Jurnalisme Warga
Liburan Idulfitri yang Menyenangkan
Merayakan Idulfitri tidak harus dengan baju baru, sepatu baru, bahkan perlengkapan rumah tangga pun biasanya kaum ibu menginginkan yang baru. Namun, k
Tanpa terasa kami telah tiba di pintu Tol Baitussalam dengan jarak tempuh ± 74 km dari Lamtamot. Penggunaan jalur tol sangat menghemat waktu tempuh, sesuai dengan tujuan pembangunan jalan tol itu sendiri, yakni untuk memperlancar arus lalu lintas di daerah berkembang.
Juga untuk meningkatkan pelayanan distribusi barang dan jasa, serta menunjang pertumbuhan ekonomi, di samping meringkankan beban dana pemerintah melalui partisipasi pengguna jalan dengan membayar biaya tol.
Untuk kendaraan pribadi dikenakan biaya Rp42.000 dari pintu Tol Lamtamot menuju Tol Baitussalam.
Kegiatan selama di Banda Aceh kami isi dengan kunjungan silaturahmi ke tempat saudara. Selain itu, kami sempatkan diri untuk mengunjungi tempat wisata Pantai Lhoknga di Aceh Besar.
Suasana di pantai ini panas menyengat, tetapi kendaraan pengunjung terus berdatangan memenuhi area parkir yang disediakan.
Memandang laut luas yang indah sambil menikmati kuliner yang ditawarkan oleh pemilik kafe yang berada di sisi pantai adalah sesuatu yang tidak kita dapatkan di tempat yang lain. Pantai Aceh memang masih tergolong asri karena kita masih dapat menyentuh air pantai yang mengalir di dekat tempat kita bersantai.
Pantai ini airnya jernih serta tidak banyak bebatuan di pinggir pantainay. Menuju lokasi ini kita harus menempuh perjalanan ± 20 menit dengan jarak ± 22 km dari Banda Aceh.
Setelah menikmati angin yang sepoi-sepoi di pinggir Pantai, kami bergegas bergerak meninggalkan Lhoknga dan kembali ke Kota Banda Aceh.
Dalam perjalan kembali ke Banda Aceh kami singgah di Desa Lampisang yang dikenal sebagai sentra oleh-oleh makanan khas Aceh. Kami beli bebrapa untuk dibawa pulang ke Batam. Di antaranya kue Bakpia Sabang, meusekat, dan dodol khas Aceh dengan aneka ragam rasa. Mata saya tertuju pada bungkusan unik yang paling kecil berisi dodol yang dibungkus dengan pelepah daun pinang, mirip dengan dodol Tanjungpura Medan.
Makanan khas Aceh yang tidak boleh tertinggal juga adalah ‘wajeb’ (wajik), terbuat dari ketan putih yang dibubuhi gula merah atau gula putih, pisang selai, keukarah, dan kue ade. Semua oleh-oleh yang dijual di sepanjag jalan Lhoknga ini adalah produksi dari usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) masyarakat sekitaranya dan juga dari Sabang.
Setelah berbelanja, kami keliling Pasar Aceh, rencana mau berbelanja, tapi sayangnya pasar tutup karena libur Idulfitri. Para pedagang semuanya pulang kampung, sebagaimana yang disampaikan seorang tukang parkir.
Hanya satu malam menginap di Banda Aceh kami putuskan pulang ke Bireuen melalui jalan umum. Banyaknya iringan kendaraan ke arah Medan membuat suasana jalan semakin ramai dan sedikit macet.
Puncak kemacetannya justru ketika kami sampai di Kota Bireuen, mulai dari Simpag Adam Batre sampai dengan depan pintu masuk terminal lama. Target waktu hanya perlu 20 menit sampai di rumah, ternyata hampir satu jam baru sampai. Kenangan liburan Idulfitri yang tak terlupakan.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/chairul-juara-menulis.jpg)