Jurnalisme Warga
Kisah Abi Nyak Jali Diburu Marsose Belanda
Ketika Affan masih dalam gendongan ibu (mantong lam tingkue) karena belum bisa “tateh” berjalan, Tgk Ahmad Titeue ditangkap Belanda dan dibuang ke Be
Begitulah yang terjadi pada persawahan di Blang Klok Kulu di Gampong Bucue. Menurut cerita, sempat banyak tumbuh bak barat daya (pohon barat daya) sebesar uram pha (paha orang dewasa) dan diselimuti bermacam tanaman semak dan urot yang merambat ke seluruh area.
Dalam masa perang melawan Belanda, terutama masa perang gerilya, rumah-rumah di Aceh, termasuk di gampong Bucue, tidak terpasang dinding lagi. Semuanya telah dicopot atau ditarik dengan galah oleh pasukan Marsose Belanda. Rumah yang mempunyai dinding, ditakuti menjadi pos berkumpul Ureueng Muslimin Aceh. Setiap kali patroli pasukan Belanda ke kampung-kampung, pasti dinding rumah dulu yang jadi sasaran mereka.
Rumah yang ditempati Tgk Ibrahim (orang yang lolos dari sergapan Belanda di benteng rumpun bambu, Lampoh Rot Timu), juga tak punya dinding, hanya polos terbuka. Ketika Tgk Ibrahim menjadi linto baro (pengantin baru) di rumah itu, mertuanya hanya memasang dinding kamar pengantin dengan sangkutan jahitan daun rumbia yang sering dipakai warga buat atap rumah.
Dalam kamar rajutan daun rumbia itulah beliau tinggal di saat-saat aman dari kejaran Belanda, sampai ia mempunyai seorang anak lelaki bernama Abdul Jalil. Sebab itulah, ia sering digelari Abi Nyak Jali, artinya ayah dari seorang anak yang berinisial Jali. Tgk Ibrahim tak sempat hidup lama bersama anak laki-laki semata wayang itu.
Sejak terhindar dari dibakar hidup-hidup oleh Marsose Belanda di persembunyian rumpun bambu, beliau terus menjadi buronan pasukan Belanda sepanjang waktu. Ia selalu berpindah-pindah tempat , mencari lokasi yang aman. Pada suatu hari pasukan Belanda mengepung tempat “tinggalnya” di lampoh Kuta Trieng (kebun Benteng Bambu). Ia bersama sejumlah gerilyawan dan seorang adiknya bernama Tgk Hasan.
Dalam kondisi saling tembak-menembak itu, beberapa teman Tgk Ibrahim sudah jadi korban syahid alias meninggal. Abi Nyak Jali yang terpisah jauh dari teman-temannya, mengira adiknya Tgk Hasan juga sudah tertembak.
Menyikapi hal yang sebenarnya keliru itu, Abi Nyak Jali langsung menggasak ke arah pasukan Belanda tanpa memperhitungkan keselamatan dirinya. Akhirnya, ia rebah tertembak, sedangkan adiknya, Tgk Hasan ditawan, Belanda, lalu dibuang ke Betawi/Jakarta.
Ketika masa hukumannya sudah habis, ia balik ke Gampong Bucue dengan membawa pulang oleh-oleh berupa biji pohon asan teungeut (angsana tidur). Pohon asan teungeut (tiap sore daunnya lunglai) tumbuh besar dan tinggi puluhan tahun lamanya, hingga tumbang sekitar tahun 1990-an.
Sebelum tumbang, jasa naungan daunnya jadi tempat istirahat orang-orang pulang dari sawah, tempat mengirik padi yang sudah dipanen (ceumeulho) dan tempat berteduh anak-anak yang menunggui jemuran padi (keumiet pade). Setelah tumbang serta kering, batangnya dikampak kaum ibu untuk dijadikan kayu api buat memasak. Bertahun pula kaum ibu Bucue membelahnya dengan kampak (galang), sebagai rahmat Allah dari pejuang Aceh. Menurut informasi terakhir, mertua saya, Tgk Nyak Rohani, yang paling banyak menggalangnya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/TA-Sakti-879809.jpg)