Kupi Beungoh

Menempatkan Kembali Agama

Nilai-nilai kebajikan yang bersumber dari ajaran agama Islam menjadi landasan yang kokoh untuk menciptakan tatanan sosial yang harmoni dan sejahtera

Editor: Muhammad Hadi
SERAMBINEWS.COM/Handover
Jabal Ali Husin Sab, pendiri komunitas intelektual Menara Putih. Tinggal di Banda Aceh 

Tentang identitas, jati diri, dan mengenai persoalan filosofis manusia. Nilai atau norma bersama tersebut yang membuat satu individu dengan individu lainnya dapat hidup bersama dalam harmoni.

Nilai bersama atau norma menjadikan manusia memiliki arah tujuan, punya fungsi sosial, punya pegangan tentang nilai baik dan buruk. Nilai tersebut lahir dari ajaran agama. Ketiadaan agama, telah membuat kehidupan menjadi kacau-balau. Batin manusia goncang. Imbasnya, tatanan masyarakat menjadi goyah.

Baca juga: AirAsia Terbang Ke Aceh, Momentum Bangkitnya Pariwisata dan Ekonomi

Anne Case, bersama dengan pemenang nobel ekonomi tahun 2015 Angus Deaton menulis tentang kematian putus asa (death of despair) yang terjadi di Amerika Serikat (2020) diakibatkan oleh penggunaan obat-obatan opioid, bunuh diri dan konsumsi alkohol.

Ia memang menggarisbawahi bahwa kasus tersebut terjadi pada warga kulit putih Amerika Serikat yang berpendidikan rendah, mereka yang tidak mengenyam pendidikan di bangku universitas. Mereka adalah kelas pekerja yang makin terasing di tengah hegemoni kuasa modal sistem kapitalisme di Amerika Serikat.

Mereka menegaskan bagaimana kapitalisme telah disandera oleh kuasa modal yang menekan kelas pekerja berpendidikan rendah yang terasing. Penyebabnya adalah persoalan politik dan ekonomi.

Namun apabila kita melihat pola dari kematian putus asa yang diangkat, kita dapat melihat bagaimana mereka yang mati putus asa, telah lebih dulu hidup dalam kolapsnya norma sosial dan berjaraknya masyarakat dengan agama

Mereka yang mati putus asa rata-rata cenderung meninggalkan agama, mereka meninggalkan nilai tatanan lama; hidup tanpa ikatan pernikahan, dan terlibat dalam konsumsi zat adiktif untuk mengobati hidupnya yang putus asa.

Case dan Eaton menyatakan bahwa kolapsnya norma sosial dengan memilih kehidupan tanpa komitmen pernikahan awalnya sebuah kebebasan bagi banyak orang, namun dampaknya harus dibayar mahal dalam jangka waktu panjang. Ketiadaan keluarga mengakibatkan perasaan kesepian dan keterasingan yang berujung pada gangguan psikologis.

Baca juga: Aktivis LSM Antinarkoba, Kini Bela Irjen Teddy Minahasa, Henry: Demi Allah Saya belum Bicara Honor

Pendek kata, meski kematian putus asa di Amerika Serikat terkait dengan ketidakadilan secara politik dan ekonomi, namun faktor ketiadaan agama dan ketiadaan panduan hidup melalui ajaran agama seakan mempercepat proses untuk mati secara putus asa.

Fenomena yang terjadi di Barat sejak abad 20 hingga abad 21 seharusnya menyadarkan kita bahwa agama adalah bagian penting dalam terciptanya harmonisasi sosial dalam suatu masyarakat.

Ketika manusia coba membangun peradaban yang menjunjung tinggi kebebasan dan lantas meninggalkan agama, hal ini memberikan konsekuensi logis tersendiri terhadap tatanan masyarakat.

Bagi umat muslim di Indonesia, keberagamaan kita sebenarnya adalah modal besar untuk membangun ketahanan bangsa dan negara.

Baca juga: Aceh dan Kepemimpinan Militer (VII) Al Mukammil: Hard Power dan Shock Therapy

Islam semestinya menjadi etos tersendiri untuk membangun masyarakat yang kuat dalam menghadapi berbagai persoalan.

Nilai-nilai kebajikan yang bersumber dari ajaran Islam menjadi landasan yang kokoh untuk menciptakan tatanan sosial yang harmoni dan sejahtera.

*) PENULIS adalah pendiri komunitas intelektual Menara Putih. Tinggal di Banda Aceh.

KUPI BEUNGOH adalah rubrik opini pembaca Serambinews.com. Setiap artikel menjadi tanggung jawab penulis.

Baca Artikel Kupi Beungoh Lainnya di SINI

Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved