Kupi Beungoh

Anwar Ibrahim: Pangeran Prinsip dan Sabar

Anwar menjadi bahan perbincangan internasional yang menggelegar ketika ia menjalani pengadian dengan mata hitam yang sembam.

Editor: Amirullah
SERAMBINEWS.COM/Handover
Prof. Dr. Ahmad Human Hamid, MA, Sosiolog dan Guru Besar Universitas Syiah Kuala Banda Aceh. 

Mahathir marah bukan kepalang, dan yang terjadi kemudian adalah sebuah skenario besar untuk membendung Anwar masuk ke gelanggang kekuasaan, terutama untuk jabatan Perdana Menteri.

Baca juga: Cerita Tiga Pemimpin Dunia, dan Takdir Anies Baswedan

Berbeda dengan reformasi di Indonesia yang menyebabkan Suharto berhenti menjadi presiden, reformasi di Malaysia justeru membuat penggagas sekaligus tokohnya-Anwar Ibrahim, masuk penjara.

Tak tanggung justeru ia sendiri dituduh oleh Perdana Menteri Mahathir yang terlibat korupsi. Tak cukup dengan itu, polisi bahkan menyatakan Anwar melakukan sodomi terhadap supirnya.

Teater itu dimulai dengan terbitnya sebuah buku yang awalnya beredar dikalangan UMNO dan Barisan Nasional. Judul buku itu sangat seram.

“50 Alasan Kenapa Anwar Tak Layak Jadi Perdana Menteri”. Buku itu menguraikan kekurangan Anwar secara kolosal, dengan dua fokus utama, korupsi, dan sodomi.

Tidak cukup dengan kata dan kalimat, ada infografis yang canggih yang menguraikan tentang sodomi Anwar.

Sebenarnya kecemburuan elite UMNO dan keraguan Mahathir sudah berlangsung lama, akibat media barat terlalu menyanjung Anwar yang dianggap lebih demokratis dan tehnokratis.

Setahun sebelum krisis, 1977, majallah internasional bergengsin, TIME, mendaulat Anwar di sampel kulitnya dengan banner “ masa depan Asia”

Baca juga: Aceh dan Kepemimpinan Militer (XIII) Van Heustz: Doktrin Perang dan “De Slager van Atjeh”

Anwar menjadi bahan perbincangan internasional yang menggelegar ketika ia menjalani pengadian dengan mata hitam yang sembam.

Rupanya ia dihajar beramai-ramai oleh polisi yang mendapat order dari “kekuasaan”.

Ia bahkan mendapat “jab” keras yang membuat matanya sembam dan hitam dari orang dekat Mahathir, Kepala Polisi Malaysia, Rahim Noor.

Ketika berita itu tersebar Mahathir dan Noor menyebutkan itu tak lebih dari ulah Anwar membenturkan muka dan matanya dengan gelas untuk mencari simpati publik.

Mata sembam hitam itu menjadi pembicaraan dan perhatian besar tokoh dan berbagai lembaga dunia.

Amnesty internasional menuduh pemerintah Mahathir telah berlaku tiran. Wapres AS bahkan terang-terangan menyebut dukungannya untuk Anwar.

Di Indonesia mantan presiden Habibie memberikan semangat kepada Anwar, dan ketika Anwar bebas pada 2004 mereka menjadi sohib kental.

Halaman 3/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved