Kupi Beungoh

Menempatkan Kembali Agama

Nilai-nilai kebajikan yang bersumber dari ajaran agama Islam menjadi landasan yang kokoh untuk menciptakan tatanan sosial yang harmoni dan sejahtera

Editor: Muhammad Hadi
SERAMBINEWS.COM/Handover
Jabal Ali Husin Sab, pendiri komunitas intelektual Menara Putih. Tinggal di Banda Aceh 

Oleh: Jabal Ali Husin Sab*

Erich Fromm dalam The Sane Society (1955) menulis tentang suatu fenomena psikologis dimana masyarakat di negara maju seperti negara-negara Scandinavia, Britania Raya dan Eropa secara umum, memiliki tingkat bunuh diri yang tinggi bersamaan dengan tingginya tingkat konsumsi alkohol. Fenomena tersebut dihubungkan dengan kondisi gangguan mental yang diderita warga negara.

Mengapa di negara yang sudah mencapai kesejahteraan secara materi atau ekonomi, distribusi kekayaan yang baik, hidup damai dengan kesetaraan hak politik dalam demokrasi, masyarakatnya didera oleh kekalutan psikologis dan gangguan mental, yang mengakibatkan mereka memutuskan untuk bunuh diri dan terikat dengan konsumsi alkohol?

Ternyata manusia tidak sesederhana mengisi perut dengan makanan dan minuman belaka. Juga bukan hanya perihal memuaskan kebutuhan seks semata. Manusia adalah makhluk dengan kesadaran psikologis yang kompleks.

Ia mempunyai kebutuhan yang jauh lebih besar ketimbang hanya kebutuhan instingtif seperti makan, minum dan seks saja. Manusia bisa merasa bosan, kesepian, menderita, terasing, sedih, senang, menghormati dan dihormati dan berbagai persoalan eksistensial lainnya.

Baca juga: Aceh dan Kepemimpinan Militer (XII) Benarkah Iskandar Muda Raja Liberal ?

Persoalan eksistensial ini terkait dengan manusia sebagai makhluk yang memiliki akal. Akal selain membuat manusia menjadi satu-satunya makhluk yang memiliki kemampuan melebihi dari insting bertahan hidup, akal membuat manusia mampu untuk berkembang, berasosiasi dalam kelompok hingga membangun peradaban yang kompleks.

Akal membuat manusia selalu mempertanyakan tentang makna keberadaannya. Ia terkait dengan persoalan filosofis tentang dirinya. Manusia juga memiliki keinginan untuk menjadi seperti yang ada dalam dunia imajinya. Manusia senantiasa mengidamkan realitas yang sejalan dengan idealitas.

Bagi Fromm, manusia adalah makhluk yang ideal. Manusia memiliki kemampuan untuk mewujudkan ide menjadi nyata dan mempunyai daya cipta. Bukan hanya menciptakan sesuatu yang tampak atau berwujud materi, lebih dari itu, manusia menciptakan simbol-simbol, pemaknaan dan identitas.

Ketidakmampuannya untuk mewujudkan kondisi ideal seperti yang ia imajinasikan dan kealpaan kebutuhan-kebutuhan alamiah bawaannyaa (fitrah) sebagai manusia, dapat menjadikan manusia goncang secara psikologis. Ketidakmampuan tersebut membuat manusia terganggu kewarasannya. Gusar dan gundah gulana batinnya.

Kegundahan yang berlarut yang dialami seorang pekerja korporat di Tokyo, Jepang yang disebabkan oleh kejenuhannya dan keterasingannya sebagai makhluk sosial, membuatnya memilih bunuh diri.

Kegagalan dirinya menghadapi keterasingan dalam masyarakat yang individualistik, menjadikan uang dan kebutuhan mendasar seperti makanan, pakaian dan hunian yang dirindukan oleh manusia lain di Afrika yang hidup dalam kemiskinan ekstrim, tidak berarti lagi baginya. Kematian menjadi lebih baik ketimbang hidup dalam nestapa.

Baca juga: Pj Gubernur Aceh Silaturahmi dengan HUDA, Marzuki: Saya Ingin Aceh Maju

Kejenuhan dengan kehidupan yang tanpa makna itu agaknya yang membuat penduduk di negara-negara maju dengan tingkat kesejahteraan yang tinggi memutuskan untuk bunuh diri.

Sepertinya perihal manusia dan kebahagiaan, bukanlah ranah statistik untuk mengukurnya. Meski memang tanpa data statistik sama sekali, akan lebih sulit untuk menentukan gejala-gejala sosial yang terjadi.

Data statistik telah banyak membantu untuk menghilangkan kemiskinan, kelaparan, penyakit dan persoalan manusia lainnya. Namun statistik tidak dapat menjadi satu-satunya indikator dalam mengukur manusia. Manusia memiliki persoalan eksistensialnya yang begitu kompleks.

Masalah eksistensial manusia berbeda dari satu individu dengan individu lainnya. Namun satu kelompok masyarakat atau kebudayaan mempunyai shared value atau nilai kolektif yang dianut bersama. Yang mana nilai tersebut menjadi semacam pegangan bagi persoalan ekistensial.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved