Berita Luar Negeri
Junta Militer Myanmar Kelimpungan Hadapi Pemberontak, Kini Minta Bantuan Rohingya: Perlindungan
Etnis Muslim Rohingya, Ali mengisahkan bagaimana kelompoknya di rekrut oleh Junta Militer Myanmar untuk ikut dalam wajib militer.
Penulis: Agus Ramadhan | Editor: Ansari Hasyim
Junta Militer Myanmar Kelimpungan Hadapi Pemberontak, Kini Minta Bantuan Rohingya: Perlindungan
SERAMBINEWS.COM – Junta Militer Myanmar, pemerintah negara yang dipimpin oleh para militer, kini kelimpungan menghadapi pemberontak di negara itu.
Bukan hanya satu kelompok pemberontak yang dihadapi, melainkan ada lebih dari 3 kelompok besar pemberontak yang tersebar di beberapa wilayah di Myanmar.
Kekurangan pasukan membuat militer Myanmar kelimpungan dan bahkan ada yang menyerah dari pemberontak demi keselamatan.
Namun setelah hampir tujuh tahun militer Myanmar menghabisi ribuan Muslim Rohingya dalam rentetan peristiwa, kini militer Myanmar justru menginginkan bantuan etnis tersebut.
Junta Militer memohon kepada etnis Rohingya untuk ikut dalam kampanye wajib militer untuk melawan pasukan pemberontak.
Etnis Muslim Rohingya, Ali (yang namanya diubah demi alasan keamanan) mengisahkan bagaimana kelompoknya di rekrut oleh Junta Militer Myanmar untuk ikut dalam wajib militer.
Mereka menjanjikan perlindungan bagi enits Muslim Rohingya yang mau ikut dalam wajib milter tersebut.
Tepat sebelum tengah malam pada 25 Februari 2024, Ali membuka pintu dan melihat tentara junta menodongkan senjata ke arahnya.
Militer Myanmar telah memasuki negara bagian Rakhine, sebagai bagian dari kampanye wajib militer yang baru diluncurkan dan pemuda Rohingya adalah korban terbaru mereka.
Ali mengatakan mereka mendorongnya ke dalam mobil dan membawanya ke kamp militer Batalyon Infanteri Ringan No. 535 di Buthidaung.
Keesokan harinya, seorang komandan operasi taktis mendesak para anggota baru untuk mengikuti pelatihan militer mereka dengan serius, dan menawarkan mereka kesepakatan.
Jika orang-orang Rohingya ini membentuk milisi dan menahan Tentara Arakan, yang baru-baru ini memperoleh keuntungan besar melawan junta di negara bagian Rakhine, maka Ali dan rekan-rekan wajib militernya akan diberikan status hukum.
Militer Myanmar juga menjanjikan gaji 1.000.000 kyat (sekitar Rp 7,5 juta) beserta jatahnya.
“Mereka mengajari cara menembakkan senjata, cara berjalan, dan cara menghindari (cedera) selama pertempuran,” kata Ali, dikutip dalam laporan Radio Free Asia, Kamis (11/4/2024).

India Nyatakan Perang Dagang dengan AS usai Trump Berlakukan Tarif 50 Persen |
![]() |
---|
Trump Ganti Nama Kementerian Pertahanan Menjadi Departemen Perang |
![]() |
---|
Update Terbaru Runtuhnya Jembatan di Sungai Kuning China: 12 Tewas dan 4 Hilang |
![]() |
---|
FBI Geledah Rumah Eks Penasihat Trump, Diduga Terkait Tulisan ‘Segunung Fakta’ dan Bocornya Rahasia |
![]() |
---|
Kisah Pernikahan Kilat Pegawai Bank, Nikahi Pasangannya 4 Kali Dalam Sebulan, Alasannya Karena Ini |
![]() |
---|
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.