mempunyai ilmu menghilang. 

Komentar penulis Belanda di atas bersumber dari pengamatan lapangan.

Zentgraaf sendiri adalah sedikit dari wartawan Belanda yang dipekerjakan dalam patroli-patroli pasukan Belanda di Aceh.

Ia mengumpulkan reportasenya dalam satu buku yang setelah diterbitkan, diberi judul Atjeh.

Layaknya wartawan, ia selalu terdorong untuk melihat lebih dekat saat-saat genting dalam perang seperti pemandangan perang terbuka antara pasukan Aceh dengan Belanda, mengintai pergerakan musuh dari balik semak, atau langsung mengkonfirmasi pada perwira atau pasukan saat bertugas.

Dengan demikian, kualitas informasi darinya termasuk penting sebagai sumber primer Perang Aceh, termasuk ketika pasukan Belanda memasuki Tanah Gayo. 

Desa Linge merupakan suatu kampung yang terletak cukup jauh dari Takengon, ibukota Aceh Tengah, yang juga menjadi ibukota pemeintahan sipil di Gayo Alas.

Dalam ingatan orang Gayo, Linge merupakan desa yang keramat dan dihormati. Di salah satu bukit di sana, terdapat komplek pemakaman raja-raja Linge, suatu dinasti yang pernah berkuasa antara abad XI hingga menyentuh abad XX.

Kerajaan Linge, kendati belakangan menjadi bagian dari Kerajaan Aceh Darussalam, dikenal sebagai kerajaan tua yang tidak lepas dari jati diri orang Gayo.

Buntul Linge, kawasan pemakaman raja tersebut, merupakan daerah asal suku Gayo, sebelum mereka berdiaspora ke seluruh Gayo Alas.  

Dalam suatu diskusi on line di channel Yusradi TV di Youtube, Zulfikar Ahmad, seorang sejarawan Gayo, menyatakan bahwa Aman Nyerang merupakan salah satu pahlawan kebanggaan orang Gayo.

Di kalangan masyarakat Gayo, dia dikenal sebagai pejuang yang loyal terhadap kepentingan bersama. Ia rela mengasingkan diri ke pedalaman hutan, agar api perjuangan orang Gayo tetap menyala.

Kendati di dalam hutan, ia mempunyai pengikut yang terus bergerak dan membangun simpul komunikasi, sehingga ia tidak kehabisan informasi tentang rencana-rencana yang sedang atau akan dilakukan orang Belanda.

Terkait sikap penduduk Linge terhadap kedatangan Belanda, ditunjukkan melalui suatu laporan kolonial di bawah ini: 

Na nog liet westelijk deel der Gajö-Loeös bezocht te hebben, waar de hoofden van het Padang-complex en van Pasér — die zich tot dusver nog niet gemeld hadden hunne opwachting maakten, vertrok kapitein Colijn 13 den Februari via Linggö, Samarkilang, Roesép en het Meergebied naar Lho' Seumawè. In Linggö werd san onderzoek ingesteld naar de geruchten over de afzetting van Kedjoeron Tjoet (Ama-n-Tjajamani), waaromtrent bij het bestuur nog geen zekerheid bestond. Het bleek, dat inderdaad een zekere Ama-n Merliali van het geslacht Gadéng (met het geslacht van den keudjoeron één stam vormend), onder een gezocht voorwendsel, op volkomen onwettige wijze getracht had zich in des kedjoerons plaats te stellen. Ofschoon zoowel Ama-n-Tjajamai als Ama-n Merhali ons nog vijandig gezind zijn, is het buiten allen twijfel, dat eerstgenoenide de Rödjö Linggö is, daar zoogoed als alle Pengoeloe's uit zijn gebied hem als zoodanig zijn blijven erkennen. Enkele kampongs in het Linggö-gebied werden, bij de nadering van onze troepen, nog altijd door de bevolking verlaten, ofschoon er geen verzet, van eenige heteekenis geboden werd.

Artinya: 

Setelah bertandang ke bagian Barat dari Gayo Lues, di mana para pemimpin Padang dan Paser, yang belum melaporkan diri, Kapten Colijn berangkat pada 13 Februari menempuh rute Linge, Samarkilang, Rusip dan daerah Danau (Danau Laut Tawar) ke Lhok Seumawè.

Di Linge, penyelidikan mulai dilakukan terhadap rumor tentang kedudukan Kejurun Cut (Aman Cayamani), yang belum diketahui secara pasti oleh Pemerintah Hindia Belanda.

Ternyata, seorang bernama Aman Merliali dari keluarga Gadeng (yang merupakan satu suku dengan keluarga Kejurun Cut), memang, dengan alasan yang dicari, berusaha dengan cara yang sepenuhnya ilegal untuk menempatkan dirinya menguasai tahta kejurun.

Meskipun baik Aman Cayamani dan Aman Merhali masih memusuhi kita, tidak diragukan lagi bahwa yang pertama adalah Rödjö Linggö (Reje Linge), karena hampir semua penghulu di wilayahnya mendukungnya.

Beberapa kampung di wilayah Linge masih sepi penduduk saat pasukan kami mendekat, meski tidak ada perlawanan apapun yang diberikan.

Cuplikan laporan di atas, menjelaskan tentang upaya Colijn Ingin memperkeruh suasana di Lingge.

Ia mencari cara bagaimana memutuskan hubungan solid para penguasa Gayo, dan mendorong lahirnya perang saudara.

