Selasa, 14 April 2026

Kupi Beungoh

2023: Polikrisis dan Ancaman "Politik Normal Baru"

Apa yang terjadi hari ini, terutama setelah perang Ukraina, adalah kehidupan masyarakat global yang memasuki sebuah lorong panjang yang nyaris gelap

Editor: Zaenal
SERAMBINEWS.COM
Prof. Dr. Ahmad Human Hamid, MA, Sosiolog dan Guru Besar Universitas Syiah Kuala Banda Aceh. 

Sekitar 5 juta kematian-yang berhubungan langsung atau tak langsung dengan perobahan iklim terjadi antara tahun 2019-2021 (Monash University 2021).

Bandingkan dengan Covid-19, 6.7 juta kematian (2019-2022), dan perang Ukraina sekitar 100 ribu kematian selama setahun perang-2022.

Jika daya rusak ketiga bencana itu dihitung secara terpisah, kemudian digabungkan, jumlahnya akan jauh lebih kecil jika dibandingkan dengan hitungan secara keseluruhan. 

Efek resultannya yang saling berkaitan secara berlanjut akan memberikan korban yang jauh lebih banyak dibandingkan dengan perjumlahan biasa.

Interaksi inilah yang menjadi jantung dari polikrisis yang disebut oleh Adam Tooze, dan kini semakin dirasakan oleh dunia.

Apa yang terjadi hari ini adalah kompleksitas yang semua orang tahu sebagai sebuah interaksi dari berbagai krisis.

Pada saat yang sama, seorangpun tak tahu dengan jelas bagaimana interaksi itu terjadi.

Semua induk perkara berikut anak perkara itu sendiri -seperti krisis rantai pasok, keuangan, energi, pangan, inflasi, dan resesi- secara bersamaan menjadi vital.

Semuanya menjadi prioritas untuk diselesaikan secara bersamaan.

Baca juga: Tokoh Tahun Ini: Zelensky, Anwar Ibrahim, dan Anies Baswedan

Bunker Ekonomi

Apa yang terjadi kemudian adalah kesibukan para gubernur bank sentral di berbagai negara di dunia menyiapkan “bunker” untuk melindungi ekonomi negaranya.

Kebijakan perangkat ekonomi saja tak cukup, apalagi untuk menghadapi keadaan darurat, bahkan bahaya.

Karenanya dibutuhkan sebuah paket besar yang mencakup hukum, politik, dan bahkan keamanan, dan pertahanan.

Terjangan badai “polikrisis” di negeri ini telah cukup banyak contoh, terutama selama tahun 2022.

Daftar persoalannya cukup banyak dan mendasar, mulai dari maraknya perpíndahan investasi ke luar negeri, harga bahan bakar melangit, krisis harga minyak goreng, dan krisis pupuk untuk petani.

Halaman 2/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved