Sabtu, 18 April 2026

Kupi Beungoh

Antara TRK dan Bang Bram, Akankan Golkar Bernasib Sama seperti Demokrat?

Jika pergantian itu benar-benar terlaksana, ini akan menjadi pukulan telak bagi Demokrat, yang menurut saya gagal membaca suasana kebatinan di DPRA

Penulis: Yocerizal | Editor: Amirullah
ist
Teuku Raja Keumangan dari Golkar dan HT Ibrahim dari Demokrat. 

Hal itu bisa jadi benar. Tetapi hingga Nova lengser dari jabatannya sebagai gubernur pada 5 Juli 2022, hingga sekarang kondisinya masih belum berubah.

Seingat saya, setidaknya sudah beberapa kali diagendakan rapat membahas pergantian Dalimi, tetapi selalu gagal.

Dimulai dari rapat paripurna tanggal 1 Maret 2022 yang hanya dihadiri 33 orang, baik secara fisik (tatap muka), virtual (online), maupun hybrid (gabungan keduanya).

Rapat tersebut tak cukup kuorum, karena sesuai dengan tata tertib (tatib), jumlah yang harus hadir adalah sebanyak 2/3 dari total anggota dewan, yang berarti 54 orang.

Untuk mengagendakan ulang rapat paripurna itu, maka harus dilakukan rapat badan musyawarah (Banmus).

Ini pun, beberapa kali diagendakan selalu berakhir gagal. Juga dengan alasan yang sama, karena peserta yang hadir tak cukup kuorum.

Jadi, jika bukan karena pengaruh Nova Iriansyah, lalu apa yang menyebabkan rapat pergantian wakil ketua DPRA usulan Demokrat selalu gagal?

Padahal secara kepartaian, hubungan Demokrat dengan partai lainnya, termasuk Partai Aceh selaku partai penguasa, juga cukup baik.

Baca juga: Why Not The Best? Alasan Surya Paloh dan NasDem Pilih Anies Baswedan sebagai Capres 2024

Demokrat, sepeninggal Nova bahkan ikut bergabung dalam Koalisi Aceh Bermartabat (KAB) bentukan Partai Aceh.

Demokrat juga mendapatkan posisi dalam Alat Kelangkapan Dewan (AKD) sebagai wakil ketua Komisi VI dan sebagai anggota Badan Kehormatan Dewan (BKD).

Hal ini sekaligus membuktikan bahwa komunikasi politik yang dibangun Partai Demokrat sebenarnya cukup bagus.

Karena itu saya menduga, akar masalahnya bukan pada pengaruh Nova Iriansyah ataupun juga hubungan lintas partai.

Tetapi ada faktor lain yang mungkin lebih bersifat pribadi, sehingga sebagian anggota dewan kompak (ingin) menggagalkan rencana Bang Bram naik ke kursi pimpinan dewan.

Tapi apa yang saya sampaikan itu masih sebatas dugaan dan baru terbukti saat DPRA menggelar sidang paripurna pergantian wakil ketua usulan Golkar yang diperkirakan dalam waktu dekat ini.

Peluang pergantian dalam waktu dekat itu sangat dimungkinkan, karena beberapa anggota dewan yang saya tanyai mengaku memiliki hubungan komunikasi yang baik dengan TRK.

Halaman 2/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved