Senin, 20 April 2026

Jurnalisme Warga

Kegalauan Menunggu Banjir Seumadam Surut

ACEH Tamiang sedang dilanda banjir sehingga hubungan darat Aceh-Sumut putus total selama tiga hari

Editor: bakri
hand over dokumen pribadi
Prof. Dr. APRIDAR, S.E., M.Si, Guru Besar Ilmu Ekonomi Studi Pembangunan Universitas Syiah Kuala (USK) dan Ketua Dewan Pakar ICMI Orwil Aceh, melaporkan dari Seumadam, Aceh Tamiang 

Kekecewaan masyarakat di Aceh yang ingin menyeberang ke luar provinsi, serta mereka yang ingin masuk ke Aceh di seputaran Gampong Seumadam terlihat dengan nyata.

Sebagian besar mereka yang berada dalam kendaraan yang dikelilingi oleh air yang tumpah ruah di jalan di hampir sepuluh titik jalan yang banjir mulai memengeluarkan unek-unek serta ketidakpuasan terhadap kepedulian pemerintah yang dirasakan sangat minim.

Begitu banyak masyarakat yang terlunta-lunta dalam tiga hari ini.

Di lapangan hampir tidak ada aparatur pemerintah yang mengatur serta memberikan pelayanan agar mereka bisa melalui area banjir yang merintangi tersebut.

Apabila ada pengaturan, semisal kendaraan kecil tidak diizinkan melintas, sehingga tidak menutupi jalan yang telah diisi oleh ratusan kendaraan baik sisi kiri maupun di sisi kanan.

Apabila ada pengaturan yang baik, misalnya kendaraan besar dipandu hingga bisa berkurang penumpukan kendaraan di titik-titik tertentu.

Setelah air mulai surut, baru dibolehkan kendaraan sedang dan kecil melintas berikutnya.

Baca juga: Polres Aceh Tamiang Bagikan Makanan untuk Pengendara yang Terjebak Banjir

Pengaturan cerdas itu semestinya dapat dilakukan oleh aparatur yang berwenang sehingga masyarakat dapat mengikuti dengan tertib dan baik.

Hal ini tentu akan dapat mengurai kemacetan sehingga kelancaran perjalanan dapat terjadi secara bertahap.

Sebagian pengguna jalan yang sudah membeli tiket penerbangan untuk terbang melalui Bandara Kualanamu (KNO) terlihat sangat cemas.

Mereka memastikan tak sampai ke bandara dan tentu tiketnya akan hangus dengan sendirinya.

Yang lebih susah lagi terlihat para sopir yang membawa ikan segar.

Es batu yang dimasukkan dalam fiber ikan efektif bertahan di bawah 12 jam.

Namun, apabila telah melebihi waktu tersebut yang dihitung saat pengisian dari kapal tangkap, kemungkinan besar ikan tersebut akan membusuk tentu tak akan mau dibeli oleh penampung besar yang berada di Medan.

Perkara banjir ini membuat para nelayan rugi ratusan juta rupiah.

Halaman 2/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved