Breaking News:

Jurnalisme Warga

Mengenal Karawitan dari Alumnus ISBI Aceh

Ketika mendengar kata “karawitan”, maka yang terbayang dalam pikiran saya adalah alunan suara gamelan yang mengiringi pertunjukan tradisional Jawa

Editor: bakri
Mengenal Karawitan dari Alumnus ISBI Aceh
FOR SERAMBINEWS.COM
IHAN NURDIN,  Jurnalis dan pegiat Forum Aceh Menulis (FAMe), melaporkan dari Meureudu, Pidie Jaya

ISBI Aceh'> ISBI Aceh lahir dari embrio ISI Padangpanjang yang sebelum genap setahun usianya sudah melepaskan diri dari sang induk.

Telah memiliki rektor dan menjalankan manajemen sendiri.

Dosendosennya beragam dan berasal dari daerah-daerah seperti Medan, Padang, hingga Bandung.

Belajar di sana, seperti pengalaman Intan, lebih banyak praktik ketimbang teori.

Dituntut berkarya dengan dasar pengetahuan yang kuat; mengapresiasi karya melalui garapan yang baik; dan dirangsang untuk terus berinovasi dengan ide-ide baru.

Calon lulusan bisa mengerjakan tugas akhir berupa minat penciptaan atau pengkajian (skripsi).

Intan sendiri, yang tercatat sebagai angkatan kedua pada tahun 2015, lebih memilih tugas akhir dengan membuat karya penciptaan komposisi musik.

Namun, bukan berarti “bebas” dari menulis.

Ia tetap perlu membuat laporan karya yang berbasis akademik.

Tepat pada malam tahun baru pergantian 2019, Intan menggelar pertunjukan tugas akhirnya.

Karena terhalang pandemi, dia baru bisa yudisium pada Agustus 2020 dan diwisuda pada November.

Lulus dengan IPK 3,67.

Pada akhirnya, sang ibu pun tak lagi mempersoalkan pilihan putrinya yang ingin menjadi seniman.

Intan membuktikan dengan prestasi akademik yang baik.

Kuliah di ISBI membawanya pada kesempatan untuk tampil hingga ke luar provinsi di Sumatra dan Jawa.

Menjadi Mahasiswa Karawitan Berpestasi pada 2018.

Ia juga ditabalkan sebagai Lulusan Terbaik Jurusan Seni Pertunjukan ISBI Aceh'> ISBI Aceh pada 2020.

Apalagi, tak sampai setahun lulus, Intan diterima sebagai PNS di Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Pidie Jaya dengan formasi Pamong Budaya.

Mengikuti jejak karier ayah dan ibunya.

Formasi ini sangat sesuai dengan jurusannya dan pekerjaannya fokus pada empat aspek pemajuan kebudayaan: perlindungan, pengembangan, pemanfaatan, dan pembinaan, baik di bidang cagar budaya, nisan kuno, permuseuman, nilai-nilai budaya/tradisi, dan adat istiadat.

Pada tahun ajaran baru ini ISBI Aceh'> ISBI Aceh membuka Jalur Mandiri Khusus yang menyasar tiga kelompok calon mahasiswa, yaitu lulusan SLTA sederajat yang memiliki ijazah sepuluh tahun terakhir; memiliki ijazah paket C dengan usia maksimal 35 tahun; dan pelaku seni atau pengurus organisasi seni dengan usia maksimal 40 tahun.

Pendaftaran telah dibuka sejak 14 Juli hingga 4 Agustus 2022.

Kesempatan ini menurut Intan perlu dimanfaatkan dengan baik oleh para seniman di Aceh.

Soalnya, banyak seniman yang “kurang mendapat tempat” atau kapasitas mereka diragukan hanya karena mereka tidak belajar di jalur formal.

“Ini kesempatan yang sangat bagus dan untuk menunjang value si seniman itu sendiri.

Apalagi, kuliah di ISBI juga mencakup tentang manajemen, pengelolaan event, sehingga potensi dunia kerjanya juga bisa lebih luas.

Bisa jadi komposer, koreografer, event organizer, guru kursus, atau di instansi pemerintah.

Artinya, kuliah di ISBI memberikan dua kesempatan sekaligus, menjadi seniman yang akademis,” ujar Intan yang juga menggawangi acehplus di Instagram.

Baca juga: Plt Dirjen Diktiristek Tinjau Pembangunan Kampus ISBI Aceh, Sangat Modern dan Ramah Lingkungan

Baca juga: ISBI Aceh Wisuda 70 Sarjana, Tiga Lulus Cum Laude

  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    berita POPULER

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved