Minggu, 26 April 2026

Jurnalisme Warga

Gayo Lues Semakin Panas

Lucunya di tengah jalannya pelatihan, para peserta mulai meninggalkan jaket mereka dan mengipas-ngipasi tubuh dengan kertas. "Kirain Gayo dingin, eh,

|
Editor: mufti
IST
Ns. YELLI SUSTARINA, S.Kep. Anggota Perempuan Peduli Leuser (PPL), Eco Blogger Squad (EBS), dan Forum Aceh Menulis (FAMe), melaporkan dari Gayo Lues, Aceh 

Menurut Susi yang juga anggota PPL, dulu rumah-rumah di Gayo Lues  jarang menggunakan kipas angin atau AC. Namun, sekarang sudah ramai menggunakan alat pendingin itu karena cuaca panas. Sebab, beberapa tahun terakhir di Gayo semakin panas, terlebih saat musim kemarau tiba.

Perubahan iklim itu nyata

Bila ditilik pengalaman saya tujuh tahun silam, terlihat bahwa perubahan iklim itu nyata adanya. Bukan sekadar pernyataan pakar yang menakut-nakuti, tapi kita sudah merasakan dampaknya sendiri. Hanya saja kita seolah menutup mata dan abai akan itu semua. Bahkan, kita masih sering tidak peduli tentang penggunaan energi yang sia-sia, seperti tidak melepaskan charger handphone setelah digunakan di stop kontak, membuang sampah seenaknya, dan boros penggunaan air.

Saya begitu syok mendengar pernyataan Mahawan Karuniasa, Dosen Program Studi Ilmu Lingkungan, Universitas Indonesia. "Bagi anak-anak, saat ini adalah cuaca tersejuk menuju masa depannya." Kalimat itu langsung saya dengar dari beliau saat mengikuti Pelatihan "Green Growth Journalism" yang diadakan Asosiasi Media Siber Indonesia (AMSI) pada 16 Oktober 2023 di Medan.

Dampak perubahan iklim bisa dilihat dari kualitas air sungai yang sebelumnya jernih, kemudian menjadi keruh karena berkurangnya hutan. Suhu permukaan Bumi makin lama makin panas dan produksi pangan mulai berkurang. Tidak hanya itu, tingkat keasinan air laut dan debit air sumur juga semakin berkurang, sehingga kemungkinan besar terjadi kekeringan di masa depan,” ungkap Mahawan yang juga Ketua Umum Jaringan Ahli Perubahan Iklim dan Kehutanan Indonesia (APIKI Network).

Kalau saat ini merupakan cuaca tersejuk bagi generasi mendatang, bisa dibayangkan bagaimana panasnya di masa depan? Sontak saya teringat akan sebuah video yang pernah diputar dulu saat mengikuti Serial Pelatihan PPL. Judulnya, "Surat dari Teman di Tahun 2070". Dalam video yang berdurasi tujuh menit itu menggambarkan kehidupan manusia yang kesusahan mendapatkan air. Cairan ini menjadi langka dan merupakan benda paling berharga dibandingkan emas dan permata. Sungguh menyedihkan!

Hal yang bisa kita lakukan ialah sadari bahwa krisis iklim sedang terjadi dan semakin parah bila tidak diimbangi dengan perilaku hijau. Kita bisa menerapkan perilaku hijau seperti tidak menyisakan makanan, tidak tergiur mengikuti tren (fast fashion), mengganti penggunaan plastik sekali pakai dengan totebag, menggunakan listrik, air, dan kendaraan seperlunya. Terakhir, gunakan media massa dan sosial untuk memengaruhi orang lain agar ikut bereaksi melakukan hal yang sama. Seperti yang saya lakukan saat ini.  

Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved