Breaking News
Sabtu, 18 April 2026

Kupi Beungoh

Fanatisme Politik : Loyalitas Liar Yang Mengancam Kesehatan Mental

Karena banyak sekali terjadi kecemasan dan gangguan kesehatan mental seperti stres di saat menunggu hasil dari pemungutan suara tersebut diumumkan.

Editor: Agus Ramadhan
FOR SERAMBINEWS.COM
Nia Tania - Mahasiswa Program Studi Psikologi angkatan 2022, Fakultas Kedokteran, Universitas Syiah Kuala 

Fanatisme dapat menyebabkan seseorang berpikir secara tidak rasional yang menyebabkan tindakannya menjadi tidak bisa dibenarkan secara etika dan moral.  

Fanatisme tidak selalu menjadi hal yang memiliki konotasi negatif, bahkan untuk hal-hal tertentu fanatisme bisa menjadi prinsip terbaik untuk berpegang dalam suatu pilihan contohnya fanatisme terhadap agama (bukan tokoh agama).

Tetapi, fanatisme sering kali  menyebabkan seseorang melupakan norma, etika, bahkan adab.

Fanatisme politik adalah salah satu hal yang penting di dalam suatu strategi berpolitik.

Tetapi, fanatisme politik juga bisa menjadi “pedang bermata dua” bagi pengikutnya.

Fanatisme politik bisa menjadi sesuatu yang positif karena seseorang dapat menunjukkan loyalitasnya terhadap tokoh politik, gerakan politik ataupun sebuah partai politik.

Tetapi fanatisme politik juga bisa menjadi hal yang negatif jika harapan atau cita-cita yang diinginkan oleh seorang loyalis politik itu gagal dan menemui kebuntuan akibat satu peristiwa, contoh nya seperti pemilihan umum.

Fanatisme politik yang bermuatan negatif juga sering kali menyebabkan seseorang dengan secara sadar dan tega menghina dan memfitnah lawan politiknya sehingga akhirnya terjadilah konflik dalam politik.

Secara medis, informasi yang diterima oleh seseorang akan terlebih dahulu diolah pada bagian otak yang disebut prefrontal cortex.

Prefrontal cortex juga disebut sebagai hati nurani pada manusia karena memiliki fungsi terhadap empati, nilai moral, dan pengendalian emosi sehingga seseorang bisa mengambil suatu tindakan dengan keputusan atau pertimbangan yang tepat serta terukur.

Tetapi dalam kondisi tertentu, Amygdala yang merupakan bagian otak yang mengatur emosi langsung merespons suatu stimulus yang menyebabkan reaksi yang frontal dari seseorang misal nya emosi yang berlebihan atau kesedihan yang berlarut-larut.

Kondisi tersebut seringkali menyebabkan seorang pendukung fanatik tidak bisa menggunakan hati nurani dan logika nya dalam menanggapi informasi atau peristiwa yang dialaminya.

Seseorang yang fanatik dalam berpolitik akan merasakan beberapa dampak yang mempengarui kesehatan mental seperti mengalami kecemasan atau kekhawatiran, naiknya tingkat stres, merasa tidak aman, munculnya gejala depresi terutama jika merasa ideologinya direndahkan.

Pada tahun 2024, beberapa Psikolog memperkirakan bahwa tingkat stres dapat lebih meningkat daripada pemilu sebelumnya, hal ini diakibatkan oleh adanya tiga calon presiden-wakil presiden yang mana membuat persebaran pendukung menjadi lebih masif.

Stres dan kecemasan tidak hanya terjadi pada para pendukung yang fanatik, tetapi juga terjadi pada orang yang mengikuti kontestasi pemilu.

Halaman 2/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved