Opini
Memutus Rantai Perundungan di Sekolah
Pembiaran perundungan seakan bisa tertangani dalam level yang kecil namun lupa bisa berpotensi membesar sendiri sehingga terjadi aksi fisik di luar
Siswa di Indonesia mengaku pernah mengalami perundungan sebanyak 41.1 persen, jauh lebih tinggi dari rata-rata 78 negara OECD sebesar 22,7 persen.
Maka tidak mengherankan nilai uji literasi numerasi serta sains yang dilakukan oleh PISA, Indonesia selalu berada pada rangking bawah.
Kita relatif tidak memiliki hobi membaca, menulis, menelaah, menganalisis angka dan sebagainya, namun cenderung kita menghibur diri dengan mengejek dan melakukan tindakan negatif bagi orang yang tidak kita senangi.
Aktor perundungan Sosial media terkadang membuat latah guru mencari konten, beberapa waktu lalu kita disuguhkan oleh guru yang begitu senangnya berswafoto dengan murid yang tertidur di kelas, lalu mengunggahnya ke sosial media.
Kelakuan guru tersebut selain bisa terkena pelanggaran UU-ITE juga bisa membuat mental siswa jatuh terpuruk karena bukan hanya di kelas saja dia mendapat tekanan, namun seantero publik maya.
Banyak hal lain yang tanpa disadari oleh guru, sebenarnya kita sedang melakukan perundungan terhadap siswa.
Komen negatif terhadap hasil penilaian rendah siswa, atau siswa yang maju ke depan lalu gagal dan guru tanpa ampun menjustifikasi kebodohan siswa di depan ramai merupakan contoh yang lazim kerap dilakukan guru.
Terlebih karena guru punya kewenangan berbicara yang bebas tidak punya aturan di kelas.
Perundungan bukan hanya berdampak pada jatuhnya mental korban sehingga tidak fokus untuk belajar, lebih jauh berdampak di masa mendatang, menunggu momen balas dendam.
Perundungan akan bergulung seperti ombak, sebagian bunuh diri karena tidak kuat, sebagian dipukul karena melawan, sebagian menjadi kuat dari korban menjelma menjadi pelaku.
Baca juga: Bahaya Bullying Bagi Anak Sekolah - 30 Menit Bersama Tokoh
Jika iklim ini dibiarkan di sekolah, seolah sangat permisif sebelum kasus besar, maka sekolah menjadi lahan subur bagi pelaku yang memiliki kesenangan melakukan perundungan, sebaliknya sekolah menjadi tempat mencekam bagi siswa yang menjadi korban.
Tidak sedikit perundungan berbalas dari murid pada sekolah, terbaru kita melihat kasus yang terjadi salah satu SMP, video Tiktok lima siswi yang menginjak rapor hanya karena alasan iseng saja.
Jelaslah sudah bahwa perundungan pasti membawa dampak buruk bagi siswa, guru dan sekolah bahkan menjadi budaya buruk pada masyarakat.
Mereduksi perundungan Upaya preventif dan kuratif perlu diterapkan di sekolah.
Langkah preventif dapat dilakukan pada awal dengan membuat regulasi yang memberi sanksi bagi pelaku perundungan, termasuk secara internal di kalangan guru.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/KHAIRUDDIN-MPd-Kepala-SMA-Negeri-1-Matangkuli-Aceh-Utara.jpg)