Pemerintah Hindia Belanda, melalui laporan di atas, telah mengetahui bahwa para penguasa Linge masih memandang negatif keberadaan pemerintahan kolonial.

Untuk itu, mereka perlu menemukan solusi untuk memperoleh dukungan dari penguasa setempat, salah satunya dengan mendukung kekuatan yang diduga ingin menggulingkan pemimpin yang sah.

Colijn tidak sampai berhasil, dikarenakan ia harus terus bergerak, karena penduduk Gayo menunjukkan dikap permusuhan pada Belanda.

Dengan menyebutkan rute kedatangan hingga kepulangan mulai dari Linge ke Lhok Seumawe, secara tidak langsung, Pemerintah Hindia Belanda menuliskan jalur kepulangan pasukan Colijn. 

Keberadaan Colijn di Lingge tentu saja tidak lepas dari perhatian Aman Nyerang, baik langsung maupun tidak langsung.

Tidak lama setelah kedatangan perwira Belanda ini, atau segera sesudah Van Daalen masuk ke Blangkejeren, Aman Nyerang memutuskan untuk menyembunyikan diri ke dalam hutan. Di sana, ia ditemani oleh sejumlah pasukannya, yang menjaga komunikasi dengan penduduk kampungnya atau dengan kelompok pejuang dari daerah lain. 

Salah satu skena perang yang diikuti Aman Nyerang terjadi sekitar 1916 di Serule. Perang ini diberitakan dalam harian Bataviaasch Nieuwsblad edisi 3 November 1916. laporannya sebagai berikut: 

Atjeh.— Aan het kort verslag omtrent de voornaamste gebeurtenissen in het Gouvernement Atjeh en Onderhoorigheden gedurende de maand Augustus 1916, wordt het volgende ontleend; 

Takèngön. In de Dösönvallei en Linggö dreigde in verslagmaand de politieke toestand in ongunstigen zin te veranderen. Onder den invloed van een sedert jaren doodgewaanden kwaadwillige — Ama'n Njêrang geheeten — en van een als heilig beschouwde vrouwelijke teungkoe uit de Dösön vallei, weken gedurende de vastenmaand een twaalftal lieden uit, welke zich vereenigden met de bende van Penghoeloe Möngkör. De aldus gevormde bende 23 man sterk, welke zich had voorgenomen een verzetspartij te vormen, trachtte zich van vuurwapenen te voorzien, door in den nacht van 9 op 10 Augustus een in marschbivak zijnde patrouille in het terrein ten Zuid West van Seroelö aan té vallen. 

Bij deze gelegenheid werden onzerzijds drie mindere militairen licht verwond; ter bende 3 dooden achter moest laten werd. 

Eenige dagen later werd de bende door een patrouille overvallen en van haar nog 2 leden neergelegd, waarop kort hierna van de uitgeweken kamponglieden zich er 7 kwamen melden en twee werden gevangen genomen, terwijl de vrouwelijke teungkoe met 2 verzetslieden naar de Gajö Loeös uitweken, zoodat einde van verslagmaand de bende nog slechts 7 man sterk was. 

In het begin der maand September werd bericht ontvangen dat het bendehoofd penghoeloe Möngkör door een bevoikingspatrouille was neergelegd.

Artinya:

Aceh, dari penjelasan singkat tentang peristiwa-peristiwa penting di Kegubernuran Aceh dan negeri-negeri bawahannya, sepanjang Agustus 1916, diketahui hal-hal sebagai berikut:

Takengen, Di lembah Dusun (Wih Dusun Jamat) dan Linge situasi politik terancam berubah dalam arti yang tidak menguntungkan pada bulan tersebut. Di bawah pengaruh seorang pria jahat yang telah dianggap mati selama bertahun-tahun — disebut Aman Nyerang — dan seorang teungku wanita suci dari lembah Dösön, selusin pria melarikan diri selama bulan puasa, yang bergabung dengan kelompok Penghulu Möngkör. Kelompok yang terdiri dari dua puluh tiga orang pun dibentuk, yang ditugaskan untuk melakukan perlawanan. Mereka melengkapi persenjataan dengan senjata api dengan menyerang patroli bivak yang sedang berbaris di daerah Barat Daya Seroelo (Serule) pada malam tanggal 9 sampai 10 Agustus.

Pada kesempatan ini, tiga tentara yang lebih rendah terluka ringan di pihak kami. Di samping itu, terdapat 3 orang yang meninggal di pihak Aman Nyerang. 

Beberapa hari kemudian, kelompok Aman Nyerang disergap oleh suatu patroli Belanda, yang berhasil menundukkan 2 anggotanya. Beberapa waktu kemudian, terdapat 7 orang laki-laki kampung yang diasingkan, datang melapor dan dua orang ditawan, sedangkan teungku perempuan dengan 2 pejuang perlawanan melarikan diri ke Gajö Loeos (Gayo Lues). Jadi, pada akhir bulan pelaporan, komplotan itu hanya berkekuatan 7 orang.

Pada awal September, dilaporkan bahwa kepala kelompok Penghulu Möngkör telah diberhentikan oleh patroli penduduk.

Pasukan Belanda yang ditugaskan di atas terlihat kesulitan menangkap Aman Nyerang. Meskipun mereka berhasil mengirimkan serangan balasan dan memukul mundur Aman Nyerang dengan jatuhnya dua korban di pihaknya, tidak lantas membuat pejuang Gayo ini menyerah. Patroli tetap dijadwalkan untuk mencegah kemungkinan pelebaran pengaruh Aman Nyerang. Bahkan mereka sampai harus melibatkan penduduk setempat untuk memperkuat patroli. Di sini, dapat dimaknai bahwa pasukan Kompeni mengalami ketidakpercayaan diri atau bahkan ketakutan akan serangan kejutan dari musuh. 

Di samping Aman Nyerang, pejuang Gayo lain yang namanya juga belum terlalu dikenal di panggung sejarah Indonesia, adalah Kolonel M. Din. Masa kecilnya dihiasi dengan cerita masuknya pasukan Van Daalen ke Gayo Alas, sehingga menimbulkan hasratnya untuk kelak bergabung dengan barisan panglima Gayo (pang) melawan pasukan Belanda. Ia mengasah masa belianya dengan memperdalam ilmu agama sekaligus menekuni bela diri. Senjata favoritnya adalah rencong. Di masa ini, ia juga sudah pandai mengendarai kuda. Dengan binatang ini, maka serangan yang dilancarkan ke musuh dapat dilakukan dengan cepat, seiring dengan terjangan tubuh kuda. 

Pada 1926, M. Din dipercaya memimpin pasukan yang ditugaskan menyerbu tangsi Belanda di Blangkejeren, Gayo Lues. Ia membawahi sekitar 200 pasukan yang di antaranya adalah para veteran Perang Aceh. Tidak menutup kemungkinan, usia pasukan M. Din lebih tua dari komandannya. Kebanyakan pasukan ini bersenjatakan rencong dan klewang. Tangsi Belanda terletak di pinggir lapangan bola, dengan demikian, M. Din harus mengatur penempatan pasukan agar tidak mudah diketahui lawan. 

Persiapan yang telah matang menjadi hancur, lantaran adanya pengkhianatan. Pasukan Belanda sudah bersiap di satu titik yang telah diprediksi tempat datangnya pasukan M. Din. Dengan segera, Belanda melepaskan tembakan karaben, yang membuat pasukan M. Din berlarian. M. Din sendiri berhasil ditangkap dan dijatuhi hukuman pengasingan atau internir ke Boven Digul, Papua. 

Meskipun sang komandan dihukum pembuangan, pasukan Gayo Alas tetap melakukan perlawanan. Diberitakan terdapat suatu kasus tentang serangan seorang Gayo ke kamp Belanda di Blangkejeren, wartanya di bawah ini: 

Officieel wordt gemeld dat op 12 Juli té Blangkedjeren in de Gajo en Alaslanden een Gajó-er het kampement is binnengedrongen én den schildwacht en een anderen man heeft verwond. De aanvaller werd neergelegd. De aanleiding tot den aanval moet worden, gezocht in het feit, dat de Gajo-er den dood zocht, nadat hij even voor het binnendringen in bet kampement een kamponggenoot, met wien hij eén veete had, vermoordde. (Aneta)

Artinya: 

Secara resmi dilaporkan bahwa pada 12 Juli di Blangkejeren, termasuk bagian dari Tanah Gayo Alas, terdapat seorang Gayo yang memasuki perkemahan (Belanda) dan melukai penjaga dan seorang pria lainnya. Penyerang ini berhasil dilumpuhkan. Alasan penyerangan itu harus dicari, didapat suatu informasi bahwa dirinya membunuh teman sekampungnya karena suatu perkara, lantas mencoba mencari kematian (bunuh diri?) sebelum memasuki perkemahan. (diberitakan juga oleh Aneta)

M. Din bebas dari hukuman internir sekitar 1938. Ia bergabung dengan PUSA (Persatuan Ulama Seluruh Aceh) dan terpilih sebagai ketua PUSA cabang Blangkejeren. Ia aktif memberikan ceramah di banyak masjid yang dihadiri oleh para pemuda Gayo Alas. M. Din memberikan pidato tentang pentingnya mengobarkan nasionalisme dan mengedepankan patriotisme dalam mengusir penjajah Belanda. Ia juga bersafari ke beberapa kampung untuk merekrut pemuda-pemuda yang siap dididik menjadi prajurit bersenjata. Di samping itu, M. Din juga ikut mendirikan Madrasah Diniyah agar anak-anak dapat terus mendalami ajaran Islam di saat sulit (waktu perang). 

Saat pasukan Jepang datang ke Aceh, M. Din dan pasukannya sedang giat bertempur melawan pasukan Belanda di wilayahnya. Jepang pun kemudian menyatakan bahwa M. Din adalah sekutu mereka. Ini dilakukan sampai dengan penyerahan pasukan Belanda di hadapan Jepang yang dilakukan di Rikit Gaib, Gayo Lues. 

Setelah masa penyerahan, M. Din meminta Jepang agar memberikan pendidikan militer bagi pasukannya. Permintaan itu disetujui, dan pasukan M. Din pun dilatih dengan pendidikan militer Jepang di suatu tempat di Aceh pesisir. Terdapat sekitar 100 pasukan M. Din yang ikut pendidikan ini. Setelah selesai pelatihan, pasukan ini tetap berada dalam satu kelompok di bawah pimpinan M. Din yang menjabat sebagai taico (kapten). Pasukan ini selanjutnya dikenal dengan nama tokobetsu. Di kemudian hari, pasukan ini menjadi Angkatan Perang Indonesia (API) yang merupakan cikal bakal Tentara Nasional Indonesia (TNI) di Aceh Tengah yang kemudian menunaikan tugas dalam perang di Medan Area.   

Sosok yang tidak kalah penting dalam semesta perlawanan rakyat di Tanah Gayo adalah Aman Dimot. Terdapat kisah tersendiri dibalik penamaan Dimot, yakni berasal dari bahasa Belanda die moord yang artinya pembunhan. Maksud dari istilah ini dikarenakan Aman Dimot dikenal sebagai pejuang yang tidak pantang kendur dan diyakini kebal terhadap segala jenis senjata. Kemampuannya ini tentu saja menimbulkan momok yang besar di tubuh Belanda. Kiprah perjuangan Aman Dimot cukup panjang, sampai dengan era peperangan Medan Area pada Agresi Militer Belanda ke II. Sama dengan Aman Nyerang, Aman Dimot juga memilih hutan sebagai basis persembunyiannya. Kisah wafatnya sangat tragis, yakni dengan cara menyumbat mulutnya dan meledakkannya dengan granat. 

B. Pendidikan 

Lembaga pendidikan masa awal yang konsisten dalam memberikan pendidikan keislaman di Tanah Gayo adalah dayah. Di Jawa, dayah dikenal dengan istilah pesantren. Sama dengan yang ditemukan di Aceh Pesisir, dayah juga menjadi salah satu wahana bertatap muka antara guru dan santri, yang keduanya terlibat dalam kegiatan belajar mengajar. Dayah merepresentasikan wajah pendidikan yang endemik dan populis. Ia adalah citra pendidikan Aceh yang kental dengan penjagaan tradisi sekaligus sebagai pusat pencetakan para pemimpin yang kelak akan mendidik umatnya mengarungi tantangan zaman. 

Sebelum belajar di dayah, para pemuda Gayo biasanya sudah mempunyai pemahaman dasar tentang ilmu Islam dari pendidikan keluarganya. Budaya mengajar anak ketika belia, menjadi salah satu tradisi yang lazim dilakukan seorang ayah kepada anaknya di Tanah Gayo. Kesempatan ini juga digunakan sebagai pewarisan etos keagamaan dan kehidupan agar anaknya mempunyai bekal yang cukup, baik secara spritual maupun mental, ketika nanti akan hidup berkeluarga. Masa menempuh pendidikan, juga merupakan waktu tepat untuk mengaplikasikan ilmu yang diterima oleh sang anak di masa kecilnya. 

Dalam konteks abad XIX, pengajaran Islam merupakan sarana pendidikan alternatif yang meningkatkan harkat dan martabat seseorang. Pemerintah kolonial di Kotaraja memang membangun sejumlah sekolah, namun itu hanya diperuntukkan bagi keluarga uleebalang atau bangsawan. Anak-anak Aceh yang bukan berasal dari keluarga elit, tidak diizinkan menempuh pendidikan di sana. Satu-satunya pilihan adalah bersekolah agama di dayah. Kurikulum pendidikan di lembaga tradisional ini, tentu saja disesuaikan dengan model sosial masyarakat Aceh termasuk juga masyarakat Gayo, sehingga lulusan-lulusannya kelak akan berguna dalam masyarakat, menjadi pemecah bagi masalah sosial tempatan. 

Bertolak pada penjelasan Marzuki bahwa terdapat beberapa dayah Aceh yang sudah eksis sejak sebelum terjadinya Perang Aceh pada 1873. Selain dayah, saat itu juga dikenal tempat pendidikan lain yang disebut meunasah. Perbedaannya, terdapat pada muatan materi dan kelompok usia pelajarnya. Meunasah biasanya digunakan oleh murid-murid berusia belia yang masih mempelajari dasar-dasar ajaran Islam atau materi keagamaan tingkat dasar. Sedangkan dayah, adalah lembaga pendidikan tingkat lanjutan. Idealnya, seorang murid yang belajar di dayah, pernah mencicipi pendidikan di meunasah. Dayah yang masih berjalan dan terlibat dalam transmisi intelektual di era ini seperti Dayah Teungku Awi Geutah di Peusangan, Dayah Teungku Chik di Tiro yang berada di bawah pimpinan Syekh Saman di Tiro, Dayah Teungku Chik Tanoh Abe di Seulimum, Dayah Teungku di Lamnyong, Dayah di Lambhuek dan Dayah bimbingan Teungku Krueng Kalee.

Ihsan Harun menyebutkan bahwa menginjak 1910, diketahui banyak pelajar Gayo yang menempuh pendidikan agama di Dayah Pulau Kitun, Bireun. Dayah ini menjadi destinasi populer di kalangan kaum terdidik Aceh Tengah. Hampir semua tokoh masyarakat Aceh Tengah yang masa remajanya berkisar di tahun 1910-1920, pernah belajar di dayah ini, di antaranya adalah Teungku Abdurrahman Bebesen, Teungku Damanhuri dan Teungku Mahmud Ibrahim. Dayah ini memiliki tingkat pendidikan yang lengkap mulai dari tingkat dasar, menengah dan atas. Pada 1960, dayah ini dibakar oleh kelompok DI/TII dan mengakibatkan hubungan inetelektual orang Gayo dan Dayah Kitun terputus. 

Para pemuda dari Kenawat, banyak pula yang melanjutkan pendidikan Islam ke Dayah Pulau Kitun, salah satunya adalah Teungku Ibrahim Mantik. Ia merupakan salah satu ulama Gayo asal Kenawat yang pernah menempuh pendidikan di dayah ini. Di sini, Ia belajar ilmu alat, seperti nahwu dan sharaf. Kedua ilmu ini kedudukannya sangat penting dalam gramatika Arab, dan merupakan modal penting untuk membaca dan memahami kitab-kitab berbahasa Arab. Pendidikan ilmu alat di Dayah Pulau Kitun termasuk yang terbaik, dikarenakan dengan bekal ini, nantinya para santri dapat mengembangkan minat belajarnya akan kitab-kitab kuning.

Dayah di Bireun lainnya yang dikunjungi para santri dari Gayo antara 1910 – 1984, adalah Dayah Samalanga dan Dayah Cet Merak Teuping Raya. Dayah Samalanga pada periode itu dipimpin oleh Tengku Syahbudin dan dilanjutkan oleh Teungku Mudi atau yang dikenal dengan Abu Mudi. Beberapa tokoh pendidikan yang belajar pada Teungku Syahbudin antara lain adalah Teungku Mahmud Ibrahim, Teungku Abdurrahman Bebesen dan Teungku M. Hasan Tan. Dua nama sebelumnya belajar kepada Teungku Syahbudin, sedangkan satu nama terakhir belajar pada Teungku Mudi. Sedangkan Dayah Cet Merak Teuping Raya diasuh oleh Teungku Muhammad Ali, para tokoh Islam Gayo yang pernah belajar padanya adalah Teungku M. Hasan Tan, Teungku Abdurrahman Bebesen dan Teungku Ali Djadun. 

Selain ke Bireun, beberapa pelajar Aceh juga diketahui belajar ke Thawalib, Padang Panjang. Di antara ulama yang belajar di sana adalah Teungku Abdul Muthalib (kembali ke Tanah Gayo sekitar 1926) dan Teungku Abdul Djalil yang kembali setahun berikutnya. Selain keduanya, terdapat sejumlah nama lain yang belajar ke sana. Teungku Ahmad Damanhuri dikenal sebagai ulama yang mendorong muridnya belajar ke Thawalib. Setelah berguru padanya, Teungku Ali Djadun mengikuti jejak gurunya belajar ke Sumatera Barat. Murid dari Teungku Ali Djadun, Teungku Mahmud Ibrahim, juga melanjutkan ke Thawalib. 

Para pelajar Gayo yang berangkat di antara periode 1920-1921 merasakan perubahan sistem pendidikan di Thawalib. Teungku Abdul Muthalib dan teungku Abdul Djalil mengalami masa-masa transisi ini. Para pelajar Gayo yang pulang dari Thawalib dikenal dengan sebutan teungku Padang, artinya orang yang belajar ke Sumatera Barat (Thawalib). 

Dalam biografi Teungku Abdul Lathief Rousydiy, disebutkan bahwa ketika ia menuntut ilmu di Thawalib, ayahnya menghendakinya agar Abdul Lathief belajar ilmu pertukangan (vokasi), khususnya di bidang perkayuan. Kebetulan, ayah Lathief mempunyai keahlian di bidang perkayuan, di samping kegiatannya mengolah lahan pertanian. Di Thawalib, sudah disediakan semacam kelas pertukangan, bagi para pelajar yang ingin terjun di bidang ini. Lathief tidak menamatkan pendidikannya di sekolah ini dikarenakan ia harus kembali ke Takengen.

Banyaknya pelajar yang memilih belajar di luar Tanah Gayo, bukan berarti di dalam negeri tidak ada lembaga pendidikan yang bermutu. Pada periode 1920 – 1940, terdapat sejumlah dayah yang penting dan berkontribusi dalam membentuk ruang keislaman masyarakat Gayo, di antaranya adalah suatu dayah di Kenawat. Terdapat dua ulama penting yang mengembangkan pendidikan model dayah di Tanah Gayo, yakni Teungku Kadi Rampak dan Teungku Abdul Kadir yang lebih dikenal dengan sebutan Taungku Pasir. Teungku Kadhi Rampak adalah pimpinan dayah Kenawat sedangkan Taungku Pasir  adalah pimpinan di dayah di Pasir Kebayakan (didirikan sekitar 1942).  

Seiring dengan berjalannya penguasaan Hindia Belanda di Aceh Tengah, pembangunan di sektor lain yang menyangkut dengan peningkatan taraf hidup pribumi pun dilakukan, salah satunya di bidang pendidikan. Pemerintah menginisiasi pendirian sekolah-sekolah untuk anak—anak pribumi yang nantinya akan mengenyam kurikulum Hindia Belanda. Lulusan dari sekolah itu diharapkan mampu mengisi kekosongan pegawai pribumi yang akan menjadi staf atau pegawai rendah dari para pejabat Belanda. Dengan demikian, harapan awal pendirian sekolah kolonial bukan demi kepentingan kemajuan ilmu pengetahuan, melainkan untuk mencetak para pegawai pribumi yang siap bekerja di pemerintahan atau perusahaan milik orang Eropa. 

Sekitar 1904, sekolah pribumi (volkschool) dibangun di Takengen. Sekolah ini setara dengan sekolah dasar dengan masa studi sekitar 3 tahun. Awalnya, hanya anak-anak raja yang diperbolehkan sekolah di sini, namun pada 1906, anak-anak dari keluarga kelas menengah diizinkan mendaftar. Lulusan sekolah ini kemudian dapat mendaftar sebagai mandor atau pesuruh di kantor pemerintah. Beberapa tahun kemudian, pemerintah mendirikan Inlandsche School atau Vervolgschool yang alumninya menjadi juru tulis, juru kutip pajak, manteri jajar dan lain sebagainya.  

