Opini

Generasi tanpa Nama

Artinya, fenomena ini merupakan hal yang baru di Aceh. Kemudian, walaupun dulu anak-anak Aceh mengucapkan kata-kata kotor, tapi tidak berani untuk diu

Editor: mufti
SERANBINEWS.COM/IDRIS ISMAIL
Mujtahid, Wakil Ketua IKAT Bidang Dakwah dan Penguatan Umat 

Mujtahid, Wakil Ketua IKAT Bidang Dakwah dan Penguatan Umat

UCAPAN dan sapaan dengan kata-kata tidak pantas, terutama dengan nama-nama binatang sudah menjadi pemandangan lumrah pada hari ini di kalangan remaja dan anak muda di Aceh. Terutama di warung-warung kopi yang menyediakan fasilitas wifi dan mayoritas pelanggannya adalah anak-anak muda yang bermain game. Kata-kata jorok dan tidak pantas tersebut dengan mudah keluar dari mulut anak-anak muda tersebut.

Padahal, berkata jorok atau temeuenak merupakan hal yang tabu bagi masyarakat Aceh.Bek peugah haba kah ke, ditimoh iku jeut keu ase (jangan berbicara dengan kah tau ke, nanti tumbuh ekor jadi anjing) atau bek meuiku bek meu ikah ditimoh iku jeut keu gajah (jangan berbicara dengan aku dan kah, nanti tumbuh ekor jadi gajah) merupakan salah satu adagium yang hidup dalam masyarakat Aceh. Orang tua terdahulu mengedukasi anak-anaknya sejak dini untuk terbiasa bertutur kata dengan baik dan dari potongan adagium di atas terlihat bahwa kata-kata "anjing" yang belakangan diucapkan oleh anak-anak muda ini bukanlah kata yang baik di telinga masyarakat Aceh.

Tidak dapat dipungkiri bahwa budaya teumeunak juga hidup di masyarakat Aceh. Bahkan kata-kata teumeunak dalam budaya Aceh mungkin menjadi salah satu ungkapan tidak pantas yang paling jorok di dunia. Namun, pada umumnya orang yang hobi teumeunak sendiri, intensitas teumeunaknya tidak setinggi anak-anak yang mengucapkan "anjing" dan "babi" di warung kopi pada hari ini.

Artinya, fenomena ini merupakan hal yang baru di Aceh. Kemudian, walaupun dulu anak-anak Aceh mengucapkan kata-kata kotor, tapi tidak berani untuk diucapkan di hadapan orang yang lebih tua dari mereka. Bahkan orang tua dulu tidak segan untuk geupeu caplie (dioleskan cabai di mulut) anak-anak yang suka berbicara dengan kasar.

Tren Mabar dan Podcast

Jika ditelusuri lebih lanjut, semenjak anak-anak Aceh aktif  bermain game secara online, seperti Mobile Legend, PUBG, dan Free Fire maka kebiasaan anak-anak menyapa dengan nama binatang mulai membudaya. Jika dulu anak-anak bermain playstation, orang tua masih mengetahui dengan siapa anak-anaknya bermain. Sehingga tingkah laku dan tutur kata mereka setidaknya masih bisa dikontrol.

Berbeda dengan game-game online tersebut, jangankan orang tua, mereka sendiri belum tentu saling kenal. Teman main bareng (mabar) mereka sangat random, baik dimainkan dengan cara menginvite ID atau undangan permainan bagi teman-teman yang terhubung di media sosial.

Selain game, trend podcast juga memengaruhi perilaku masyarakat Indonesia, terutama kalangan anak muda. Ketika Indonesia dilanda wabah pandemi covid 19, gerak masyarakat sangat terbatas kala itu, tak terkecuali para artis dan influencer. Masyarakat Indonesia menghabiskan banyak waktu di rumah dan berinteraksi dengan sosial media.
Podcast pada mulanya merupakan bentuk siaran di radio, belakangan ngomong-ngomong bebas tersebut mulai diminati juga dalam bentuk video. Orang berbicara hal-hal yang santai tapi bisa mendatangkan jutaan viewer. Para youtuber mulai melihat adanya peluang untuk menghasilkan cuan melalui video dengan konsep podcast.

Pada dasarnya tren podcast juga memberi dampak positif sebagai salah satu media pembelajaran yang bisa menjelaskan hal-hal yang berat untuk disampaikan dengan bahasa yang sederhana. Namun ketika tren podcast ini dikuasai oleh para influencer yang tutur katanya tidak terjaga, maka kata-kata kasar mulai menghiasi video-video podcast.

Bahkan beberapa influencer yang tampaknya memiliki latar belakang pendidikan yang baik pun tidak segan untuk mengucap kata "anjirr" dan sebagainya. Dalam salah satu penerbangan dari Aceh ke Jakarta, seorang mahasiswi yang menggunakan baju almamater salah satu kampus ternama di Aceh berteriak "anjirr" ketika pesawat yang sedang ditumpangi take off. Dia terpesona dengan indahnya alam Aceh yang tampak dari udara. Bagaimana anak-anak muda yang terbiasa menonton podcast di bawah alam sadar mengucapkan kata-kata kotor.

Bukan fenomena urban

Awalnya penulis mengira bahwa kebiasan anak-anak menyapa dengan nama binatang tersebut hanyalah fenomena anak-anak perkotaan. Dengan asumsi awal bahwa anak-anak di perkotaan tingkat kepekaan sosialnya lebih rendah dibandingkan dengan anak-anak yang hidup di pedesaan. Faktanya di gampong-gampong hal tersebut juga terjadi, bahkan lebih parah.

Semenjak internet masuk ke desa, pergaulan-anak-anak sudah tidak terkontrol. Ditambah dengan minimnya pengetahuan para orang tua mengenai teknologi di pedesaan. Jika dulu orang tua menginginkan anaknya tinggal di gampong agar perilakunya lebih baik, namun semenjak internet masuk, nampaknya kehidupan di gampong-gampong tidak lebih baik dari kehidupan di perkotaan.

Seorang perangkat gampong mencoba menasihati sekelompok anak yang sedang nongkrong di salah satu warung kopi di sudut gampong. Kepeu neutham kamoe? Abu Fulan diteumuenak bak Tik Tok tameng peng (kenapa Anda melarang kami? Abu fulan berkata kasar di Tik Tok bisa menghasilkan uang). Begitulah salah satu contoh bagaimana aktivitas masyarakat Aceh di media sosial, terutama Tik Tok yang dihiasi dengan ucapan-ucapan kasar menginspirasi anak-anak di gampong untuk tidak lagi segan untuk berbicara kotor. Hal yang dulunya sangat tabu untuk diucapkan berubah menjadi perkara yang sangat lumrah di masyarakat.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved