Rabu, 29 April 2026

Jurnalisme Warga

Mendalami Pengetahuan Pendidikan pada Konferensi Internasional di UBBG

Hal itu saya sarankan karena  seminar internasional ini mungkin ke depannya akan dapat mengubah ‘mindset’ atau pola pikir mahasiswa/mahasiswi UBBG ata

Editor: mufti
IST
Anisa Tari 

Kemudian yang terakhir, terkait materi mengenai kesehatan yang dijelaskan oleh beberapa pemateri juga dari luar negeri, yakni apa yang perlu dilakukan mahasiswa supaya mampu menghadapi tantangan kesehatan global, yaitu dengan belajar lebih lanjut tentang ‘hardskill’ dan ‘softskill’.

‘Hardskill’ yang diperlukan adalah kemampuan manajemen, komunikasi, pengorganisasian, berpikir analitis, pemecahan masalah, dan menulis penelitian dengan baik.

Untuk menunjang kemampuan tersebut perlu ‘softskill’ seperti pemahaman etik, kemampuan intrapersonal, kemampuan kerja sama, sikap profesional, dan bahasa tubuh (gestur).

Selain itu, juga penting untuk membangun relasi dengan pihak-pihak tertentu.

Di antara ketiga materi tersebut (sains, teknologi, dan kesehatan) memiliki keterkaitan masing-masing, seperti halnya ilmu pengetahuan, sains, dan teknologi. Sains berperan menciptakan teknologi baru; sebaliknya teknologi berperan menciptakan pengetahuan baru. Kedua-duanya tentu merupakan satu kesatuan yang tak dapat dipisahkan.

Dalam bidang lainnya, yakni hubungan kesehatan dan teknologi. Teknologi sangat membantu dalam memberikan pelayanan di tempat-tempat kesehatan. Teknologi informasi dapat meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan menjadi lebih baik.

Ada begitu banyak pembelajaran yang dapat dipetik dari seminar internasional ini. Selain mendapatkan ilmu, para pemateri dari berbagai negara juga memberikan kami pengalaman dan membuka stimulus yang luar biasa saat acara dimulai.

Sejauh yang saya amati, antusiasme para peserta, terutama dari kalangan dosen dan mahasiswa, sudah membara sejak hari pertama, tepatnya Selasa, 12 Desember 2023. Masih pukul 07.30 WIB halaman Kampus UBBG sudah dipenuhi oleh mahasiswa/mahasiswi peserta Iconesth yang telah mendaftar seminggu sebelumnya.

Keramaian di pagi hari itu disebabkan oleh antusiasme yang membara para peserta Iconesth untuk mengambil ‘badge’ nama dan mendapatkan kursi paling depan. Saat acara akan dimulai antrean panjang terlihat di depan gedung akademik. Suasana pun menjadi riuh penuh semangat.

Hal demikian juga terjadi di hari kedua, tepatnya 13 Desember 2023. Gedung Plenary Hall UBBG kembali dipadati mahasiswa/mahasiswi peserta Iconesth. Mungkin memang beberapa di antara peserta lokal kurang dapat memahami dengan jelas apa yang disampaikan pemateri, karena bahasa yang digunakan bahasa Inggris. Namun, hal demikian tidak dapat menggoyahkan semangat dari seluruh peserta seminar internasional ini hingga acara usai.

Saya pribadi berharap seminar internasional ini dapat dilaksanakan secara rutin tiga atau empat tahun sekali.

Hal itu saya sarankan karena  seminar internasional ini mungkin ke depannya akan dapat mengubah ‘mindset’ atau pola pikir mahasiswa/mahasiswi UBBG atau kampus lainnya dalam memahami bahwa tantangan yang harus dihadapi lulusan perguruan tinggi, yakni tidak hanya sekadar bekerja, mendidik, atau berkarya di dalam negeri. Akan tetapi, tantangan juga lahir dari di luar negeri. Persaingan akan semakin ketat.

Jadi, adalah penting menjalin kerja sama antarnegara untuk merespons tantangan dan permasalahan global yang harus dihadapi di masa yang akan datang sembari mencetak tenaga kerja lokal yang mampu memenangkan persaingan global. Hal-hal tersebut akan sangat bermanfaat bagi generasi emas Indonesia, khususnya yang berdomisili di Bumi Serambi Makkah ini.

Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved