Selasa, 14 April 2026

Kupi Beungoh

Menjaga Kedaulatan Indonesia dari Ancaman di Laut China Selatan

Prabowo pernah mengutip kata “Si vis pacem, para bellum”. Ungkapan bahasa Latin berarti “Jika kamu menginginkan perdamaian, bersiaplah untuk perang"

|
Editor: Nurul Hayati
nicexams.com
China ingin perkuat dominasi di Laut China Selatan 

Oleh: Muhammad Hadi*)

Saya senang para panelis menyiapkan pertanyaan terkait Konflik di Laut China Selatan dalam debat ketiga Pilpres 2024, Minggu (7/1/2024) malam. Sehingga publik dapat menilai bagaimana pendapat calon presiden (capres) dalam menjawab persoalan Laut China Selatan.

Memang jatah pertanyaan tentang Laut China Selatan jatuh kepada capres nomor urut 3 Ganjar Pranowo. Tapi capres nomor urut 1 Anies Baswedan dan capres nomor urut 2 Prabowo Subiato juga mendapat kesempatan untuk menanggapi soal konflik di Laut China Selatan.

Kini Pilpres 2024 sudah selesai dan pemenangannya sudah ditetapkan Komisi Pemilihan Umum (KPU), yaitu Prabowo Subianto dan Gibran Rakabuming Raka sebagai Presiden dan Wakil Presiden RI periode 2024-2029. Pelantikan atau pengucapan sumpah/janji Presiden dan Wakil Presiden 2024 akan dilakukan pada tanggal 20 Oktober 2024. Setelah dilantik nanti, publik akan melihat bagaimana kebijakan Prabowo-Gibran dalam menghadapi potensi konflik di Laut China Selatan seperti yang disampaikan dalam debat ketiga Pilpres 2024.

Makanya penulis hanya ingin membahas tentang pendapat Prabowo dalam menangani masalah Laut China Selatan. Prabowo dengan latar belakangnya sebagai orang militer dan kini mengemban amanah sebagai Menteri Pertahanan RI tentu saja menjawab persoalan ini dengan kacamata pertahanan. Prabowo mendorong penguatan pertahanan Indonesia. Ia menilai perlu beragam alat untuk menghadapi masalah tersebut.

“Jadi keadaan Laut Cina Selatan, menggarisbawahi bahwa kita perlu kekuatan pertahanan yang kuat. Kita perlu platform untuk patroli, kita perlu satelit, kita perlu banyak sekali. Dan untuk itu, pertahanan harus kita bangun,” kata Prabowo dalam debat ketiga Pilpres 2024.

Baca juga: VIDEO Menhan Prabowo Bertemu Presiden Uni Emirat Arab, Terima Medali Zayed dari Presiden MBZ

Secara pribadi penulis sangat setuju dengan pendapat Prabowo tentang penguatan pertahanan Indonesia guna menghadapi kemungkinan perang terbuka di Laut China Selatan. Apalagi Amerika Serikat bersama sekutunya Inggris dan Australia mulai memandang perlunya mencegah menguatnya pengaruh China di kawasan Pasifik. Jika konflik benar-benar terjadi, Indonesia bersama negara ASEAN lainnya akan merasakan dampaknya.

Ini artinya pertahanan Indonesia harus segera diperkuat lagi dan di sisi lain memperkuat diplomasi dengan negara-negara ASEAN. Kita percaya Prabowo pasti dengan pengalaman di dunia militer akan mampu mewujudkan itu. Kalau Indonesia mengabaikan pertahanan yang kuat, jangan sampai seperti kambing berada dalam satu kandang bersama para gajah yang berkelahi. Dimana gajah (China dan Amerika bersama sekutunya) saling berkelahi dan kambing merasakan dampaknya.

Indonesia harus belajar banyak dari kasus Ukraina yang diserang oleh Rusia hingga porak-poranda. Keberanian Rusia karena tahu bahwa pertahanan Ukraina tidak kuat. Di sisi lain, Ukraina salah perhitungan karena mengira akan dibantu secara total oleh negara-negara Barat dengan terlibat langsung di medan perang. Nyatanya hanya mengirim peralatan militer terbatas dan Ukraina harus berjuang sendirian di garis depan hingga dengan mudah dihancurkan oleh Rusia dengan kekuatan militer nomor dua di dunia setelah Amerika Serikat. Andai Ukraina punya kekuatan militer yang kuat, tentu Rusia tidak akan bermain api ke wilayah Ukraina. Ini pelajaran penting bagaimana penguatan pertahanan Indonesia merupakan hal mendesak untuk menghadapi ancaman dari luar, termasuk soal Laut China Selatan.

Apalagi, China terus membangun Laut China Selatan yang menjadi pangkalan militer sangat strategis. Ini sejalan dengan peta baru Cina pada 2023. Peta baru Cina yang diserahkan kepada PBB tentang Laut Cina Selatan sudah berubah dari 9 garis putus-putus menjadi 10 garis putus-putus. Peta tersebut dengan jelas China ingin menunjukkan dominasinya. China juga tidak ingin kompromi soal batas Laut China Selatan dengan mengklaim sebagai wilayah kedaulatannya.

Baca juga: Prabowo Minta AS dan China tak Abaikan ASEAN Terkait Konflik Laut China Selatan

Bahkan sejak akhir 1940-an, pemerintah Cina telah mempromosikan apa yang mereka sebut nine-dash line di Laut Cina Selatan. Berdasarkan data Badan Nasional Pengelola Perbatasan (BNPP) RI, Ten-Dash Line yang berbentuk huruf U menunjukkan Cina seolah telah memperluas klaimnya atas wilayah geografis di Laut China Selatan yang diperkirakan hingga 90 persen. Angka ini melingkar sebesar 1500 kilometer di selatan Pulau Hainan, memotong Zona Ekonomi Eksklusif (ZEE) Malaysia, dekat Sabah dan Sarawak, lalu Brunei, Filipina, Vietnam, hingga ke wilayah perairan Indonesia. Ini artinya China tidak main-main dalam memperkuat pertahanan dan cengkramannya di Laut China Selatan.

Apalagi, China terus memperkuat angkatan lautnya dengan tiga kapal induk. Saat ini China sudah memiliki tiga kapal induk, yakni Fujian, Liaoning, dan Shandong. Liaoning merupakan kapal induk pertama yang dibeli bekas bak besi tua dari Ukraina. Setelah membuat Liaoning menjadi kapal induk siap tempur hingga mengejutkan dunia. China meresmikan Shandong sebagai kapal induk kedua.

Ternyata tidak cukup dua kapal induk bagi China, mereka membuat dunia kembali terkejut dengan kemunculan kapal induk ketiga. Fujian, salah satu provinsi China yang menghadap Selat Taiwan menjadi nama kapal induk ketiga negara Tiongkok itu. Apakah, China akan membuat kapal induk keempat atau terus bertambah? Hanya waktu yang akan menjawabnya nanti.

Tapi yang pasti dengan memiliki tiga kapal Induk, China menjadi negara kedua yang memiliki kapal induk aktif setelah Amerika Serikat. Negara yang sering dipanggil dengan mana Paman Sam saat ini mengoperasikan 11 kapal induk yang disebar ke berbagai laut di dunia. Maka tidak heran saat kapal induk AS USS Gerald R Ford dengan cepat tiba di kawasan Laut Mediterania saat kelompok perlawanan Palestina menyerang Israel. Kapal induk terbesar di dunia tersebut dikerahkan untuk membela Israel, sekaligus memberikan sinyal bahaya kepada negara lain untuk tidak ikut campur dalam konflik tersebut.

Baca juga: China Peringatkan AS tak Lakukan Provokasi di Laut China Selatan

Makanya Indonesia tidak boleh lalai dari sepak terjang China yang terus memperkuat kekuatan militernya termasuk di Laut China Selatan. Teman tetap teman, tapi kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) adalah harga mati yang harus dipertahankan walaupun sejengkal. Memperkuat pertahanan seperti yang diutarakan Prabowo dalam debat ketiga Pilpres 2024 merupakan jawaban untuk menjaga NKRI.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved