Opini
Jangan Lupakan Duniamu
Orang-orang yang bertakwa dengan sebenar-benar takwa sudah pasti akan mendapat kemudahan-kemudahan nanti di hari akhirat. Tidak ada kesulitan dalam me
Prof Dr H M Hasbi Amiruddin MA, Guru Besar Islamic Studies UIN Ar-Raniry, Ketua Dewan Pakar PB Inshafuddin, anggota Dewan Pakar ICMI Orwil Aceh, dan Direktur LSAMA Banda Aceh
BAGI umat yang sudah mengakui Islam sebagai agamanya sudah seharusnya mengikuti Alquran sebagai petunjuk dalam menjalani kehidupannya. Agar hidupnya selamat dunia dan akhirat seseorang muslim harus menjadi orang-orang yang bertakwa, dan ini memang perintah Allah sendiri (Ali Imran:102). Ketika seorang mukmin mampu mencapai tingkat takwa maka dia sangat beruntung karena akan mendapat kebahagiaan dalam menempuh kehidupan di dunia ini dan juga di hari akhirat nanti.
Orang-orang yang mencapai sebenar-benar takwa tidak hanya melimpahnya pahala yang dapat dipetik di akhirat, tetapi juga akan mendapat kebahagiaan hidup sejak di dunia. Alquran menyatakan: “Siapa yang bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan membukakan jalan keluar baginya, dan menganugerahkan kepadanya rezeki dari arah yang tidak dia duga. Siapa yang bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan keperluannya” (At-Thalaq: 2-3).
Bertakwa kepada Allah artinya kita mengikuti segala perintah-Nya dan meninggalkan segala larangan-Nya. Apabila kita mampu melakukan perintah Allah yaitu beribadah kepada Nya, terutama ibadah wajib dengan tingkat kesadaran yang tinggi bahkan mampu melaksanakan ibadah-ibadah sunnat, ketika itu kita akan mendapat banyak kemudahan-kemudahan dalam hidup ini.
Mulai dari selalu mendapatkan jalan keluar dari kesulitan-kesulitan, dimudahkan rezeki sampai diberi rezeki dengan tanpa kita duga-duga dan bahkan dicukupkan segala perlukan kita. Demikianlah kebahagiaan diberikan oleh Allah kepada kita ketika kita telah berusaha meningkatkan ketakwaan kita kepada Allah dengan sebenar-benar takwa.
Orang-orang yang bertakwa dengan sebenar-benar takwa sudah pasti akan mendapat kemudahan-kemudahan nanti di hari akhirat. Tidak ada kesulitan dalam menghadapi pemeriksaan di hadapan Allah, artinya kita tidak membutuhkan waktu yang lama dalam pemeriksaan dan kemudian langsung diberikan tempat yang menyenangkan yaitu surga jannatun naim.
Betapa bahagianya orang-orang yang mampu meraih tempat di surga pada hari akhirat nanti. Kesenangannya tidak ada bandingan jika dibandingkan dengan kesenangan di dunia. Karena sesenang-senang kehidupan di dunia ini hanya satu persen yang diberikan oleh Allah. Sementara di akhirat nanti akan diberikan sebanyak 99 kali lipat dibandingkan dengan kenikmatan yang diberikan di dunia. Karena itulah kita tidak boleh mengabaikan kesempatan beribadah ketika masa-masa di dunia ini.
Kendatipun kita harus berusaha sebanyak-banyaknya untuk bekal akhirat, Allah tetap memberi kesempatan kepada kita untuk menikmati nikmat-nikmat dunia, seperti dinyatakan dalam Alquran: “Dan, carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (pahala) negeri akhirat, tetapi janganlah kamu lupakan bagianmu di dunia” (Al-Qasas: 77).
