Selasa, 14 April 2026

Kupi Beungoh

Anies, “Filsafat Bukuem”, dan Feeling Politik Surya Paloh

Anies tampil sangat beda dari politisi konvensional yang pernah ada dalam partai politik manapun, terutama pascaorde baru

Editor: Muhammad Hadi
SERAMBINEWS.COM/Handover
Prof. Dr. Ahmad Human Hamid, MA, Sosiolog dan Guru Besar Universitas Syiah Kuala Banda Aceh. 

Kebanyakan hasil survey dari lembaga yang kredibel menyebutkan mayoritas warga Jakarta puas dengan kinerja Gubernur Anies.

Ada sejumlah lembaga yang mengumumkan kepuasan publik Jakarta terhadap Anies relatif rendah, terutama survey CSIS terhadap para ahli, yakni hanya 47,2 persen.

Baca juga: NasDem Jagokan Anies Baswedan, Pengamat Bilang Ini Terkait Peluang Sang Gubernur Jadi Capres

Hal tersebut segera terbantahkan dengan temuan BPS (Mei 2022) terakhir tentang capaian kinerja Pemerintah DKI terhadap kenaikan kesempatan kerja, pertumbuhan ekonomi, kesempatan kerja perempuan, penurunan inflasi, dan penurunan kemiskinan, dan turunnya pengangguran secara drastis.

Penyebab terbesar rendahnya kepuasan para ahli disebutkan oleh CSIS adalah rendahnya kinerja dari hampir semua indikator tersebut.

Uniknya temuan badan resmi pemerintah, BPS dengan terang benderang membantah dengan bukti konkrit terhadap ketidakpuasan para ahli itu.

Ketakutan sedari awal terhadap sosok Anies, bahkan ketika ia masih menjadi calon gubernur kini menjadi kenyataan.

Politik Busuk Menjegal Anies

Dari hari ke hari ketakutan sejumlah pihak itu telah menjadi “mimpi buruk” untuk tidak mengatakan trauma.

Ketakutan itu mungkin juga sangat beralasan, karena jangan-jangan sudah ada “ahli nujum” akademik atau paranormal nonakademik yang sudah membaca apa yang akan terjadi jika Anies terpilih menjadi gubernur DKI.

Sedari awal ia terpilih, ibarat permainan bola kaki, ia dikawal ketat layaknya Maradona atau Ronaldo dengan berbagai, bahkan kalau perlu dicederai.

Namun ia cukup cerdas untuk tidak emosi, dan pandai menghindar dari berbagai sergapan, dan seringakli membuahkan gol yang tak tertahankan.

Cerita tentang upaya mencederai atau bahkan menjegal Anies mungkin menjadi salah satu fenomena “politik busuk” yang paling menonjol yang pernah terjadi dalam sejarah politik kontemporer kita.

Berbagai mesin pembusukan dilancarkan terhadap Anies, mulai dari parlemen -DPRD DKI, sampai dengan para buzzer yang bekerja 24 jam.

Baca juga: Surya Paloh Umumkan 3 Bakal Capres Rekomendasi NasDem: Anies Baswedan, Andika Perkasa dan Ganjar

Tidak hanya itu, tidak kurang, satu partai politik khusus dilahirkan, yang pekerjaan utamanya bukan mengurus perpolitikan nasional, akan tetapi “membidik” politik Jakarta, dengan target utama Anies Baswedan.

Apapun yang dikerjakan oleh para buzzer dan partai tertentu itu justru menghasilkan sebaliknya.

Semua tuduhan buruk, dan antisipsi kegagalan Anies yang digunakan untuk mengumandangkan Aniesfobia justeru menjadi Aniesmania.

Publik dengan jelas melihat ada persekongkolan jahat di sebalik semua gerakan pembusukan itu.

Uniknya semua berita buruk yang setiap hari dirancang dan dilepas dari sebuah fabrikası kebohongan, dalam perjalanan waktu memberikan bukti sebaliknya.

Tanpa harus merinci satu persatu apa yang telah dicapai Anies, fabrikasi berkelanjutan tentang kegagalan 23 janji Anies dalam kampanye pilgub DKI tidak terbukti.

Publik menyatakan kepuasan yang tinggi, dan survei indikator pembangunan DKI versi BPS menunjukkan hasil yang sangat memuaskan.

Apa yang tidak disadari oleh musuh Anies terhadap berbagai pembusukan yang dilakukan secara tak sengaja telah membuat nama Anies menjadi bagian dari memori publik yang melekat setiap hari.

Karena pembusukan sistematis itu, nama Anies yang awalnya hanya bertebaran di Jakarta, kini telah masuk ke rumah-rumah di seluruh Indonesia.

Anies dan Filasafat Bukuem di Aceh

Apa yang mereka tidak sadari adalah, dalam perjalanan waktu tuduhan atau berita buruk tentang kegagalan Anies, terbukti sebaliknya.

