Senin, 25 Mei 2026

Jurnalisme Warga

Kisah Abi Nyak Jali Diburu Marsose Belanda

Ketika Affan masih dalam gendongan ibu (mantong lam tingkue) karena belum bisa “tateh” berjalan, Tgk Ahmad Titeue  ditangkap Belanda dan dibuang ke Be

Tayang:
Editor: mufti
SERAMBINEWS/tambeh.wordpress.com
T.A. SAKTI, peminat sejarah dan kitab jameun (manuskrip Aceh), melaporkan dari Gampong Bucue, Kecamatan Sakti, Pidie 

Begitulah yang terjadi pada persawahan di Blang Klok Kulu di Gampong Bucue. Menurut cerita, sempat  banyak tumbuh bak barat daya (pohon barat daya) sebesar uram pha (paha orang dewasa)  dan diselimuti bermacam tanaman semak dan urot  yang merambat ke seluruh area.

Dalam masa perang melawan Belanda, terutama masa perang gerilya, rumah-rumah di Aceh, termasuk di gampong Bucue, tidak terpasang dinding lagi. Semuanya telah dicopot atau ditarik dengan galah oleh pasukan Marsose Belanda.  Rumah yang mempunyai dinding, ditakuti menjadi pos  berkumpul Ureueng Muslimin Aceh. Setiap kali patroli pasukan Belanda ke kampung-kampung, pasti dinding rumah dulu yang jadi sasaran mereka.

Rumah yang ditempati Tgk Ibrahim (orang yang lolos dari sergapan Belanda di benteng rumpun bambu, Lampoh Rot Timu),  juga tak  punya  dinding, hanya polos terbuka. Ketika Tgk Ibrahim menjadi linto baro (pengantin baru) di rumah itu, mertuanya hanya memasang dinding kamar pengantin dengan sangkutan jahitan daun rumbia yang sering dipakai warga buat atap rumah.

Dalam kamar  rajutan daun rumbia  itulah beliau tinggal di saat-saat aman dari kejaran Belanda, sampai ia mempunyai seorang anak lelaki bernama Abdul Jalil. Sebab itulah, ia sering digelari Abi Nyak Jali, artinya ayah dari seorang anak yang berinisial Jali. Tgk Ibrahim tak sempat hidup lama bersama anak laki-laki semata wayang itu.

Sejak terhindar dari dibakar hidup-hidup oleh Marsose Belanda di persembunyian rumpun bambu,  beliau terus menjadi buronan pasukan Belanda  sepanjang waktu. Ia selalu berpindah-pindah tempat , mencari lokasi yang aman. Pada suatu hari pasukan Belanda mengepung tempat “tinggalnya” di lampoh Kuta Trieng (kebun Benteng Bambu). Ia bersama sejumlah gerilyawan dan seorang adiknya bernama Tgk Hasan.

Dalam kondisi saling tembak-menembak itu, beberapa teman Tgk Ibrahim sudah jadi korban syahid alias meninggal. Abi Nyak Jali yang terpisah jauh dari teman-temannya, mengira adiknya Tgk Hasan juga sudah tertembak.

Menyikapi hal yang sebenarnya keliru itu,  Abi Nyak Jali langsung menggasak ke arah pasukan Belanda tanpa memperhitungkan keselamatan dirinya. Akhirnya, ia rebah tertembak,  sedangkan adiknya, Tgk Hasan ditawan, Belanda, lalu dibuang ke Betawi/Jakarta.

Ketika masa hukumannya sudah habis, ia  balik  ke Gampong Bucue dengan membawa pulang oleh-oleh  berupa biji  pohon  asan teungeut (angsana tidur). Pohon  asan teungeut (tiap sore daunnya lunglai)  tumbuh besar dan tinggi puluhan tahun lamanya,  hingga tumbang sekitar tahun 1990-an.

Sebelum tumbang, jasa naungan daunnya jadi tempat istirahat orang-orang  pulang dari sawah, tempat mengirik padi yang sudah dipanen (ceumeulho) dan tempat berteduh anak-anak yang menunggui  jemuran padi (keumiet pade).  Setelah tumbang serta kering, batangnya dikampak   kaum ibu untuk dijadikan kayu api buat memasak.  Bertahun pula kaum ibu Bucue  membelahnya dengan kampak (galang), sebagai rahmat Allah dari pejuang Aceh. Menurut informasi terakhir, mertua saya, Tgk Nyak Rohani, yang paling banyak menggalangnya.

Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved