Senin, 20 April 2026

Jurnalisme Warga

Waled Nuruzzahri, Sosok Guru Inspiratif

Saat ini, saya belajar di Dayah Mahasiswa Ummul Ayman III, Meurah Dua, Pidie Jaya. Dayah ini di bawah binaan langsung sosok ulama karismatik Aceh, yai

Editor: mufti
IST
M. SHARFAN bin FAUZI, santri kelas IV Dayah Mahasiswa Ummul Ayman III, asal Meunasah Raya Meurah Dua, melaporkan dari Pidie Jaya 

Esoknya, yakni Senin dan juga hari Kamis, Waled mengajarkan kami ilmu fikih, suatu fan ilmu yang mempelajari tentang tata cara beribadah kepada Allah Swt. Kitab yang kami pelajari yakni Matan Ghayah wa Al Taqrib. Fan ilmu ini meliputi ilmu tata cara mendirikan shalat, berpuasa, mu’amalah, prahara pernikahan, masalah zakat, berhaji, hingga problematika perbudakan (hamba sahaya).

Syaikhuna Waled paham betul dengan ilmu tersebut, sehingga terasa mudah bagi Waled dalam memahamkannya kepada kami.

Pada hari Selasa, inilah di antara pengajian yang paling menyenangkan bagi saya. Kami diajarkan fan tauhid, yaitu suatu fan ilmu yang mempelajari tentang keesaan Allah Swt., berkenaan dengan para rasul, dan lainnya.

Kitab ini merupakan buah tangan dari Asy-Syaikh Ibrahim Al Laqqani dengan nama kitabnya ‘Matan Jauharah’. Lebih berkahnya bagi kami, kitab Matan Jauharah ini telah Waled alih bahasakan ke bahasa Indonesia dalam bentuk nazam juga. Jadi, kami pun bisa langsung belajar dua bahasa sekaligus.

Terkait alasan Waled mengartikan nazam kitab tersebut ke dalam bahasa Indonesia tak lain agar siapa saja dari santri maupun masyarakat yang tidak paham bahasa Arab, maka bisa langsung merujuk ke nazam terjemahannya.

Yang lebih menegangkan itu adalah ketika tiba di sesi mengulang. Ya, setiap hari, sebelum Waled melanjutkan ke pembahasan selanjutnya, Waled meminta kami untuk mengulangi pelajaran minggu lalu.

Terutama di hari Selasa, ini merupakan momen terindah, tetapi mendebarkan, khusus bagi saya. Bagaimana tidak, mencoba mengulang kitab Matan Jauharah di depan Waled merupakan latihan mental yang sesungguhnya. Hal itu dikarenakan, di saat mengulang, kami harus berdiri di samping Waled, serta mengarahkan pandangan ke seluruh santriwan-santriwati serta dewan guru yang juga mengikuti pengajian Waled. Dengan jiwa dan hati gemetar, kami menjelaskan (shurah) kitab tersebut.

Saya paling suka mengulang, terkhusus di hari Selasa, karena bertujuan untuk pengembangan mental saya pribadi. Guru saya, Ustaz M. Aidil Adhaa Lc, selalu berujar, “Dua menit saja kita berdiri di depan khalayak untuk berbicara, itu sangat berharga untuk pengembangan mental kita.” Apalagi yang saya lakukan ini di depan Syaikhuna Waled. Keridaan Waled, merupakan segala-galanya bagi saya sebagai muridnya.

Begitulah aktivitas harian Waled memikirkan kemajuan pendidikan anak didiknya. Waled, selaku mu’allim serta murabbi yang inspiratif. “Khairukum mu’allimun (Sebaik-baik kamu adalah pengajar).” Kalimat itu selalu Waled ucapkan kepada kami sebagai penyemangat untuk menjadi sebaik-baik insan. Semoga.

 

Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved