Jurnalisme Warga
Menggairahkan Kembali Tradisi Baca Nazam di Aceh Besar
Nazam Teungku Di Cucum adalah sebuah risalah nasihat agama yang sangat digemari masyarakat di tiga kecamatan dalam kabupaten Aceh Besar
Selain membaca nazam atas undangan masyarakat, beliau juga menyalin puluhan naskah Nazam Teungku Di Cucum.
2.H Abdurrahman alias Pak Mukim, 74 tahun, warga Gampong Lam Ceu, Mukim Rabo, kecamatan Kuta Baro, Aceh Besar.
Beliau bergiat membaca nazam selama 20 tahun sampai kedua mata beliau menjadi rabun oleh katarak, barulah beliau berhenti.
Namun, ia telah mempersiapkan seorang anak asuh pembaca nazam yang bernama panggilan Muki.
3.Tgk Ismail Daud (Cut ‘E), 72 tahun, warga Tanjong Dayah, Kecamatan Darussalam, Aceh Besar.
Beliau sudah bergiat membaca nazam selama lebih 50 tahun.
Sebagai pendukung “gerakan gerilya" ini, saya mencari dukungan dari beberapa tokoh Aceh dan lembaga terkait.
Prof Dr Hasbi Amiruddin MA , Guru Besar UIN-Ar Raniry, adalah tokoh Aceh pertama yang saya jumpai.
Lalu Prof Dr Farid Wajdi MA yang Rektor UIN Ar-Raniry saat itu, juga sebagai tokoh Aceh Besar, Drs Muhammad Muis MSi, Kepala Balai Bahasa Provinsi Aceh, Banda Aceh .
Kemudian saya antarkan surat usulan kepada Panitia PKA VII, dan terakhir saya melangkah ke Kantor DPRA untuk menemui H Musannif SE, Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Aceh saat itu.
Beliau juga sebagai tokoh Aceh Besar. Minta dukungan yang sama juga saya sampaikan kepada Prof Dr Rusydi Ali Muhammad SH sebagai Direktur Pascasarjana UIN Ar-Raniry saat itu.
Beliau adalah Ketua Literasi Tradisional Provinsi Aceh.
Sebenarnya, saya punya niat juga bertandang ke Kantor Bupati Aceh Besar, tetapi batal.
Bila turut saya kisahkan lika-liku menjumpai para tokoh Aceh itu, bagi saya yang kemana-mana mesti bertongkat serta dipapah orang lain, saya takut ulasannya kepanjangan.
Saya amat menyayangkan usulan saya belum berhasil alias gagal.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/TASAKTI-peminat-manuskrip-dan-sastra-Aceh-melaporkan-dari-Banda-Aceh.jpg)