Ayat ini menjelaskan kepada kita agar kita terus mencari anugerah Allah yaitu pahala-pahala yang telah disediakan kepada kita untuk bekal di akhirat. Namun kita dibolehkan menikmati nikmat-nikmat dunia sejauh yang diridhai oleh Allah. Misalnya sebagai manusia kita butuh makan, minum. Sebagai makhluk yang berperadaban kita memerlukan pakaian yang pantas dan tempat tinggal yang layak. Demikian juga sebagai makhluk Allah yang diberikan nafsu kita membutuhkan pasangan, dan anak-anak baik untuk kesenangan hidup maupun untuk kelanjutan generasi.
Kita dibolehkan memiliki makanan yang bergizi agar kita sehat, memiliki pakaian yang bagus agar menyenangkan bagi yang melihat, memiliki anak-anak yang sehat dan berpendidikan tinggi agar anak-anak kita berkualitas, memiliki rumah yang asri, sehat lingkungan, memiliki masjid yang bagus, memiliki lembaga pendidikan yang berkualitas dan termasuk dibolehkan menata kota yang disenangi oleh banyak orang.
Kita dibolehkan menata negara dengan baik sehingga mampu membawa rakyat yang sejahtera. Sebagai sebuah negara ada wilayah, ada rakyat dan ada pemimpin yang memimpin negara. Dalam Islam juga dianjurkan umat Islam mencari pemimpin yang terpercaya memiliki kapasitas intelektual yang cukup dalam memimpin negara. Apalagi dalam masa modern ini seseorang pemimpin negara bukan hanya dituntut kemampuan memimpin rakyatnya saja tetapi juga harus mampu menghadapi dunia luar yang sering ingin menguasai negara lain baik dalam bidang ekonomi maupun politik.
Umat terbaik
Yang tidak kalah penting adalah mencari pemimpin yang lebih taat kepada Allah. Sosok yang dekat dengan Allah sering memiliki sikap ikhlas dalam memimpin demi kesejahteraan rakyat dan kemajuan negaranya. Sosok yang taat bisa juga disebut bertakwa lebih suka bertindak adil dan jujur. Alquran menganjurkan agar memilih pemimpin yang suka berbuat adil karena berbuat adil lebih dekat kepada takwa (Al-Maidah 8).
Kita dibolehkan mempersiapkan tim keamanan untuk menjaga masyarakat dari berbagai gangguan sehingga memiliki kehidupan yang nyaman. Demikian juga kita dibolehkan bahkan Allah menganjurkan agar masyarakat muslim mempersiapkan diri dari kemungkinan-kemungkinan gangguan terhadap agama dan umatnya.
“Persiapkanlah untuk menghadapi mereka apa yang kamu mampu, berupa kekuatan yang kamu miliki dan pasukan berkuda. Dengan persiapan itu kamu membuat gentar musuh Allah dan musuh-musuh kamu.” (Al-Anfal:60).
Bukankah kita sedang menyaksikan bagaimana bangsa Palestina mendapatkan gangguan dari Zionis Israel. Rakyat Palestina hanya ingin memperjuangkan kemerdekaan tanah air dan rakyatnya karena mereka telah dijajah oleh Zionis Israel semenjak tahun1948. Tetapi apa yang terjadi, selain kaum pejuang ini dilabel dengan label teroris, masyarakat sipil mereka juga dibunuh secara brutal melalui bom-bom pembunuh massal. Bayangkan andaikata bangsa Palestina memiliki pendidikan yang berkualitas dan telah siap sejak awal dengan senjata-senjata canggihnya pasti Zionis Israel akan merasa gentar untuk mengganggu bangsa Palestina.
| Saat Pemimpin tak Hadir di Tengah Bencana: Dilema Etika Antara Hak Personal & Tanggung Jawab Publik |
|
|---|
| Aceh sebagai Pintu Gerbang Perdagangan Internasional, Mengaspirasi Pembangunan Dubai |
|
|---|
| Nasib Aceh jika Kepala Daerah Dipilih DPRD |
|
|---|
| Menata Standar Pendidikan Menuju Ekosistem yang Lebih Bermakna |
|
|---|
| Dampak Bencana dan Antisipasi Perubahan RPJMA 2025-2029 |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/Prof-Dr-M-Hasbi-Amiruddin-MA-IIIII.jpg)