Jurnalisme Warga
Kegalauan Menunggu Banjir Seumadam Surut
ACEH Tamiang sedang dilanda banjir sehingga hubungan darat Aceh-Sumut putus total selama tiga hari
OLEH Prof. Dr. APRIDAR, S.E., M.Si, Guru Besar Ilmu Ekonomi Studi Pembangunan Universitas Syiah Kuala (USK) dan Ketua Dewan Pakar ICMI Orwil Aceh, melaporkan dari Seumadam, Aceh Tamiang
ACEH Tamiang sedang dilanda banjir sehingga hubungan darat Aceh-Sumut putus total selama tiga hari.
Saya termasuk pelintas yang terjebak dalam banjir besar ini.
Posisi saya saat terjebak banjir di Seumadam, salah satu gampong yang berada di Kecamatan Kejuruan Muda, Kabupaten Aceh Tamiang, Provinsi Aceh.
Kabupaten ini merupakan hasil pemekaran dari kabupaten induknya, Aceh Timur, terletak di perbatasan Aceh-Sumatra Utara (Sumut) di jalur timur Sumatra.
Daerah lintasan ini sangat strategis dan hanya berjarak sekitar 250 km dari Kota Medan sehingga akses serta harga barang di kawasan ini relatif lebih murah daripada di daerah lainnya di Aceh.
Di samping itu, kawasan ini relatif lebih aman dari konflik pemberontakan Gerakan Aceh Merdeka (GAM) sejak 1976- 2005.
Ketika seruan mogok oleh GAM diberlakukan di seluruh Aceh, hanya kawasan ini, khususnya Kota Kuala Simpang, yang aktivitas ekonominya relatif tetap berdenyut.
Dengan terwujudnya nota kesepahaman damai antara Pemerintah RI dan GAM di Helsinki 16 Agustus 2005, menjadikan Aceh damai dan sejahtera.
Masyarakat merasakan kemerdekaan yang sesungguhnya setelah konflik reda, utamanya bebas bergerak ke mana pun secara leluasa sehingga dapat mencari nafkah ke berbagai daerah, bahkan hingga ke hutan belantara.
Baca juga: Kendaraan ‘Mengular’ Sampai Langkat, Medan-Banda Aceh Masih Lumpuh, Jenazah Sempat Tertahan 7 Jam
Baca juga: Polres Aceh Tamiang Bagikan Makanan untuk Pengendara yang Terjebak Banjir
Kebiasaan masyarakat pencari rotan, para pemburu rusa liar, maupun pengelolaan berbagai hasil hutan dapat dilakukan dengan aman.
Keadaan yang menyenangkan tersebut juga membuat para perusak lingkungan seperti pembalak hutan juga dengan leluasa dapat menjalankan kebiasaan buruknya.
Akibatnya, hampir sebagian besar daerah Aceh diselimuti banjir saat hujan rahmat Allah turunkan.
Kontradiksi dengan rahmat hujan yang diturunkan dari atas tersebut, para pengelola negara dinilai masih sangat lemah serta belum memberikan manfaat lebih terhadap kesejahteraan masyarakat pada umumnya.
Secara umum masyarakat berharap banyak agar kebodohan dalam merawat lingkungan tidak dipelihara secara permanen.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/apridarrr.jpg)