Opini

Libido Menguras ‘Non-Renewable Energy’ Aceh

Contoh dari energi tak terbarukan yang sangat dikenal, yaitu bahan bakar fosil seperti batu bara, gas alam, dan minyak bumi

Editor: bakri
hand over dokumen pribadi
Prof Dr APRIDAR SE MSi, Guru Besar Ilmu Ekonomi Studi Pembangunan Universitas Syiah Kuala (USK) dan Ketua Dewan Pakar Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) Orwil Aceh 

Dengan kalimat lain, seakan-akan pembangunan akan terjadi apabila perusahaan milik pemerintah Aceh tersebut mampu mengeksploitasi minyak dan gas bumi lebih optimal.

Untuk dapat menguras minyak bumi setiap sumur yang akan dibuka, memerlukan anggaran sekitar 300 juta $AS.

Dengan modal pengurasan yang begitu besar, namun belum dapat memastikan perolehan minyak dan gas bumi yang diharapkan.

Pertaruhan terhadap risiko yang begitu besar, tidak membuat para engineer turun semangatnya.

Bahkan mereka selalu memperlihatkan kedisiplinan serta kinerja yang luar biasa dalam menguras energi tak terbarukan tersebut.

Para pemilik modal dengan keyakinan penuh akan selalu berupaya maksimal untuk menggelontorkan anggaran dengan harapan dapat mengeksploitasi rahmat Allah yang berada dalam perut bumi Aceh.

Dengan menggunakan teknologi digitalisasi foto satelit, yang dilanjutkan dengan seismik yang dilakukan dengan kapal dilepas pantai atau kendaraan alat berat di daratan.

Setelah potensi sumber daya alam yang tersembunyi tersebut mampu mereka ketahui, sehingga muncul keinginan yang begitu besar untuk segera menguras migas untuk diperdagangkan dalam bentuk minyak mentah atau petroleum.

Baca juga: HinggaKuartal III 2022,Lifting Migas Capai 110 Persen, 21 Ribu Barel

Setelah diolah minyak mentah di luar negeri seperti Singapura, biasanya minyak jadi tersebut kembali dijual ke dalam negeri.

Sehingga nilai tambah yang diterima Singapura lebih tinggi dibandingkan pemilik minyak mentah itu sendiri.

Namun konsep dagang yang telah diikat dalam perjanjian jangka panjang, tidak mungkin diubah sehingga ketentuan tersebut sudah menjadi kebiasaan yang berlaku dalam perdagangan luar negeri.

Minyak bumi pertama sekali ditemukan oleh bangsa Cina pada tahun 347 setelah masehi yang menggunakan bambu mereka mampu mengebor hingga 243 meter dan mendapatkan minyak untuk pertama kali.

Di Benua Amerika berhasil membangun migas pertama di Ontario Canada pada tahun 1858.

Kemudian pada tahun 1920- 1940 perkembangan migas mengalami kemajuan pesat yaitu dimulainya pengeboran offshore lepas pantai.

Pada tahun 1981 pengeboran lepas pantai secara horizontal hingga saat ini telah berhasil dilakukan.

Halaman 2/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved