Selasa, 14 April 2026

Kupi Beungoh

Anies, “Filsafat Bukuem”, dan Feeling Politik Surya Paloh

Anies tampil sangat beda dari politisi konvensional yang pernah ada dalam partai politik manapun, terutama pascaorde baru

Editor: Muhammad Hadi
SERAMBINEWS.COM/Handover
Prof. Dr. Ahmad Human Hamid, MA, Sosiolog dan Guru Besar Universitas Syiah Kuala Banda Aceh. 

Anies tidak peduli dengan itu, dan bukan tidak mungkin ia akan minta Presiden untuk meresmikannya.

Sulit untuk tidak mengatakan bahwa rezim yang berkuasa saat ini “ikhlas” melihat Anies berhasil, untuk tidak mengatakan sangat anti terhadap Anies.

Baca juga: Nonton Formula E di Sirkuit Ancol, AHY Disambut Akrab Anies Baswedan

Sekalipun kehadiran Presiden Jokowi pada saat acara Formula E di Ancol baru-baru ini mendemonstrasikan dukungannya terhadap program memasyhurkan Indonesia kepada publik internasional oleh Anies, sengaja atau tidak, absennya iklan BUMN- bandingkan dengan moment yang sama di Mandalika, pada acara itu adalah gambar telanjang betapa rezim tak suka dengan keberhasilan Anies.

Dalam menguraikan narasi pembangunan Jakarta, baik selama masa kampanye maupun ketika ia memerintah ia sangat jelas dan gamblang.

Ia tampil sebagai pemimpin pemerintah ibu kota Republik, yang sarat dengan nuansa akademik tehnokratis abad ke 21.

Lihatlah dalam beberapa event pertemuan pemerintah kota pada tingkat global, bagaimana ia menjelaskan dengan sangat runtut tentang isu-isu perkotaan global, terutama kota-kota negara berkembang seperti Jakarta.

Ia menguraikan dengan wawasan yang sempurna tentang kependudukan, sanitasi, pembangunan kawasan kumuh, air minum, perumahan, kesehatan, pengangguran, transportasi, dan degradasi lingkungan.

Anies bahkan dengan sangat cerdas mampu menghubungkan tali-temali semua persoalan itu dengan isu pemanasan global yang kritis dalam menyongsong masa depan kota-kota global dan manusia secara keseluruhan.

Tidaklah mengherankan kalau Anies mendapat tempat, hormat, dan simpati dari berbagai pertemuan gubernur dan wali kota dunia.

Semua apresiasi itu bukan hanya karena bahasa Inggrisnya yang fasih, atau debutnya sebagai orator handal, akan tetapi lebih karena substansi apa yang dia uraikan, dan bukti yang telah ditunjukkan yang sangat mengena dengan tantangan pembangunan perkotaan global masa depan.

Baca juga: Anies Baswedan Dijagokan Partai NasDem Jadi Capres 2024, Begini Respon Gubernur DKI Jakarta Itu

Jakarta di tangan Anies telah diakui sebagai salah satu ibukota terdepan, terutama dalam kelompok ibu kota negara negara “emerging market” di dunia.

Anies sangat artikulatif ketika menyampaikan tantangan pembangunan masa depan kota global, terutama yang mengangkut dengan tata ruang, pemukiman, transportasi publik, keberpihakan terhadap masyarakat miskin, dan keadaban.

Ia mendemontrasikan kemampuannya tidak hanya dalam wacana dan narasi.
Ia membuktikan apa yang diucapkan dalam apapun pekerjaan yang dilakukannya di Ibukota.

Anies membuktikan dirinya bukan politisi spesies “talkers”, tetapi “doers” yang komit dan cerdas.

Dengan masa jabatan Anies yang akan berakhir pada bulan Oktober yang akan datang, hampir tak ada pihak yang berani mengatakan Anies gagal membangun Jakarta, apalagi Anies gagal merealisasikan janji kampanyenya membangun Jakarta.

Halaman 3/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved