Opini
Jangan Suka Mengkritik
Budaya kritik sebenarnya telah berkembang dalam hidup manusia sejak zaman Yunani Purba, yang dalam bahasa Yunani disebut “kriticos”, mengandung makna
Nab Bahany As, Budayawan, tinggal di Banda Aceh
APAKAH kritik masih dibutuhkan dalam kehidupan manusia, atau dalam suatu masyarakat negara bangsa? Kritik akan makin terus berkembang, bila masyarakat negara bangsa itu, telah berhasil keluar dari pasungan budaya paternalistik dan feodalistik. Selama masyarakat bangsa masih enggan meninggalkan dua bentuk budaya itu, maka budaya kritik tak akan tumbuh sempurna. Karena, kritik ini adalah salah satu jalan untuk melahirkan keterbukaan masyarakat, dalam menyikapi atas berbagai kenyataan sosial-budaya, ekonomi, hukum dan keadilan, serta kekuasaan yang menyimpang. Atau bahkan bentuk keberagamaan yang dianutnya.
Budaya kritik sebenarnya telah berkembang dalam hidup manusia sejak zaman Yunani Purba, yang dalam bahasa Yunani disebut “kriticos”, mengandung makna penilaian atas kenyataan berdasarkan norma-norma hidup manusia. Bila kehidupan manusia dianggap telah menyimpang dari norma-norma yang disepakati, maka dibutuhkan kritik untuk meluruskannya.
Karena itu, RC Kwant (1975) dalam buku terkenalnya “Manusia dan Kritik” menyatakan, semua kemajuan yang dicapai manusia berawal dari kritik. Maka kritik dibutuhkan untuk menilai kembali (evaluasi) bagi kemajuan hidup manusia. Tanpa ada penilaian kembali tak akan diketahui baik buruknya yang telah dikerjakan. Dan tak akan diketahui bagaimana harus memperbaiki suatu keadaan yang tidak menyenangkan menjadi kondisi yang disenangi oleh semua lapisan komponen manusia berdasarkan landasan norma-norma kehidupan manusia di alam semesta ini.
Itu sebabnya, kritik erat kaitan dengan perubahan ke arah kemajuan manusia, untuk melahirkan yang lebih baru dari yang sudah ada. Semakin maju peradaban sebuah bangsa, akan semakin terbuka terhadap kritik. Sejak awal munculnya zaman modern yang dimulai awal abad pertengahan yang disebut abad pencerahan (zaman renaisans), yaitu zaman dimulainya kebudayaan baru di Eropa. Sejak itu, tradisi kritik menjadi bagian dari kebudayaan yang dikembangkan umat manusia.
Tidak mungkin suatu masyarakat bangsa menwujudkan kemajuannya, bila ruang kritik ditutup rapat, tidak dibuka secara transparan. Baik dalam bentuk institusi, kelembagaan, maupun dalam bentuk personalitas individual manusia. Dalam dunia seni, untuk menguji sebuah karya seorang seniman dibutuhkan kritikus seni, untuk menguji sebuah karya sastra, juga dibutuhkan kritikus sastra. Sehingga sebuah karya yang dihasilkan seniman akan ketahuan kelemahan dan kekurangan, serta kelebihannya.
Demikian halnya kritik-kritik terhadap kebijakan dari sebuah pemerintahan-penguasa. Dengan kritik, penyelenggara pemerintahan-penguasa akan mengetahui di mana kekurangan dan kelemahannya dalam menyelenggarakan pemerintahan yang dilakukan. Tentu saja, kritik yang disampaikan tidak atas dasar kebencian, apa lagi fitnah tak berdasar disebabkan unsur sentimentalitas terhadap privat personalitas yang dikritik.
Karena itu, pengeritik yang baik harus dilakukan oleh yang profesional. Sebab, secara kebudayaan, menurut Ignas Kleden (1987), baca; “Sikap Ilmiah dan Kritik Kebudayaan” memberikan pandangan, bahwa dalam sebuah proses perubahan yang dilakukan pengeritik--misalnya untuk mengubah unsur lama menjadi unsur baru--harus diusahakan sebisa mungkin jangan sampai menimbulkan konflik kultural yang berkepanjangan. Perubahan kebudayaan dari unsur lama menjadi unsur baru harus dapat digerakkan seharmoni mungkin di antara dua kutup kultur yang berbeda.
Sehingga, perubahan kebudayaan itu tanpa disadari oleh dua komponen tersebut, bahwa mereka sudah berada dalam sebuah perubahan yang berlangsung secara alamiah yang lebih maju dari sebelumnya. Ini yang mendasari mengapa kritik harus dilakukan oleh yang profesional dan berilmu. Demikian halnya yang dikritik, juga harus yang berilmu. Sebab, ada nasihat dari Ali bin Abi Thalib r.a mengatakan begini; “Jangan kalian mengeritik orang bodoh, karena ia akan membencimu.
Tapi kritiklah orang yang berakal dan berilmu, karena dengannya ia akan mencintaimu”.
Jadi, bila Anda mengeritik suatu masyarakat yang masih terkurung dalam budaya paternal dan feodalistik, kritik ini masih dianggap ancaman. Bahkan bisa menjadi sumber konflik yang rentan, baik secara individual, institusi kelembagaan, maupun antara pemerintah dengan rakyat yang diperintah.
Terpasung sistem
Padahal, salah satu dari tujuan kita memerdekakan diri penjajahan bangsa lain menjadi sebuah bangsa yang merdeka, yang kita namai bangsa Indonesia, adalah kita bersepakat meninggalkan budaya hidup lama dari zaman beraja-raja dan beratu-rat--dimana apa kata raja atau kata ratu menjadi sebuah titah yang absolut, rakyat tidak boleh membantahnya.
Suka tidak suka, rakyat harus menerima titah itu dengan lapang dada. Siapa yang melanggar titah raja atau titah ratu, sangsinya sudah tidak tanggung-tanggung. Itu sebabnya, mengapa kritik tidak bertumbuh di zaman beraja-raja dan beratu-ratu, karena budayanya memang tidak memberi ruang untuk membantah raja atau ratu yang berkuasa. Akan tetapi, karena kritik ini harus dilakukan sebagai jalan menuju perubahan untuk melahirkan kemajuan manusia yang hidup dalam sebuah negara bangsa.
Maka, pelaku kritik tetap saja mencari ruang walau dalam kegelapan sekalipun, agar terbukanya saluran kritik disampaikan. Media seni merupakan salah satu ruang yang dipandang efektif bagi penyaluran kritik yang disampaikan rakyat, tak hanya bagi raja yang berkuasa.
Akan tetapi juga terhadap suatu kondisi sosial budaya yang tidak menyenangkan. Seni pewayangan di Jawa dengan tokoh-tokoh wayang yang dilakonkan para dalang--yang kadang dipertunjukkan dalam bentuk kejenakaan--akan lebih menyenangkan, dari pada kritik yang disampaikan demo turun ke jalan.
| Saat Pemimpin tak Hadir di Tengah Bencana: Dilema Etika Antara Hak Personal & Tanggung Jawab Publik |
|
|---|
| Aceh sebagai Pintu Gerbang Perdagangan Internasional, Mengaspirasi Pembangunan Dubai |
|
|---|
| Nasib Aceh jika Kepala Daerah Dipilih DPRD |
|
|---|
| Menata Standar Pendidikan Menuju Ekosistem yang Lebih Bermakna |
|
|---|
| Dampak Bencana dan Antisipasi Perubahan RPJMA 2025-2029 |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/budayawan-99009.jpg)