Kupi Beungoh
Keresahan di Hari Perdamaian, di Tengah Tarik Ulur Pemerintah Pusat dan Aceh
Ada keresahan yang muncul melihat perdamaian Aceh yang seperti kehilangan ruh.
Salah satu hasil pertemuan tersebut, Presiden menunjukkan Kepala Staf Kepresiden (KSP) Moeldoko untuk menangani langsung persoalan-persoalan yang kita sebutkan di atas.
Pak Presiden Jokowi dan semua stakeholders punya tanggung jawab besar atas proses damai Aceh dan menjaga agar tidak muncul kembali persoalan-persoalan serupa.
Baca juga: VIDEO - Wawancara Khusus, Wali Nanggroe Ingin UUPA Diteliti Lagi Untuk Mengokohkan Perdamaian Aceh
Saya teringat pepatah Aceh yang berbunyi 'lam hudép tameu-saré, lam glé tameu-bila, lam lampôh tameu-tulóng alang, lam blang tameu-sjèëdara'.
Artinya: persaudaraan itu lebih baik daripada saling tuding-menuding. Kita semua harus kompak dan sepakat dalam menjaga proses perdamaian.
Dalam hal ini juga sangat diperlukan petuwah (nasihat) dari ulama Aceh, karena mereka juga salah satu elemen dasar yang ikut menyuarakan perdamaian, sekaligus ikut merawatnya sampai sekarang.
Kalau tidak, situasi saat ini akan terus menjadi objek provokasi oleh orang-orang yang tidak ingin Aceh damai
Hudép prang dengòn taki, dan hudép kheunduri dengòn do’a. Berjalan perang dengan siyasat gerilya, dan berjalan kenduri/pesta dengan doa. (*)
Baca juga: Pj Gubernur Minta Izin ke Seluruh Tokoh, Nyatakan Komit Jaga Perdamaian Aceh
PENULIS: adalah mantan kombatan GAM dan Wakil Sekretaris Jenderal Dewan Pimpinan Aceh Partai Aceh
KUPI BEUNGOH adalah rubrik opini pembaca Serambinews.com. Setiap artikel menjadi tanggung jawab penulis.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/adi-laweung-bicara-perdamaian.jpg)