Jurnalisme Warga
Kisah Kapten J. Paris Tewas di Tangan Panglimo Rajo Lelo
Nenek moyang Panglimo Rajo Lelo berasal dari tanah Pasai. Ketika Sultan Malikussaleh masuk Islam, salah seorang panglimanya, Wan Durgamsyah, meninggal
Lalu mereka berangkat ke lokasi pengintaian, yaitu Padang Kelulum. Tepatnya Rabu, 3 April 1926, atau 20 Ramadhan 1346 H, meletuslah "Perang Kelulum" di Desa Sapik, Kluet Timur, pimpinan Panglimo Rajo Lelo IV.
Saat perang berlangsung, senjata musuh tidak satu pun yang meletus, terdengar hanyalah gema takbir yang membahana.
Panglimo Rajo Lelo langsung berhadapan dengan Kapten J Paris satu lawan satu, masing-masing punya kelebihan.
Panglimo Rajo Lelo terkenal kebal peluru, sedangkan Kapten J Paris kebal intan dan besi.
Di saat itulah Panglimo Rajo Lelo mengambil tindakan sadis dengan mencabut alat kelamin Kapten J Paris hingga ia tewas.
Setelah beberapa jam pertempuran berlangsung, akhirnya pasukan musuh tak ada lagi yang kelihatan dan diasumsikan sudah tewas semua.
Maka pasukan Panglimo Rajo Lelo pun beristirahat di gundukan tanah. Tanpa disengaja seorang anggota pasukan Panglimo Rajo Lelo melanggar larangan dengan mengucapkan kata-kata selain takbir.
Seiring dengan itu bangkitlah dua prajurit musuh dari tumpukan mayat yang berpura-pura mati dengan melepaskan tembakan ke arah anggota pasukan Panglimo Rajo Lelo. Satu per satu mereka gugur sebagai syuhada.
Rakyat Kluet yang ikut berjuang di bawah pimpinannya saat itu ada 24 orang, sedangkan dari pihak kolonial Belanda yang dipimpin Kapten J. Paris, 23 orang. (Syafi’ie AS, 1988)
Kapten Paris mati di tangan Panglimo Rajo Lelo IV bersama serdadunya. Di pihak Panglimo Rajo Lelo IV, yang syahid sebanyak 20 orang, dan empat orang yang masih hidup, kemudian ditangkap Belanda dan dibuang ke Batavia sebelas tahun.
Perang Kelulum di Desa Sapik ini, bagi bangsa Belanda sangat berkesan dan menyedihkan, karena Kapten J. Paris beserta pasukannya hampir habis terbunuh oleh pejuang Kluet. Kapten J. Paris lahir pada 27 Juni 1889 di Nieuwer Amstel.
Pada tahun 1907 memasuki Akademi Militer dengan hasil sangat baik dan diangkat menjadi letnan dua setelah tamat akademi militer.
Kemudian Paris dikirim ke Aceh bergabung dalam tentara Kerajaan Belanda untuk menaklukkan Kerajaan Aceh.
Kala itu, Oktober 1925, J Paris menjadi Komandan Brigade 3 Infanteri dan dikirim ke Bakongan dengan tugas menumpas pejuang Aceh yang dipimpin Teuku Raja Angkasah.
Pada 2 April 1926, Kapten Paris bersama pasukannya menuju Kampung Sapik, Kecamatan Kluet Timur untuk mengadakan operasi di daerah Kluet dengan Brigade Divisi 5 Marsose. (Syafi’ie AS, 1988)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/YUSNIR-SELIAN.jpg)