Adapun sekolah seperti HIS (Hollandsche-Inlandsche School) yakni sekolah kolonial dengan bahasa pengantar menggunakan Bahasa Belanda hanya ada di luar daerah Gayo Alas. Anak-anak yang diizinkan ke sekolah ini hanyalah anak-anak raja dan anak-anak pegawai yang bergaji di atas Rp 100. Seusai menempuh pendidikan dari sekolah ini, mereka dipekerjakan sebagai klerk, menteri polisi dan lain sebaginya. Anak-anak yang berasal dari keluarga petani atau pedagang kaya yang penghasilannya di atas Rp 100 tidak diperkenankan sekolah di sini. Selanjutnya, ada pula sekolah Europeesche Lagere School. Hanya anak-anak dari keluarga bangsawan ternama yang sekolah di sini.  

Pada 1918, pemerintah Hindia Belanda mendirikan Leergang School, Ambasschool dan Normaalschool di Sigli dan satu Normaalschool di Bireun. Guru-guru yang mengajar di sekolah-sekolah ini kebanyakan adalah berlatar suku Batak, Minangkabau dan Jawa. Pada 1924, sudah ada putra daerah setempat yang menjadi guru dan ditugaskan mengajar di sekolah-sekolah di desa-desa sekitar kota. 

Di periode kolonial sampai dengan pendudukan Jepang jumlah gedung sekolah dasar di Gayo Alas sekitar 14 buah, dengan rincian: 8 bangunan di Kota Takengen, 1 bangunan di Simpang Empat Bebesen, 1 bangunan di Kotalintang, 1 bangunan di Erlop, 1 bangunan di Isaq, 1 bangunan di Jamat, 1 bangunan di Ketol, 1 bangunan di Nosar, 1 bangunan di Bintang, dan satu sekolah standard-1 di Takengen. Lama pendidikan sekolah yang terakhir adalah enam tahun, dengan satu tahun terakhir khusus di mendalami materi ilmu pertanian. Di Blangkeren (Gayo Lues) terdapat 1 bangunan sekolah dasar, di Tanah Alas terdapat 3 bangunan sekolah dasar, tepatnya 1 di Kotacane, 1 di Ketam dan 1 di Pedisi. 

Pada awalnya, hanya sedikit anak-anak Gayo yang menempuh pendidikan di sekolah kolonial. Mereka masih ragu sekaligus malu untuk masuk dan belajar di dalam kelas. Di samping itu, anggapan bahwa sekolah di sana sama halnya dengan mengikuti orang kafir. Terdapat pula keyakinan bahwa sekolah kolonial mepunyai fungsi mencetak kelas baru masyarakat Gayo yang tercabut dari budaya dan tradisi asalnya. Mereka juga akan diajarkan politik pecah belah, yang membuatnya memusuhi masyarakatnya sendiri. 

C. Terbentuknya Organisasi Massa 

Semakin banyaknya para pemuda dan pemudi Gayo yang terpelajar, maka membuat mereka sadar bahwa berjuang bukan hanya dengan senjata, melainkan juga dengan kemampuan memimpin massa. Pada periode 1910 – 1945, banyak sarjana Gayo yang terlibat dalam organisasi massa dan membina masyarakat untuk merapatkan barisan dan berjuang sebisa yang mereka lakukan. Terminologi perjuangan mengalami reposisi, dari yang sebelumnya menggunakan senjata, maka kini menggunakan strategi kolektif untuk merawat kebersamaan dan menyuarakan ketidakadilan, tentu dengan cara yang arif, agar tidak mengundang perhatian pemerintah kolonial. 

Terdapat sejumlah nama sarjana Gayo yang menjadi pendiri atau aktivis sejumlah organisasi massa, di antaranya adalah Teungku Ali Djadun yang merupakan tokoh Muhammadiyah, Teungku Ali Seni yang aktif dalam kepengurusan masa awal Al-Wasliyah dan Teungku Jali di Persis (Persatuan Islam). 

Terdapat suatu anggapan bahwa seorang pelajar Gayo yang sekolah di Thawalib, Padang Panjang, maka sepulangnya dari sana akan menjadi aktivis Muhammadiyah. Rupanya ini tidak berlaku pada Teungku Mahmud Ibrahim. Ia merupakan salah satu murid Teungku Ali Djadun yang belajar ke Thawalib. Berbeda dari gurunya, sepulangnya ke Takengen, ia justru menjadi aktivis Nahdhlatul Ulama sekitar 1964, bersama dengan tokoh lainnya seperti Muhammad Saleh R dan Lakmana. 

Ketika Muhammadiyah berkembang di Takengen sekitar tahun 1920-an, muncul suatu fenomena tipologi umat Islam di sana, yakni adanya kaum muda dan kaum tua. Kaum tua adalah Muslim yang meyakini adanya pembaruan pemikiran Islam, yakni dengan melakukan gerakan kembali mengambil manfaat pada ajaran al-Quran dan hadis secara penuh. Ajaran Islam yang telah bercampur dengan adat seharusnya tidak dugunakan lagi karena dekat dengan unsur bid’ah. Di sisi lain, kaum tua adalah kelompok masyarakat Muslim yang memadukan ajaran Islam dengan ajaran adat sebagai pilar penting pandangan hidup keberislamanannya. Saat itu, sebutan kaum muda memang identik dengan para aktivis Muhammadiyah. 

Rusdi Sufi mengatakan bahwa di masa Pergerakan Nasional, di antara pengaruh organisasi massa yang datang dari Jawa, seperti Budi Utomo, Sarekat Islam, Insulinde, Jong Islamiten Bond, dan parindra, Muhammadiyah termasuk yang cukup masif berkembang di Aceh. Para pelajar Aceh, termasuk di juga di Takengen, merasa organisasi ini merupakan wahana yang cocok untuk mengekspresikan aspirasi politik dan sosial. Jika di Jawa, Muhammadiyah hanya bergerak di bidang sosial keagamaan, maka di Aceh, organisasi ini bersinggungan dengan kegiatan politik.

PUSA (Persatuan Ulama Seluruh Aceh) merupakan salah satu organisasi yang penting di Aceh yang berdiri tanggal 5 – 8 Mei 1939. Pendiri organisasi ulama ini adalah Teungku Abdurrahman Meunasah Meucap dan Teungku Ismail Yacob, di bawah perlindungan Teuku Chik Muhammad Johan Alamsyah, uleebalang Peusangan. Adapun pengurus pertama organisasi ini adalah Teungku Abdurrahman Meunasah Meucap dan Teungku Muhammad Daud Beureueh sebagai ketua dan wakil ketua, Teungku M. Nur El-Ibrahimy dan Teungku Ismail Yacob sebagai Sekretaris I dan II, T.M. Amin sebagai bendahara. Sedangkan yang duduk di jajaran komisaris adalah Teungku Abdul Wahab Keunalo-Seulimum, Teungku Syekh Abdul Hamid Samalanga, Teungku Usman Lampoh Awe, Teungku Yahya Peudada, Teungku Mahmud Simpang Ulim, Teungku Ahmad Damanhuri Takengen, Teungku Muhammad Daud dan Teungku Usman Aziz.

Tujuan dari pendirian PUSA adalah; 1) Menyiarkan, menegakkan dan mempertahankan syiar Islam; 2) Menyatukan paham pada penerangan hukum; 3) Memperbaiki dan menyatukan leerplan (rencana pengajaran) pelajaran agama di sekolah-sekolah agama; 4) Mengusahakan pendirian perguruan-perguruan tinggi Islam untuk mendidik para pemuda dan pemudi Islam dalam bidang keagamaan.

Selain aneka organisasi Islam, organisasi massa berbasis kelompok nasionalis, komunis atau kelompok lainnya juga berkembang di Aceh Tengah. PKI (Partai Komunis Indonesia) misalnya, mempunyai gerakan yang cukup massif dalam membangun basis organisasi politiknya. Para petinggi PKI di Aceh mempunyai formula jitu untuk menggaet simpati masyarakat, yakni dengan menghembuskan kabar bahwa kepanjangan PKI adalah Partai Ketoprak Indonesia. Massa mereka bukanlah suku Gayo melainkan para imigran Jawa yang berdiam di daerah Isak dan Lampahan. 

Secara halus, para aktivis PKI akan ikut dalam keseharian orang Jawa di dua wilayah di atas, yang berprofesi sebagai penderes (pemanen getah) pinus yang banyak tumbuh di sana. Setelah melewati perbincangan demi perbincangan dalam berbagai kesempatan pertemuan, para simpatisan ini akan mengajak para petani Jawa itu untuk bergabung dengan PKI, sebagai suatu corong untuk bergerak bersama dan dengan dalih untuk meningkatkan kesejahteraan bersama. Dengan cara ini, PKI mampu mengumpulkan massa besar. Uniknya, banyak para pekerja Jawa yang tidak tahu bahwa partai yang dipilihnya berhaluan komunisme. 

Di bidang ekonomi, budaya berorganisasi juga mulai tumbuh, salah satunya dari pendirian koperasi yang dimotori oleh Khalidin Abubakar dan H. Mahmud. Keduanya prihatin dengan pemerintah Hindia Belanda yang tidak peduli dengan peningkatan taraf hidup para petani Gayo. Secara rahasia mereka mengumpulkan para petani dan memperkenalkan sistem pemasaran hasil panen ke luar wilayah Dataran Tinggi Gayo. Simpul-simpul pun dibentuk dengan berbagai penugasan. Sebagian anggota koperasi bertugas mengumpulkan hasil panen, sebagian yang lain bertanggungjawab di bidang pengangkutan dan pemasaran. Usaha diam-diam ini berhasil memberangkatkan hasil panen Gayo sampai ke Penang Malaysia. 

Manajemen koperasi pertanian masih sederhana. Selain sumber daya manusia yang minim, pengalaman di bidang ini juga masih sangat kurang. Polanya, mengedepankan belajar sambil beraktivitas. Jadi, kesalahan administrasi dan komunikasi masih kerap terjadi, mengingat para anggota juga harus menjaga agar kegiatannya tidak diketahui Kompeni. Saat itu, Kompeni sedang aktif menangkap dan membubarkan segala bentuk perkumpulan rakyat, karena dianggap berpotensi membicarakan politik anti-kolonialisme. 

Di Bintang, terdapat pula sebagian orang yang mendirikan koperasi pertanian yang dinamakan Bintang Sepakat. Pengelolaan koperasi ini juga masih minim karena terbatasnya modal. Di samping itu, mereka juga susah payah bersaing dengan pengusaha asing. 

H. Mahmud memutar otak untuk menggerakkan ekonomi masyarakat. Ia pun mendirikan koperasi di bidang angkutan yang diberi nama Kongsi Gayo. Perlahan, koperasi ini berkembang hingga mencapai tahap yang cukup stabil. Pada suatu ketika, koperasi ini sempat mengalami penurunan dikarenakan kurangnya tenaga ahli dan modal. Setelah Kemerdekaan Indonesia, semangat pengelolaan koperasi ini dipompa kembali di bawah kepemimpinan Teungku Abdul Jalil. Ia juga merubah nama koperasi menjadi PT Aceh Tengah. Banyak masyarakat yang menitipkan modalnya pada koperasi ini dalam bentuk uang atau kerbau.  

Berjalannya koperasi transportasi merupakan respon masyarakat Gayo terhadap pembangunan jalan yang dilakukan oleh pemerintah Hindia Belanda sekitar 1908. Jalan yang dibangun menghubungkan Takengen – Bireuen, Aceh Utara dengan jarak sekitar 102 Km. kemudian, juga dibangun jalan yang menghubungkan Takengen – Kutacane yang melewati Blangkejeren. Pada awalnya, pembangunan jalan ini diperuntukkan bagi pengangkutan persenjataan untuk melawan para pejuang Gayo. Jalan ini hanya mampu dilewati pedati, dan harus melewati medan yang ekstrim seperti tepi tebing dan sungai yang beraliran deras.  

Kesimpulan 

Di permulaan abad XX, Aceh Tengah sedang memugar diri menatap masa perubahan. Orang-orang seperti Aman Nyerang dan M. Din mewakili generasi petarung yang dengan lantang melawan generasi penjajah. Di sisi lain, sebagian orang tua di Gayo sudah mulai terbuka untuk menyekolahkan anak-anaknya ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi. Para sarjana agama, nantinya akan membua ranah perjuangan baru yakni usaha mencerdaskan anak bangsa. Seiring dengan tumbuhnya kelas intelektual, maka keinginan untuk berserikat dan berkumpul pun bersemi. Dari sinilah lahir aneka organisasi massa. 

Cuplikasi makalah ini tentu saja hanya sekelumit mengeksplanasikan tentang sejarah sosial di Gayo. Terdapat gradasi perjuangan yang nyata, yakni perjuangan menggunakan senjata dan perlawanan intelektual. Keduanya saling beriringan dan saling bahu membahu. Lahirnya kelas terpelajar membawa masyarakat Gayo ke arah yang lebih modern dan empirik, tanpa meninggalkan tradisi dan nilai setempat. 

Daftar Pustaka 

Sumber Primer 

Deli Courant, 9 Mei 1905

Koloniaal Verslag van 1903. 

Bataviaasch nieuwsblad, 3 November 1916. 

De Sumatra Post, 8 November 1916. 

Het Vaderland: staat- en letterkundig nieuwsblad, 17 Juli 1930

Sumber Sekunder 

Anam, Saeful. "Karakteristik Dan Sistem Pendidikan Islam: Mengenal Sejarah Pesantren, Surau Dan Meunasah Di Indonesia," dalam JALIE; Journal of Applied Linguistics and Islamic Education, Vol. 1, No. 1, 2017. 

Brooshooft, P. Geschiedenis van den Atjeh-oorlog 1873 – 1886, F.B. van Ditma, 1886.

Gayo, M. Perang Gayo-Alas melawan kolonialis Belanda, Jakarta: Balai Pustaka, 1983.  

Gayo, Mohammad Daud. Perjalanan Hidup Seorang Muballig dan Orator: Biografi Tgk. Abd. Lathief Rousydiy (1923-1989), Jakarta: Prenada, 2015.

Ihsan Harun, Konstruksi Jejaring Pendidikan Islam Gayo Era Tahun 1910-1986, Depok: Rajagrafindo Persada, 2021. 

Latief, Ar. Pelangi Kehidupan Gayo dan Alas, Bandung” CV Kurnia, 1995.

Mantik, “Riwayat Tengku Ibrahim Mantik”, naskah tidak diterbitkan. 

Madjid, M. Dien. Perang pedang Berdarah: Kisah Perjuangan Aman Dimot (Takengon: Dinas Kebudayaan dan Pariwisata, 2001)

Marzuki, "Sejarah Dan Perubahan Pesantren Di Aceh," dalam Millah: Jurnal Studi Agama, Vol. 11, No. 1, 2011. 

Sufi, Rusdi. Pernak-Pernik Sejarah Aceh, Banda Aceh: Badan Arsip dan Perpustakaan Aceh, 2009. 

Yakobi, A. K. “Peranan Rakyat Aceh Tengah (Gayo Alas) dalam Perang Kemerdekaan RI (1945 – 1950)” dalam   Kumpulan Bahan Diskusi Peranan Aceh Tengah (Gayo Lues) dalam Perang Kemerdekaan, Jakarta, 1986. 

Zentgraaff, H.C. Atjeh, Jakarta: Departemen P dan K, 1983.

____________, Op Oude Paden, tanpa tempat: Kononklijke Drukkerij De Unie, 1936.

Sumber Lisan 

Wawancara dengan Uki Nasution, cucu dari M. Din di Jakarta, pada Selasa, 15 Desember 2020.

Sumber Online  

https://www.youtube.com/watch?v=7CsSk-YEI2o, diakses pada 12 Desember 2021. 

http://tgk-sulis.blogspot.com/2009/05/sosok-tkg-abdul-kadir-aceh-tengah.html, diakses pada 2 Desember 2021

*) PENULIS adalah Guru Besar Sejarah UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

KUPI BEUNGOH adalah rubrik opini pembaca Serambinews.com. Setiap artikel menjadi tanggung jawab penulis

Halaman 4/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved