Jurnalisme Warga
Keamanan Semu Dunia Digital
Keuntungan mereka dari data kita untuk keperluan periklanan,” jelas Dhyta Caturani dalam seminar bertemakan Journalist Security Assessment Tool
OLEH AYU ‘ULYA, Koordinator Perempuan Peduli Leuser, Anggota FAMe, dan Anggota AJI Banda Aceh, melaporkan dari Banda Aceh
“Banyak perusahaan yang berusaha ‘menambang’ data kita. Data is a new oil.
Keuntungan mereka dapatkan dari data kita untuk keperluan periklanan,” jelas Dhyta Caturani dalam seminar bertemakan Journalist Security Assessment Tool.
Seminar daring yang digelar oleh Global Investigative Journalism Network (GIJN) pada Senin (4/7/2022) ini menyasar pada peningkatan kesadaran keamanan digital masyarakat, terutama pengguna berisiko tinggi seperti jurnalis dan aktivis perempuan, kelompok minoritas, dan orang-orang yang menyampaikan kritik melalui teknologi digital.
Dhyta, selaku ‘holistic security trainer and auditor’, menyayangkan kenyataan bahwa jarang orang-orang yang melaporkan kekerasan yang menimpa mereka, terutama jika kekerasan itu terjadi secara digital.
Menurutnya, pihak yang kerap menerima pengawasan dan serangan digital justru merupakan orang-orang yang menyuarakan kepentingan masyarakat banyak.
“Di era digital yang sangat surveillance capitalism (kapitalisme pengawasan), ada pihak yang kepentingannya terusik oleh produk-produk jurnalistik.
Cukup banyak teman jurnalis dan aktivis yang mengalami serangan digital setiap akan melakukan aksi,” jelas sang pendiri PurpleCode Collective tersebut.
Dia mendeskripsikan ‘surveillance capitalism’ sebagai aktivitas memata-matai atau mengawasi warganet—biasanya melalui telepon genggam—oleh perusahaan digital raksasa yang berkepentingan bisnis atau memiliki motif politik-ekonomi.
Dalam seminar yang dihadari oleh sekitar 40 jurnalis, penulis, dan pekerja kemanusiaan dari berbagai wilayah Nusantara ini dipaparkan bagaimana kehadiran internet sebagai gerbang akses informasi yang memberikan kemudahan dan manfaat justru perlu diwaspadai, terutama terkait risiko publikasi data diri penggunanya.
Baca juga: Hasil Survei LSI: KIB Unggul di Dunia Digital, Airlangga Tokoh Utama Poros Koalisi Indonesia Bersatu
Baca juga: 2.000 Pemuda Arab Saudi Dilatih Dunia Digital, Siap Bersaing di Pasar Tenaga Kerja Global
Sang pemateri senimar menjelaskan bahwa selalu ada konsekuensi di balik manfaat bersosial media.
“Online itu bukan lagi ruang virtual, kini sudah menjadi ruang hidup.
Ruang online sudah menjadi perpanjangan ruang fisik.
Sehingga, ruang privat dan publik yang seharusnya ada menjadi semakin kabur.
Akibatnya, keamanan semakin rentan,” jelasnya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/AYU-ULYA-Koordinator-Perempuan-Peduli-Leuser-dan-Anggota-AJI-Banda-Aceh.jpg)