Anies telah meraih keuntungan yang tak ternilai dari kegigihan para musuhnya semenjak ia dilantik sampai hari ini.

Kalaulah ada variabel yang paling bertanggungjawab terhadap poplaritas dan elektabilitas Anies hari ini untuk menjadi calon presiden adalah berkat “fitnah” dan berbagai “berita buruk” yang disebarkan para musuhnya.

Di Aceh, ketika ada upaya sistematis untuk mengecilkan meremehkan atau menghancurkan seseorang, terutama dalam ruangan kehidupan publik masyarakat pesisir, dan upaya itu mengeluarkan hasil yang sebaliknya disebut dengan kiasan “lagei ta sipak bukuem bak bineh laot”.

Yang dimaksud dengan “bukuem” adalah ikan buntal yang dalam bahasa latinnya dikenal dengan dengan famili tetraodontidae dengan jumlah 121 spesies, umumnya ditemui di kawasan laut tropis.

Sekalipun ikan ini beracun, namun di Jepang, Korea, dan Cina, beberapa spesies ikan buntal ini sangat enak dan mahal, tentu saja di tangan para ahli masak yang mampu memindahkan racunnya yang mematikan.

Di Jepang masakan buntal yang terkenal dengan istilah “fugu” mencapai harga 30.000 yen atau mendekati 4 juta rupiah per porsi.

Baca juga: NasDem dan Anies Baswedan di Pusaran Pembicaraan Capres 2024

Apa keterkaitan ikan “bukuem” ini dengan Anies menyangkut dengan dua hal.

Pertama, ketika pejalan di tepi laut bertemu dengan ikan buntal, dan ikan itu disepak, yang terjadi adalah sang ikan menjadi semakin besar.

Semakin ditendang semakin besar, dan kemudian menyerupai bola.

Kedua, ikan yang demikian beracun ini, di tangan ahli masak menjadi ikan yang sangat enak dan mahal.

Filsafat “bukuem” masyarakat pesişir Aceh kemudian menjadi sebuah metafora unik untuk melukiskan betapa Anies semakin disepak dan ditendang oleh para musuhnya membuatnya semakin besar, bukannya tambah kecil, apalagi terkoyak, karena kulit bukum memang sangat tebal, dan bahkan berduri.

Filsafat “bukuem” versi Jepang juga berlaku untuk Anies, artinya di tengah kemuakan publik terhadap politisi yang dipersepsikan sangat kotor, tampilnya Anies dan segudang prestasi dan integritas yang dimilkinya menjadikan karir politisi itu menjadi mulia.

Ia mampu memindahkan racun “bukuem”, dan memasaknya menjadi makanan yang enak.

Apa yang tidak disangka dan diduga oleh para fabrikan pembusuk Anies adalah kegagalan mereka memberi label Anies sebagai bagian dari dari lokus Islam fundamentalis, dan bahkan radikal.

Musuhnya ingin mempersepsikan Anies sebagai individu bagi negara Pancasila.

Yang terjadi justru, Anies tampil sebagai sosok muslim modernis yang taat dan mengerti agama dengan baik, dan sekaligus juga sangat menghargai pemeluk agama lain dengan sepenuh hati.

Keikhlasan Anies menjalankan tugas sebagai bapak masyarakat Jakarta terhadap berbagai pemeluk agama dengan simpatik terbukti dengan apresiasi yang diberikan oleh banyak pemuka berbagai agama.

Romo Ignatius Sandyawan Sumardi, seorang mantan pendeta Jesuit Katholik yang juga aktivis sosial adalah satu di antaranya.

Romo Sandy adalah aktivis sosial yang memperjuangkan HAM dan kaum miskin-papa kota Jakarta.
Ia adalah penerima penghargaan Yap Thiam Hien Award.

Sandyawan juga salah seorang pelanggan penjara masa Orde Baru karena protes dan kritisinya yang paling keras.

Karena keberpihakannya pada komunitas bantaran Ciliwung ia menjadi salah musuh yang dibenci Ahok secara terbuka.

Ia juga sangat dibenci karena pembelaannya terhadap PDIP ketika markas partai itu diserang oleh pemerintah Suharto pada tahun 1996.

Romo Sandy, bahkan bersama teman baiknya Jaya Suprana yang juga Nasrani justeru memuji Anies-sebuah pujian yang sangat langka dari seorang aktivis keras Jesuit.

Mungkinkah Anies di sebalik berbagai kebaikan dan prestasinya justru seorang fundamentalis?

Pengakuan “mahal” Romo Sandy terhadap kinerja Anies dan berbagai bukti lain, sekaligus juga membalikkan tuduhan Anies sebagai individu berbahaya bagi Republik.

Feeling Politik Surya Paloh

Berbagai kejadian yang dialami oleh Anies tidak lewat dari amatan dan perhatian politisi besar nasional, Surya Paloh.

Dalam dua tahun terakhir nampak mulai terbangun komunikasi antara Paloh-Nasdem dan Anies.

Kedekatan Paloh yang merupakan bagian penting dari rezim Jokowi, sama sekali tak janggal dalam penampilan relasi Paloh dengan Anies di mata publik.

Dalam dua kali pemilihan presiden setelah Gus Dur, “feeling politik” Paloh terbukti sangat kuat.

Ia tak pernah salah dalam memilih calon Presiden, dan bahkan seringkali berada pada gerbong terdepan.

Ketika ia masih di Golkar, ia dengan cepat menjadi salah seorang pendukung kuat pemenangan SBY-JK, dan paşangan itu kemudian menang.

Karena ada perbedaan dengan SBY kemudian Paloh tidak lagi berada dalam lingkaran kekuasaan, dan ia kemudian dikalahkan oleh Abu Rizal Bakrie dalam Kongress Golkar di Pekan Baru pada Oktober 2009.

Paloh tidak putus asa, dan ia kemudian mendirikan partai Nasdem 2 tahun kemudian, yakni pada tahun 2011.

Paloh dan Megawati kemudian menjadi orang yang paling awal mendukung Jokowi, dan lagi-lagi feeling politik Paloh terbukti.

Jokowi kemudian menang, bahkan untuk periode kedua juga menang telak.

Ketika Paloh awalnya menyebutkan Nasdem akan mengadakan konvensi untuk penentuan Capres, yang kemudian dibatalkannya dengan memberikan kebebasan kepada pengurus provinsi untuk menyampaikan aspirasi, sepertinya “feeling politik” Paloh juga sudah mulai bekerja lagi.

Baca juga: Kuliah Umum di Lampung, Ini Tiga Pesan Anies Baswedan Kepada Mahasiswa Hadapi Persaingan Dunia Usaha

Ia telah merasakan “aura” Anies mulai mencuat, namun ia ingin menguji “hipotesis feeling”nya itu.

Feeling itu kemudian terbukti dengan hasil Rakernas Nasdem yang menempatkan Anies pada ranking pertama, Ganjar pada posisi kedua, dan Jenderal Andika pada nomor tiga.

Hipotesis Paloh terbukti, dan penjaringan aspirasi publik oleh DPD Nasdem di berbagai provinsi menangkap sinyal- paling kurang sebagian, cenderung kepada Anies.

Tingginya pilihan kepada Anies pada Rakernas Nasdem baru separuh menjawab “feeling politik” Paloh.

Hipotesis Paloh tentang Anies terbukti lagi dua hari yang lalu, ketika PKS memberi signal kuat untuk berkoalisi dengan Nasdem mendukung Anies sebagai capres 2024.

Peluang koalisi itu menjadi lengkap dengan adanya semacam lampu hijau pendahuluan dari Partai Demokrat untuk bergabung dengan Nasdem dan PKS.

Megawati kemudian memperkuat peluang itu dengan mengomentari kemustahllan PDIP berkoalisi dengan PKS dan Partai Demokrat.

Popularitas Anies, embrio koalisi Nasdem, PKS, dan Demokrat akan menjadi cerita panjang berhari-hari dalam agenda publik.

Ketidakjelasan majunya Prabowo, kekaburan Puan berpasangan dengan siapa, ketidaksenangan para tokoh PDIP kepada Ganjar, adalah cerita yang tidak jelas kapan akan berakhir.

Dan bahkan keraguan Jokowi untuk mempromosikan Ganjar dengan mengajak KIB-Golkar, PAN, dan PPP yang sangat lemah dan rapuh itu juga menjadi cerita tersendiri bagi publik.

Teka teki dan ketidakpastian antara capres selain Anies, dan bergulirnya Anies sebagai capres dari embrio awal tiga partai ini akan semakin banyak membuat banyak “cerita menang” dalam berbagai diskusi kesaharian publik mulai dari rumah, warung kopi, sampai gedung bertingkat.

Banyak berkembangnya “cerita menang” dalam pembicaraan publik sejak awal, bahkan sebelum kampanye, pernah dalami oleh SBY dan Jokowi, dan kemudian mereka menang.

Di situ ada “feeling politikSurya Paloh.

Akan kah “feeling politik” Paloh kali ini benar lagi? Kita lihat saja.

*) PENULIS adalah Sosiolog dan Guru Besar Universitas Syiah Kuala (USK) Banda Aceh.

KUPI BEUNGOH adalah rubrik opini pembaca Serambinews.com. Setiap artikel menjadi tanggung jawab penulis.

Baca Artikel Kupi Beungoh Lainnya di SINI

Halaman 4/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved