Senin, 20 April 2026

Jurnalisme Warga

Waled Nuruzzahri, Sosok Guru Inspiratif

Saat ini, saya belajar di Dayah Mahasiswa Ummul Ayman III, Meurah Dua, Pidie Jaya. Dayah ini di bawah binaan langsung sosok ulama karismatik Aceh, yai

Editor: mufti
IST
M. SHARFAN bin FAUZI, santri kelas IV Dayah Mahasiswa Ummul Ayman III, asal Meunasah Raya Meurah Dua, melaporkan dari Pidie Jaya 

M. SHARFAN bin FAUZI, santri kelas IV Dayah Mahasiswa Ummul Ayman III, asal Meunasah Raya Meurah Dua, melaporkan dari Pidie Jaya

SETIAP manusia dalam menjalani kehidupanya tidak luput dari kata ‘proses’. Proses adalah suatu kegiatan dan perkembangan untuk menghasilkan tujuan yang ingin dicapai. Namun, setiap proses tentu membutuhkan ilmu pengetahuan agar proses yang sedang dijalani dapat berjalan sesuai relnya.

Saat ini, saya belajar di Dayah Mahasiswa Ummul Ayman III, Meurah Dua, Pidie Jaya. Dayah ini di bawah binaan langsung sosok ulama karismatik Aceh, yaitu Tgk H Nuruzzahri Yahya atau kerap disapa dengan sebutan ‘Waled Nu’ (Waled di Samalanga).

Di antara keindahan yang unggul di sini, yakni dayahnya mempunyai lahan yang terbentang luas sekitar 5 hektare. Mampu menampung banyak bangunan di dalamnya. Sehingga, bangunan-bangunan tersebut tertata rapi. Disertai pepohonan rindang yang membuat dayah ini asri dan nyaman untuk didiami.

Dayah Mahasiswa Ummul Ayman III membuka perguruan tinggi berupa Sekolah Tinggi Ilmu Syariah (STIS). Sementara, untuk jenjang aliah, tersedia sekolah menengah kejuruan (SMK).  Saat ini, saya duduk di kelas X SMK, tepatnya pada Jurusan Multimedia.

Di dayah ini kami mempelajari suatu pencerahan ilmu agama langsung dari seorang ulama besar sekelas Syaikhuna Waled, dambaan dari semua santri, tak terkecuali saya. Dari bermajelis itulah, kami dapat mendengarkan sumber ilmu yang akurat, langsung dari Waled. Itulah yang kami rasakan.

Dengan semangatnya, Waled saban hari datang ke Meurah Dua untuk mengajari kami. Tanpa rasa lelah dan bosan, disertai suara lantangnya, Waled selalu memberikan nilai-nilai positif dalam mengajar. Itulah yang membuat saya tertarik membagikan reportase ini sebagai pembangkit semangat kepada rekan-rekan santri lain, supaya lebih bersemangat dalam hal beut-seumeubeut.

Di umur yang semakin senja, terkadang membuat langkah terhenti untuk maju. Beda halnya dengan Waled, yang setiap harinya beliau tidak memperhatikan beratnya tantangan fisik dan mental beliau untuk melakukan perjalanan yang jauh. Di saat matahari tegak di pertengahan langit, dengan mobil Alphard-nya Waled tiba di dayah kami. Waled langsung berkeliling, memantau keadaan dayah. Inilah yang patut diteladani oleh tokoh-tokoh pengajar. Selain seorang guru yang memberikan perhatian penuh dalam mentransfer ilmu agama, Waled juga selalu antusias dalam memeriksa keadaan dayahnya, baik dari segi kebersihan, kenyamanan, maupun yang lainnya.

Tak lama kemudian, ketika suara azan zuhur sayup-sayup terdengar melalui pelantang suara masjid, barulah Waled beranjak menuju masjid untuk menunaikan shalat Zuhur berjamaah. Selesai shalat sunah bakdiah, Waled langsung duduk di atas kursi dan meminta kami untuk mengulang pelajaran minggu lalu.

Setelah itu, Waled yang akan langsung membacakannya kepada kami. Saban hari selalu terganti, materi pelajarannya berbeda-beda.

Hari Sabtu, Waled mengajari kami kitab sharaf yang merupakan kitab permulaan di kalangan para santri untuk bisa mempelajari kitab yang berbahasa Arab. Kitab sharaf yang kini sedang kami pelajari adalah kitab Matan Bina wal-Asas. Adapun manfaatnya yang bisa saya simpulkan, yaitu agar kita mengetahui baris awal dan baris tengah dari kalimat-kalimat Arab.

Dalam ilmu sharaf, Waled selalu sempurna menaburkan makna-makna yang dapat langsung memahamkan kami dalam mempelajarinya. Juga, salah satu ciri khas yang terdapat pada Waled adalah sering kali beliau melantunkan syair-syair atau kata-kata mutiara yang kami sering sebut dengan ‘mahfuzat’ agar kami tidak merasa jenuh saat pengajian berlangsung.

Salah satu syair yang berkenaan dengan ilmu sharaf atau nahwu yaitu: Ash sharfu ummul ulum, wan-nahwu abuuha. Fa-man khala minhuma fa’dud minal baqari. (Ilme sharaf tamsel ibu, ilme nahwu tamse bapak,  soe yang hanjeut ban dua nyan,  jih geupeunan lumoe tuha (Ilmu sharaf bagaikan ibu, ilmu nahwu bagaikan bapak. Siapa saja yang tidak bisa keduanya, maka dia dinamakan lembu tua).

Syair ini bermaksud bahwa siapa saja yang belajar kitab turats (kitab-kitab kuning), tetapi ia tidak menguasai nahwu-sharaf, maka kerjaannya hanya sia-sia belaka.

Sementara pada hari Minggu, selesai shalat Zuhur berjamaah, Waled mengajarkan kami kitab Awamil, yang merupakan kitab dasar dalam kategori ilmu nahwu. Guna atau fungsi kita belajar nahwu ialah agar kita mengetahui baris dari setiap akhir kalimat. Mengaplikasikan kedua ilmu tersebut merupakan landasan utama dalam kami berpacu untuk bisa membaca kitab-kitab kuning.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved