Kupi Beungoh
Aceh dan Kepemimpinan Militer (VII) Al Mukammil: Hard Power dan Shock Therapy
Al Mukammil memperkuat tentara kerajaan Aceh-terutama angkatan laut, untuk penguasaan dan pengamanan teritorial kawasan maritim
Oleh Ahmad Humam Hamid*)
“Meugeureugoh”-adalah sebuah istilah bahasa Aceh yang sangat jarang digunakan. Ungkapan kata ini seringkali berasosiasi dengan kekuatan dan wibawa.
Sekalipun kata ini lebih terkait dengan kualitas individu, namun kadang ditemui juga kaitannya dengan kawasan dan komunitas.
Intinya, pesan yang dikandung, berhitunglah dengan cermat jika berurusan dengan individu, komunitas, atau kawasan yang “meugereuregoh”.
Apa yang sangat spektakulär yang terjadi ketika Al Mukammil menjadi raja Aceh yang ke 10 adalah sebuah kebijakan yang dalam kenyataannya tak ubahnya sebuah “doktrin” pertahanan.
Al Mukammil menginginkan keamanan mulut Selat Malaka sebagai pintu masuk dan keluar dari ke Samudra Hindia.
Ia memperkuat tentara kerajaan Aceh-terutama angkatan laut, untuk penguasaan dan pengamanan teritorial kawasan maritim.
Benih “city state” Aceh- negara kota yang fondasinya dibangun oleh Mughayatsyah, kemudian diperluas oleh Al Qahar, selanjutnya ditransformasikan oleh Al Mukammil menjadi digdaya kekuatan maritim kawasan.
Baca juga: Aceh dan Kepemimpinan Militer (VIII) - Al Mukammil: Soft Power dan Dansa Diplomasi
Aceh sebagai negara kota yang ekonominya tergantung pada kemajuan pedagangan membutuhkan keamanan kawasan maritim yang terjamin.
Untuk memastikan kekuatan maritim itu kuat, Al Mukammil mempersiapkan ratusan kapal perang dengan ribuan prajurit.
Salah satu komponen yang dicatat oleh pedagang dan pengunjung Aceh pada masa kehebatan komandan- pustaka asing menyebut ‘admiral”-laksamana, Keumala Hayati.
Kehebatan Malahayati tidak tanggung, Penulis produktif AS, Carl Douglas dalam Volume I dari trilogy, The Dutch Century: Domination of the Spice Trade at Any Cost (2021) menulis dengan baik, tentang tragedi tewasnya pionir penjajah Nusantara, Admiral Cornelis De Houitman di Aceh ditangan Malahayati.
Cornelis dan saudaranya, Frederick de Houtman singgah di Pelabuhan “ Bandar Aceh” pada 11 Setember 1599.
Sikap tak santun, kasar, dan pongah de Houtman, ketika berpapasan dengan tentara Aceh menimbulkan kegaduhan.
Tak pelak, terjadi perkelahian antara sebagian tentara Aceh dengan ratusan awak kapal yang juga tentara Belanda.
Diantara korban yang tewas dari kedua pihak adalah Cornelis de Hotman, yang dilukiskan oleh Douglas sebagai kematian diujung senjata “admiral”- laksamana Malahayati.
Baca juga: Aceh dan Kepemimpinan Militer (VI) - Sultan Al Mukammil, "Repertoar Raja Boneka”
Pertempuran kecil itu dimenangkan oleh Malahayati, terubukti dengan ditawannya Frederick de Houtman di Aceh selama 2 tahun.
Dasar individu pembelajar dan ambisius, dalam penjara Aceh, Frederick belajar bahasa melayu dan menulis kamus Belanda-Melayu.
Kamus itu merupakan kamus pertama dua bahasa itu, dalam sejarah yang diterbitkan pada tahun 1603.
Kamus itu kemudian menjadi alat ampuh petualangan penjajah Belanda dalam menaklukkan , menguasai,dan menjajah nusantara.
Kematian Cornelis de Houtman ditangan Malahayati, dalam sebuah pertarungan pedang di atas kapal Belanda ,mempunyai implikasi yang sangat besar.
Bagi Aceh, kejadian itu adalah demonstrasi keberanian dan kecanggihan, dan kualitas individu pimpinan tentara, apalagi seorang perempuan.
Baca juga: Polda Aceh Selidiki Asal Usul Video Pembakaran Bendera Merah Putih yang Viral di Medsos
Bagi bangsa-bangsa Eropah yang berminat menjajah Nusantara, dalam hal kerajaan Aceh, kasus Cornelis menjadi pelajaran dan pesan yang cukup berarti.
Cournelis De Houtman adalah pionir penjajahan nusantara yang kemampuan navigasi, taktik, strategi, dan teknik perang tidak diragukan.
Dia adalah pelaut dan petulang hebat yang dibayar khusus oleh sindikat pedagang rempah Belanda untuk mencari tahu, dan belajar dari pengalaman Portugis.
Seperti diketahui Portugis mendahului bangsa-bangsa Eropah berniaga dan menjajah ke Afrika dan Asia.
Paling kurang ia tinggal di Lissabon setahun lebih untuk memperoleh informasi dan belajar tentang rempah, kekuatan dan keadaan masyarakat kawasan, terutama di Nusantara.
Ia juga belajar tentang navigasi maritim mulai keluar dari Atlantik, ke semenajung Afrika, Samudra India, dan perairan Nusantara.
Sindikasi sebagian pedagang rempah Belanda kemudian membiayai Cornelis de Houtman untuk ekspedisi pertama yang membawanya sampai ke Banten pada 6 Juni 1596 ( Douglas 2021).
Segera ia membuat perjanjian pembelian lada dengan raja Banten, bahkan terkesan hendak meminggirkan monopoli Portugis yang telah datang sebelumnya.
Kelakuan Cornelis dan awak kapalnya dalam penjelajahan itu menggambarkan dua hal sekaligus.
Baca juga: Harga TBS Kelapa Sawit Terus Naik, Petani Gembira, Segini Harga Sawit di Aceh Singkil
Kesombongan dan keberuntungan. Ia bentrok dengan raja Banten,sehingga tak bisa membeli lada. Ia juga biang kerok keributan ketika mendarat di Madura.
Terbunuhnya Cornelis menjadi kampanye besar kehebatan angkatan perang Kerajaan Aceh di Eropah. Inggris sangat segera mersepons terhadap kejadian itu.
Belanda yang sebelumnya sudah mendapat perhatian Aceh, juga tidak mengutuk Al Mukammil, apalagi mengancam untuk menyerang.
Kematian Cornelis menjadi sebuah keberuntungan tak sengaja, dan kasus itu menjadi “shock therapy”, terhadap penganggu kedaulatan Aceh.
Kejadian itu tidak hanya menjadi bukti terhadap pegendalian wilayah maritim Aceh, tetapi juga refleksi tehnologi perang maritim, kompetensi navigasi kelautan, dan kecanggihan angkatan perang.
Dua tahun setelah kematian Cornelis, Belanda memberi reaksi yang sama sekali tidak menunjukkan sikap marah.
Raja Belanda Prince Maurice mengrim surat kepada Al Mukammil, dan surat itu bahkan menjadi era diplomatik baru untuk kedua negara.
Surat itu dibawa oleh Le Roy dan Bicker dari perusahaan Zeland (Mitrasing 2011) dan tiba di Aceh pada tahun 23 Agustus 1601).
Baca juga: Aceh dan Kepemimpinan Militer (V) - Alaiddin Riayat Syah, Sulaiman Agung, dan Laksamana Kortuglu
Prince Maurice menyatakan keinginan Belanda untuk bersahabat dengan Aceh, menuduh Portugis telah memfitnah Cornelis kepada raja Aceh, dan kini bersedia membantu Aceh untuk memerangi Portugis.
Maurice juga memohon agar Frederick de Houtman dapat dibebaskan.
Maurice juga mengirim berbagai barang-barang berharga kepada Al Mukammil sebagai tanda ketulusan persahabatan.
Surat dan bingkisan itu segera direspons oleh Al Mukammil, Frederick de Houtman memang segera di bebaskan, dan ia segera bergabung dengan Le Roy dan Becker pulang ke negeri Belanda.
Menariknya, kebiasaan kesopanan diplomatik yang ditunjukkan oleh Maurice kepada Al Mukkammil, apapun alasannya sangat tidak biasa.
Alih-alih menulis tertanda “raja Belanda” di akhir surat , ia menulis “ kissing hand “-cium tangan yang mulia, dan “ your servant”-pelayanmu.
Penghormatan ini memang sangat tidak biasa, karena ditulis oleh seorang raja jago perang yang telah mempersatukan sejumlah kerajaan kecil yang kemudian menjadi Uni Belanda.
Kejadian terbunuhnya Cornelis juga mendapat reaksi cepat dari Kerajaan Inggis.
Ratu Elizabeth I segera menyadari penguasaan maritim mulut Selat Malaka oleh kerajaan Aceh yang semakin hari semakin mencengkeram.
Baca juga: Aceh dan Kepemimpinan Militer (IV) - Alaiddin Riayat Syah, Sang Penakluk dan Armadanya
Itu artinya armada dagang Inggris yang sedang memperluas ekspansinya berikut armada tentara pengawalnya tidak boleh bermasalah dengan Aceh.
Ratu Elizabeth I memulai suratnya dengan menulis surat kepada Al Mukammil dengan sebutan yang mulia “my brother- abangku ( Banck 1873 dan Unger 1948, dalam Mitrasing, 2017).
Lagi-lagi sebutan kesopanan dan puja puja diplomatik yang ditunjukkan Inggris tidak kalah hebatnya dari surat Prince Maurice dari Belanda.
Elizabeth menyebutkan kesenangannya terhadap Aceh yang terus menerus memerangi Portugis.
Lebih lanjut sang Ratu juga menyatakan kesediaanya untuk membangun aliansi militer Inggris-Aceh untuk memerangi Portugis di Nusantara.(*)
Baca juga: Aceh dan Kepemimpinan Militer (I) - Dari Klasik Hingga Kontemporer
*) PENULIS adalah Sosiolog dan Guru Besar Universitas Syiah Kuala (USK) Banda Aceh.
KUPI BEUNGOH adalah rubrik opini pembaca Serambinews.com. Setiap artikel menjadi tanggung jawab penulis.
Baca Artikel KUPI BEUNGOH Lainnya di SINI
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/ahmad-humam-hamid_sosiolog-guru-besar-universitas-syiah-kuala_ai.jpg)