Kamis, 30 April 2026

Jurnalisme Warga

Rumoh Tuha Roastery, Warung Kopi ‘Homey’

Rumoh Tuha Roastery terletak di salah satu sudut jalan utama Bireuen-Takengon yang belum lama ini telah dilebarkan dan diperindah oleh Pemkab Bireuen,

Tayang:
Editor: mufti
IST
FACHRURRAZI, Pegiat FAMe dan penikmat kopi Aceh, juga Direktur Sekolah Sukma Bangsa Bireuen, melaporkan dari Bireuen 

Mereka yang sering mengopi di kafe-kafe mewah ibu kota dibuat terpesona oleh aura warkop dan penikmat kopi khas Aceh ini.

Semua pelayanan prima tersebut mengingatkan saya akan sebuah budaya dari Jepang yang disebut ‘omotenashi’, sering diterjemahkan sebagai ‘hospitality’. Yaitu, kemampuan untuk memberikan pelayanan dan keramahan yang tidak disangka-sangka kepada pengunjung. Sejak pertama sekali dipopulerkan oleh Christel Takigawa pada 2013 dalam pidato kampanye Olimpiade di Buenos Aires, budaya yang sudah mengakar lama dalam tradisi Jepang ini telah dipraktikkan oleh berbagai macam bisnis di Jepang. Karena itu, ketika Jepang dinobatkan sebagai tuan rumah Olimpiade 2020, masyarakat dunia langsung berbondong-bondong mengunjungi Jepang untuk melihat langsung praktik baik ‘omotenashi’ tersebut.

Di tengah menjamurnya warkopi di Negeri Seribu Satu Warung Kopi ini, para penikmat kopi merindui pelayanan prima dengan kualitas kopi berkelas. Kombinasi ini menjadi demikian langka karena rata-rata manajer warkop gagal memahami dan peduli akan kebutuhan ini. Sebagai salah satu ‘coffee-enthusiasm’, saya berkesempatan melanglang buana mencari warkop yang holistik di Aceh, Sumatra, Jawa, bahkan Eropa. Jarang sekali ada yang mampu mengombinasikan ketiga hal di atas menjadi satu sehingga bisa memuaskan dahaga para pecandu kopi seperti saya.

Rasa dan suasana menjadi hal yang penting bagi tukang minum kopi di Aceh, apalagi jika bisa dikoalisikan dengan harga yang juga ramah di kantong.

Akhirnya, pembenahan dan perbaikan yang konsisten perlu dilakukan dan diperhatikan oleh para pengusaha warkop di Aceh. Kualitas kebersihan, keramahan, pelayanan, fasilitas, dan tentunya kualitas kopi, baik yang kekinian maupun yang tradisional perlu terus ditingkatkan.

Rumoh Tuha Roastery tentu belum sekelas Filosofi Kopi Jogja, lokasi syuting film Filosofi Kopi 2, yang beken dan mentereng itu. Namun, saya dan beberapa kolega dari Jawa dan Jogja sudah membandingkan dan membuktikan bahwa ia tidak kalah pamor. Malah lebih jago memanjakan Anda dengan suasana, tradisi, dan selebrasi minum kopi khas Aceh yang membumi itu dengan gerai dan kursi ‘homey’ nan cozy-nya. Mari mampir untuk menyeruput kopi sambil menikmati diskusi dan tradisi.

Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved