Breaking News:

Opini

Makna Sebuah Kemerdekaan

TUJUH puluh enam tahun lalu tepatnya 17 Agustus 1945, merupakan detik-detik hari yang paling bersejarah bagi seluruh bangsa Indonesia

Editor: bakri
Makna Sebuah Kemerdekaan
For Serambinews.com
ABDUL GANI ISA,  Anggota Majelis Permusyawaratan Ulama Aceh

OLEH ABDUL GANI ISA,  Anggota Majelis Permusyawaratan Ulama Aceh

TUJUH puluh enam tahun lalu tepatnya 17 Agustus 1945, merupakan detik-detik hari yang paling bersejarah bagi seluruh bangsa Indonesia, karena hari tersebut bangsa Indonesia meraih kemerdekaannya dari segala bentuk penjajahan, penindasan, kezaliman, keterbelakangan dan pembodohan.

Kemerdekaan Indonesia bukanlah hadiah kolonial Belanda, Jepang, dan sekutunya, tetapi kemerdekaan itu, pada hakikatnya diraih dengan jiwa, darah dan air mata, berkat perjuangan, jihad, jerih payah para pejuang yang telah mendahului kita.

Sebuah kehormatan besar untuk para pejuang dalam membela Bangsa ini.

Sebuah renungan ulang, kembali mengingat kisah heroik para pahlawan dan para ulama di zaman penjajahan.

Mereka benar-benar rela mati syahid hanya ingin Bangsa ini terbebas dari belenggu kekuasaan para penjajah.

Tidak peduli seberapa banyak peluru menembus di dada mereka, tidak gusar seberapa janda dan anak yatim ditinggalkan, yang ingin diperjuangkan adalah kebebasan untuk seluruh rakyat, agama dan bangsa ini, bukan untuk pribadi dan golongannya, bukan untuk anak keturunannya.

Betapa besar sekali jasa para pahlawan kita ini, sungguh tidak bisa dibayar dengan materi seberapa pun banyaknya.

”Isy kariman aw mut syahidan” (hidup mulia atau mati sebagai syuhada”).

Makna kemerdekaan Pertanyaan yang muncul adalah apa makna yang terkandung dari sebuah kemerdekaan itu, apakah sekadar memperingatinya semata, dengan upacara bendera, atau sepatutnya kita mengambil i’tibar (cerminan) dibalik peringatan itu, untuk merenung ulang secara mendalam akan jasa-jasa para pejuang termasuk para ulama di dalamnya yang saat ini mereka sudah tiada, diistirahatkan Allah di alam barzakh, tanpa menikmati sedikitpun hasil perjuangannya tempo dulu, bukan pula dinikmati anak dan keturunannya.

Halaman
1234
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    berita POPULER

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved