Jurnalisme Warga
Bahasa Prokem di Kalangan Generasi Milenial Kota Banda Aceh
Seiring berjalannya waktu, bahasa yang berasal dari Jakarta ini pun menyebar dan digunakan di banyak daerah lain di seluruh Indonesia (Wikipedia).
ANISA TARI, Mahasiswi Pendidikan Bahasa Indonesia dan Anggota UKM Jurnalistik Universitas Bina Bangsa Getsempena (UBBG), serta Anggota FAMe Chapter UBBG Banda Aceh, melaporkan dari Banda Aceh
SALAH satu ragam bahasa Indonesia yang tak baku dan lazim digunakan di wilayah Jakarta sejak ‘70-an adalah bahasa prokem. Seiring berjalannya waktu, bahasa yang berasal dari Jakarta ini pun menyebar dan digunakan di banyak daerah lain di seluruh Indonesia (Wikipedia).
Bahasa prokem biasa terjadi karena adanya perpindahan penduduk, perkembangan usia, dan lahirnya generasi baru yang meniru gaya berbahasa seniornya. Seiring perkembangan zaman, bahasa dapat terus berubah tergantung pada si pengguna bahasa itu sendiri. Saat ini generasi milenial cenderung selalu ingin mencari tahu mengenai perkembangan zaman. Mencari hal baru, inovasi baru, dan bahasa baru yang mereka gunakan di dalam lingkungan kehidupannya sehari-hari.
Bahasa baru sering lahir pada kalangan muda-mudi, usia 14-22 tahun. Usia yang tergolong remaja beranjak dewasa tersebut sedang sangat aktif dan bergantung pada media sosial (medsos).
Pada masa sekarang ini, era (Society 5.0), teknologi dan manusia akan hidup berdampingan dalam rangka meningkatkan kualitas taraf hidup manusia secara berkelanjutan. Adanya sebuah aplikasi atau tulisan yang ada pada medsos, cenderung mengubah pola pikir manusia dalam berbahasa. Demi mengikuti perkembangan zaman, kadang masyarakat itu sendiri rela kehilangan bahasa resmi negara dan bahasa daerahnya. Di sinilah terjadinya pergeseran bahasa setiap lahirnya sekelompok generasi baru.
Dalam ragam bahasa, perubahan atau pergeseran bahasa ini disebut dengan bahasa prokem. Bahasa prokem merupakan ragam bahasa Indonesia yang tak baku, akan tetapi lazim digunakan. Salah satunya di Kota Banda Aceh, ibu kota Provinsi Aceh. Banyak muda-mudi kota ini yang menggunakan bahasa prokem. Ragam bahasa ini sudah dianggap sebagai bahasa yang paling keren dalam kelompok remaja hingga remaja beranjak dewasa.
Pada zaman sekarang, sekelompok muda-mudi sering kali menggunakan bahasa yang hanya dapat dipahami oleh kelompok mereka saja. Kadang kala mereka sering menggunakan sebuah bahasa singkatan untuk jangka panjang dalam kehidupan bermasyarakat. Dengan begitu, lama-kelamaan sebuah kata yang sudah menjadi lema dalam kamus akan hilang atau bahkan jarang digunakan lagi. Bahkan pada zaman sekarang sedikit masyarakat menggunakan bahasa yang baik dan benar menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI). Bahasa mereka lebih cenderung kepada bahasa sehari-hari yang memiliki makna kurang jelas jika diartikan menurut kamus bahasa.
Lama-kelamaan banyak kata kamus yang hilang dengan sendirinya jika sudah tidak digunakan lagi oleh masyarakat.
Menyimak pada era perkembangan zaman, memang banyak sekali lahir kata baru yang menciptakan makna baru pula. Kata tersebut sering terucap oleh remaja yang duduk di bangku SMP dan SMA di Kota BandaAceh. Hal ini mungkin disebabkan oleh adanya interaksi antarsosial media atau warganet. Dan, kemungkinan memicu penggunaan bahasa yang mereka gunakan untuk berkomunikasi antarsesama golongan mereka. Bahasa tersebut kemudian viral atau ramai diperbincangkan, lalu ditiru oleh banyak orang. Demi tidak dijuluki ‘kudate’ atau ‘kurang update’ orang seperti ini kadang rela mengubah bahasanya sendiri.
Kata bahasa prokem pun kini kian meluas pada setiap sudut Kota Banda Aceh. Akibat terjadinya pergeseran bahasa prokem pada beberapa golongan tersebut akan berpengaruh pada orang dewasa, lansia, terlebih kanak-kanak. Mereka yang tidak menggunakan medsos tidak akan paham dengan bahasa tersebut. Contohnya adalah kata:
1) Gabut, adalah sebuah kata yang terlahir dari kalangan remaja yang berusia 14-22 tahun. Gabut merupakan dua kata yang disingkat menjadi satu dan melahirkan makna tersendiri. Gabut gabungan dari kata ‘gaji buta’ yang memiliki makna umum sebagai seseorang yang tidak melaksanakan tugas-tugasnya, tetapi tetap menerima gaji. Makna tersendiri yang lahir dari kata gabut adalah perasaan yang tidak jelas dan tidak tahu harus berbuat apa. Makna ini yang sering dipakai oleh pengguna kata gabut.
2) Baper, adalah dua kata yang dipadukan menjadi satu kata. Baper berasal dari kata ‘bawa perasaan’ yang memiliki makna sebagai seseorang yang bersifat sensitif dan sering menggunakan perasaan.
3) Kepo, adalah paduan empat kata bahasa Inggris, yaitu ‘knowing every particular object’ yang disatukan membentuk satu kata dalam bahasa Indonesia. Kepo memiliki makna, seseorang yang penasaran atau ingin tahu segalanya tentang sesuatu.
Kata-kata di atas adalah sedikit dari banyaknya contoh bahasa prokem pada golongan remaja Kota Banda Aceh.
Namun, tak heran pada zaman sekarang ternyata bahasa prokem tidak hanya lahir pada level anak remaja, tetapi juga pada golongan orang tertentu. Terkadang demi menjaga imej (jaim), tanpa disadari, seseorang perlahan-lahan mengubah gaya bahasanya. Tak jarang pada masa sekarang ini ada banyak kosakata bahasa internasional yang digunakan ke dalam bahasa pokok atau bahasa yang ada pada kehidupan sehari-hari. Contoh dari bahasa prokem tersebut adalah:
1) Insecure, merupakan bahasa Inggris yang berarti merasa tidak aman. Insecure memiliki makna cemas, ragu, atau kurang percaya diri dalam penggunaan bahasa Indonesia. Kebanyakan orang sekarang sudah menjadikan kata‘insecure’ dalam kehidupan sehari-hari. Hal ini dapat berakibat, ke depannya kata kamus bahasa Indonesia, yaitu kurang percaya diri akan tergeser, lalu tergantikan dengan kata ‘insecure’.
Contoh kata yang telah mengalami pergeseran adalah gawai yang sekarang sudah tergantikan dengan kata dari bahasa asing, yaitu handphone.
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.