Salam
Soal Muslim Uighur China Harus Terbuka
Sebanyak 50 negara mengecam pelanggaran hak asasi manusia (HAM) berat dan sistematis terhadap komunitas Muslim Uighur di Xinjiang, China
Turunanan ras Eropa Asia tengah, ini diperkirakan telah mendiami wilayah Xinjiang sejak era Jalur Sutera.
Pemerintahan Beijing dalam keputusan politiknya memasukkan wilayah Uighur ini ke dalam provinsinya dan menamakannya dengan Xinjiang dalam tahun 1949.
Sebelum itu, selama berabad abad etnis Uighur mandiri tanpa tunduk pada kekuasaan manapun.
Uighur memang berbeda.
Etnis Uighur memiliki fisik putih, sehingga nampak menonjol dengan etnis lain di Cina secara umum.
Sementara secara budaya, lebih dekat dengan ras Turkistan.
Sedangkan beberapa pendapat lain mengatakan, Uighur mempunyai garis keturunan dengan Turki.
Namun, bukan keadaan fisik ini yang semata mata membuat Uighur mendapatkan perlakuan minoritas atau diskriminasi dalam pemerintahan Komunis Cina.
\Diskriminasi ini makin kentara saat Pemerintahan Beijing membatasi aktivitas keagamaan etnis Uighurs seperti melarang menjalankan ibadah puasa Ramadhan bagi para pegawai negeri, mahasiswa, dan anak anak.
Selain itu China juga membuat wilayah Uighur atau Xinjiang sebagai wilayah tertutup.
Makanya, muncul mendesak supaya Beijing membuka akses, terutama untuk tokoh tokoh negeri muslim mengunjungi kawasan itu.
Jangan cuma membantah dengan mangatakan bahwa hasil investigasi banyak pihak itu hanya propaganda untuk kepentingan politik Amerika Serikat dan Inggris.
Nah?!
Baca juga: RI Tolak Bahas Isu Uighur di PBB, Diusulkan Negara Barat untuk Serang China
Baca juga: Mahasiswi Uighur Xinjiang Lari ke Turki, Usai Dibebaskan dari Penjara Pemerintah China
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/pembangunan-kamp-interniran-di-xinjiang-china.jpg)