Konflik Palestina vs Israel
Tajam! Wapres AS Kamala Harris ke PM Israel Netanyahu soal Penderitaan Gaza: Saya Tak akan Diam
Tajam! Wakil Presiden Amerika Serikat (Wapres AS), Kamala Harris mendesak Perdana Menteri (PM) Israel Benjamin Netanyahu menyepakati gencatan senjata
Penulis: Sara Masroni | Editor: Amirullah
Komite Palang Merah Internasional mengatakan rumah sakit lapangannya di Rafah menerima banyak korban dan rumah sakit lain juga menerima banyak pasien.
“Serangan udara membakar tenda, tenda meleleh dan jenazah orang-orang juga meleleh,” kata salah satu warga yang tiba di Rumah Sakit Kuwait di Rafah.
Doctors Without Borders, yang dikenal dengan singkatan MSF, mengatakan puluhan orang yang terluka serta lebih dari 15 orang tewas telah dibawa ke fasilitas yang mereka dukung.
“Kami merasa ngeri dengan peristiwa mematikan ini, yang sekali lagi menunjukkan bahwa tidak ada tempat yang aman,” tulis kelompok tersebut di platform media sosial X, dan mengulangi seruannya untuk segera melakukan gencatan senjata.
Anggota Kongres AS, Ro Khanna meminta Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu untuk mengakhiri serangan di kota Gaza selatan.
“Netanyahu harus segera menghentikan serangan militer ke Rafah,” kata Khanna dalam postingannya di X.
“Hilangnya nyawa tak berdosa secara mengerikan saat ini akibat pemboman sebuah kamp pengungsi menggarisbawahi pentingnya moral untuk menghentikan kampanye Rafah,” kata Khanna, seorang Demokrat progresif dari California.
Pembantaian Lagi Khan Younis, Gaza Palestina
Sementara diberitakan sebelumnya, sebanyak 70 orang syahid dan lebih dari 200 lainnya terluka dalam serangan Israel di kota Khan Younis di selatan Jalur Gaza, Senin (22/7/2024).
Hal itu sebagaimana diumumkan Kementerian Kesehatan Palestina dilansir dari Anadolu Agency, Selasa siang.
Militer Israel itu juga mengusir warga Palestina yang tinggal di sekitar daerah Khan Younis agar segera mengungsi ke tempat lain.
Penduduk terlihat meninggalkan daerah mereka dengan berjalan kaki dan dengan gerobak-gerobak di tengah pemboman Israel sebagaimana laporan kantor berita resmi Palestina Wafa.
Kementerian tersebut sebelumnya menyebutkan jumlah korban tewas akibat serangan Israel mencapai 49 orang dan 120 lainnya terluka.
Kompleks Medis Nasser di wilayah itu meminta warga untuk segera menyumbangkan darah kepada para korban luka di tengah kekurangan cadangan darah yang sangat memprihatinkan.
Dalam sebuah pernyataan, juru bicara militer Israel Avichay Adraee mengklaim bahwa “keberadaan sejumlah operasi militer dan tembakan roket dari wilayah timur Khan Younis telah membuat keberadaan mereka di sana menjadi berbahaya.”
Padahal militer Israel sebelumnya telah menetapkan wilayah timur Khan Younis sebagai zona aman bagi warga Palestina yang mengungsi di wilayah tersebut.
Sementara dua minggu lalu, tentara Israel menewaskan sedikitnya 90 warga Palestina dan melukai 300 lainnya dalam serangan di wilayah al-Mawasi dekat Khan Younis, daerah yang sebelumnya telah diumumkan oleh militer Israel sebagai “zona aman.”
Perdana Menteri, Israel Benjamin Netanyahu membela pembantaian tersebut, dengan mengatakan serangan itu untuk menargetkan komandan sayap bersenjata Hamas, Mohammed Deif, dan wakilnya.
Namun, tidak ada konfirmasi dari Israel mengenai kematian komandan Hamas tersebut.
Mengabaikan resolusi Dewan Keamanan PBB yang menuntut gencatan senjata segera, Israel telah menghadapi kecaman secara internasional di tengah serangan brutalnya yang berkelanjutan di Gaza sejak serangan 7 Oktober.
Lebih dari 39.000 warga Palestina tewas, sebagian besar wanita dan anak-anak, dan lebih dari 89.900 terluka, menurut otoritas kesehatan setempat.
Sembilan bulan lebih sejak serangan Israel, sebagian besar wilayah Gaza telah hancur di tengah blokade yang melumpuhkan terhadap makanan, air bersih, dan obat-obatan.
(Serambinews.com/Sara Masroni)
BACA BERITA SERAMBI LAINNYA DI GOOGLE NEWS
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.