Kupi Beungoh

Bom Atom Inggris di Asia

Sementara bom atom yang diwariskan Inggris di Asia lainya adalah bertujuan untuk menciptakan konflik berkepanjangan sepeninggalan kekuasaannya

|
Editor: Muhammad Hadi
FOR SERAMBINEWS.COM
Muhammad Nur, dosen Sejarah Universitas Serambi Mekkah, Banda Aceh 

Brunei yang awalnya satu bagian dari Serawak dan Kuching, (Malaysia) dipisahkan oleh Inggris
menjadi negara mini yang tunduk dibawah pemerintahan Singapura, dengan alasan Kalimantan
terlalu luas di Asia Tenggara.

Singkatnya Brunei adalah Inggris kecil di bagian Utara Kalimantan yang siap meledakkan IKN sebagai Ibu kota Nusantara, Indonesia.

Selain Brunei, negara mini lainya di Asia Tenggara adalah Singapura. 

Singapura, menurut catatan Fa- Hsien, seorang pengembara asal Cina yang pernah singgah di kawasan ini pada abad ke 3 Masehi, (Graham Sauders, A hIstory Of Brunei, 2013: 14) menyebutnya dengan Istilah PuLo- Chung yang nantinya kerap diartikan sebagai pulau paling ujung Selatan semenanjung Malaya. 

Baca juga: Boh Gantang dan Daya Lumpoe Awak Eropa

Wilayah ini kemudian dikembangkan oleh Inggris, dibawah Thomas Stamford pada 28 Januari 1819, tujuannnya adalah untuk menandingi dominasi Belanda di Nusantara- Indonesia sekarang.

Singapura atau Tumasek, pada tahun 1299 pernah menjadi bagian dari kerajaan Sriwijaya, selanjutnya bagian dari Majapahit, Malaka, Johor, dan terakhir adalah Belanda menduduki pulau tersebut. 

Belanda sempat menguasai pulau ini sebelum kemudian menukarkannya dengan Sumatera yang kala itu dikuasai Inggris, (1814). Tukar menukar ini terjadi karena adanya perubahan politik di Eropa, Napoleon kalah perang di Leipzing. 

Penyebab lainya adalah realisasi isi dari perjanjian Traktat London antara Inggris dan Belanda yang membagi wilayah kekuasaannya di Timur Jauh pada 18 Maret 1824. 

Salah satu isi dari perjanjian tersebut adalah Belanda menarik pasukannya dari Singapura dan menyerahkannya ke Inggris

Singapura adalah bom atom Inggris di Asia Tenggara yang siap kapan saja meyerang Indonesia dan Malaysia jika diperlukan. Kekuatan militer negara Singa tersebut di dukung oleh Eropa, Inggris, Israel dan Amerika.

Singapura adalah Israel kecil di depan mata Indonesia sebagai negara muslem terbesar di dunia.

Kembali ke Singapura, Traktat London yang diteken Inggris- Belanda pada 47 tahun yang lalu ini, 1824, oleh Inggris diubah kembali pada 2 November 1871. 

Perubahan ini bertujuan untuk menyerahkan Aceh kepada Belanda untuk dikuasainya. Tujuan lainya adalah agar terjadi perang besar antara Belanda dengan Aceh yang diperkirakan tidak ada ujung, hingga sampai masuknya Jepang ke Aceh pada 1942.

Disini, lagi – lagi Inggris berhasil menanamkan bom atom di Aceh melebihi bom nuklir yang
dijatuhkan di Hiroshima dan Nagasaki. 

Hingga Aceh menjadi bagian dari Republik Indonesia, konflik bersenjata terus berkecamuk di Provinsi paling barat pulau Sumatera ini.

Terakhir, bom atom yang diciptakan Inggris adalah pendirian Negara Israel ditengah- tengah komunitas ummat muslem di Timur Tengah dengan jumlah populasianya mencapai 325 juta jiwa.

Pendirian ini, telah direncanakan dengan matang oleh Inggris sejak tahun 1917, dengan
menetapkan deklarasi Balfour, yang menjanjikan orang- orang Yahudi mendapatkan sepetak
tanah di Palestina, Asia Barat Daya.

Sejak penetapan tersebut, orang- orang Yahudi yang ada di Eropa aktif memberikan bantuan finansial kepada Inggris untuk mengalahkan Jerman dalam Perang Dunia ke I, 1914- 1918.

Baca juga: Pidie Lama Diantara Bayang-bayang Pidie Jaya

Untuk mencapai pendirian negara Israel tersebut, Inggris terlebih dahulu mendirikan negara Negara Arab yang berhaluan Sunni, agar kelak kehadiran Negara Zionis ini dapat diterima oleh komunitas Arab dan Saudi di Jeddah. 

Bagi Inggris, Arab dan Saudi adalah anak tirinya, sementara Israel adalah anak yang dikandungnya. Israel adalah anak yang dihamilkan Inggris, lalu kemudian dibesarkan Amerika untuk merusak dunia Arab.

Sebagaimana diketahui, Jazirah Arab yang luas dengan padang pasir dan disertai dengan gurun yang tandus, adalah tempat yang paling strategis untuk memulai peperangan, adu strategi, dan sekaligus uji coba senjata berat negara- negara barat hingga dengan hari ini. 

Arab dengan seketika pada waktu itu, berubah menjadi ladang adu domba dan adu senjata antara kekuatan kekuatan besar yang sedang bertikai disana, antara Inggris melawan Turki, antara Prancis, Turki melawan Inggris.

Inggris kemudian mengirimkan orang- orang pilihannya untuk menebarkan pengaruh revolusi diantara penduduk Arab, satu diantara orang kiriman Inggris tersebut adalah Thomas Edward Lawrence, ia adalah seorang sejarawan dari Oxford University, London, Inggris.

Dia kelak menjadi tokoh kunci dalam melahirkan negara- negara Arab diteluk, Saudi dan Israel
di Palestina setelah Perang Dunia ke II.

Perlu diketahui, selama tinggal di Arab, Lawrence adalah Snouck Hougranjenya Aceh, ia berhasil mendedikasikan dirinya sebagai orang Arab amatiran, rajin sholat, rajin mengikuti pengajian, memberi khutbah Jum’at, memakai pakaian kurdu ala Arab, menggunakan bahasa Arab dalam kesehariannya dan yang paling unik adalah terlibat dalam perang melawan tentara Turki di Arab.

Maka, dengan kemampuan yang dimilikinya tersebut, ia dengan cepat diterima oleh komunitas
Arab, Lawrence kemudian di anggap mbak seorang pahlawan, pejuang kemerdekaan bagi Saudi
dan Arab masa itu.

Selajutnya, Lawrence menyakini bahwa Federasi Turki akan berhasil dirusak sebelum Perang Dunia ke II, karena pengaruhnya sudah mulai melemah dan memudar di kalangan pemimpin Arab.

Maka beragam operasi intelijen dilancarkan orientalis ini, baginya dan Inggris, Turki adalah lawan yang harus diruntuhkan sebelum munculnya Perang Dunia ke II, (1939- 1945), karena dalam perang dunia ke I, Turki, bersama Rusia dan Jerman adalah lawan kuat bagi Inggris.

Jalan menuju terwujudnya Negara Isarel Pada tanggal 23 September 1932, Arab Saudi mendeklarasikan kemerdekaannya dari pengaruh Ottoman dengan Raja pertamanya adalah Abdul Aziz Al Saud. 

Deklarasi ini terjadi setelah pertikaian antara bani, dan dinasti – dinasti di Arab berhasil disatukan oleh Inggris.

Bagi Inggris, lahirnya negara Saudi adalah proyek untuk menuju Perang Dunia ke II, tujuh tahun kemudian Perang Dunia ke II betul- betul meletus, (1939- 1945). 

Perang tersebut di inginkan Inggris untuk merealisasikan deklarasi Balfour yang telah diteken pada 1917. Isinya dari perjanjian tersebut adalah Inggris menginginkan lahirnya Negara Israel di Timur Tengah.

Disisi lain, Inggris ingin meredam kekuasaan Prancis yang menjadi saingannya di Timur Tengah
akibat adanya perjanjian The Sykes- Picot yang ditandatanganinya pada Perang Dunia ke-I,
1916. 

Sir Mark Sykes adalah nama yang diambil dari diplomat Inggris, sementara Francois Georges Picot adalah nama yang diambil dari diplomat Prancis.

Baca juga: Hamas: Penarikan Penuh Pasukan IDF dari Gaza Syarat untuk Kesepakatan Baru Pembebasan Sandera

Perjanjian ini telah membagi wilayah- wilayah di jazirah Arab antara kekuasaan Inggris dan Prancis, misalnya Libanon dan Suriah menjadi mandat kekuasaan Prancis, sementara Irak dan Palestina menjadi mandat dari Inggris.

Inggris kemudian, mendirikan negara Israel pada 14 Mei 1948, atau sehari sebelum mandatnya
berakhir di Palestina. 

David Ben Guron adalah Presiden pertama Israel setelah melakukan deklarasi di hadapan 250 pemuka Yahudi di Mesium Tel Aviv tersebut. 

Deklarasi ini langsung disambut dengan perang Arab- Irael pada 1948. Mesir, Suriah, Irak, Lebanon, Jordania dan Arab Saudi, sehari setelah deklarasi langsung menyatakan perang terhadap negara zionis ini.

Dengan demikian, maka sempurnalah bom- bom atom yang ditanam Inggris di seluruh Asia ini. Inggris kemudian dapat disimpulkan sebagai anak yang kebagian akal jahat diatas muka bumi ini.

*) PENULIS adalah Dosen Sejarah di Universitas Serambi Mekkah 

KUPI BEUNGOH adalah rubrik opini pembaca Serambinews.com. Setiap artikel menjadi tanggung jawab penulis.

Baca Artikel KUPI BEUNGOH Lainnya di SINI

Halaman 4/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved