Kupi Beungoh
2023: Polikrisis dan Ancaman "Politik Normal Baru"
Apa yang terjadi hari ini, terutama setelah perang Ukraina, adalah kehidupan masyarakat global yang memasuki sebuah lorong panjang yang nyaris gelap
Oleh: Ahmad Humam Hamid*)
UPAYA mencari sebuah kata untuk menerangkan seluruh kejadian yang terjadi selama setahun penuh-seperti tahun 2022- bukanlah pekerjaan yang mudah.
Berbagai upaya yang dilakukan oleh lembaga penerbit kamus internasional, seperti Oxford, Meriam Webster, dictionary.com, ataupun Collins Dictionary tetap saja tak solid dan memuaskan.
Pasalnya sangat sederhana. Keempat penerbit itu tak mendapatkan kata yang seragam.
Akarnya? Metode yang digunakan tak sama, yakni survei atau mesin pencari dengan cara yang berbeda.
Persoalan global hari ini cukup banyak, mulai dari pandemi, perang, energi, pangan, ekonomi dan keuangan.
Untuk membuatnya ringkas, seorang Profesor sejarah di Universitas Columbia, AS, Adam Tooze, mengumpulkan semua krisis untuk kemudian dijadikan satu kata “polycrisis”, yang kalau diindonesiakan menjadi polikrisis.
Tooze, lulusan jurusan Sejarah London School of Economics, dikenal sebagai ahli sejarah ekonomi, khususnya tentang bencana keuangan yang pernah menimpa umat manusia.
Ketika ia menggunakan kata “polikrisis” dalam bukunya Shutdown (Viking Publisher 2021), tentang dampak hebat Pandemi Covid19, kata itu bukanlah istilah baru.
Kata polikrisis diperkenalkan oleh Edgar Morrin pada tahun 1999.
Morrin adalah sosiolog Perancis berdarah Yunani yang sampai hari ini dikenal sebagai salah seorang “nabi” teori kompleksitas.
Ini adalah teori yang menerangkan “semua” berhubung dengan “semua” dalam sebuah jaringan dan interaksi yang sangat rumit, namun berpeluang untuk diterangkan.
Melanjutkan Morrin, dalam hal Covid-19, Tooze mendeskripsikannya secara singkat tak lebih dari konvergensi “kue lapis” resiko biologis, sosial, ekonomi, dan politik yang merayap secara dosmetik maupun global, menyapu berbagai landskap kehidupan manusia dan kemanusiaan yang tak pernah terbayangkan.
Apa yang terjadi hari ini, terutama setelah perang Ukraina, adalah kehidupan masyarakat global yang memasuki sebuah lorong panjang yang nyaris gelap yang belum pernah terjadi dalam sejarah ummat manusia.
Kini persoalannya bukan saja tentang dampak Covid yang belum selesai, ataupun perang Ukraina yang akan terus berlanjut, akan tetapi juga tersambung dengan ancaman perobahan iklim global yang semakin mencengkeram.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/foto-prof-humam-terbaru.jpg)