Sabtu, 2 Mei 2026

Jurnalisme Warga

Andaikan Hikayat Aceh Dijumpai Lengkap, Tetapkah Diakui Unesco?

apakah Unesco terlalu gegabah menyeleksinya? Sama sekali tidak! Saya amat yakin bahwa salah satu faktor paling kuat yang menentukan Hikayat Aceh

Tayang:
Editor: mufti
SERAMBINEWS/tambeh.wordpress.com
T.A. SAKTI, ‘aneuk ubat’ Tabib Wen (pasien patah  tahun 1986) di Rumoh Teungoh, Gampong Ujong Blang, Mukim Bungong Taloe,  Kecamatan Beutong, Nagan Raya, melaporkan dari Gampong Bucue, Kecamatan Sakti, Pidie 

T.A. SAKTI, ‘aneuk ubat’ Tabib Wen (pasien patah  tahun 1986) di Rumoh Teungoh, Gampong Ujong Blang, Mukim Bungong Taloe,  Kecamatan Beutong, Nagan Raya, melaporkan dari Gampong Bucue, Kecamatan Sakti, Pidie

Sejauh yang masih tersimpan hingga hari ini, ”Hikayat Aceh”  bukanlah sebuah naskah lama (manuskrip) yang lengkap isinya. Alhamdulillah, walaupun demikian manuskrip ini sudah diakui Unesco, Badan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), sebagai Memory of the World, yakni Memori Warisan Dunia.

Dalam hal ini, apakah Unesco terlalu gegabah menyeleksinya? Sama sekali tidak! Saya amat yakin bahwa salah satu faktor paling kuat yang menentukan Hikayat Aceh  dapat  diakui Unesco adalah karena manuskrip ini sudah dikaji Teuku Iskandar sebagai bahan disertasi di Universitas Leiden, Belanda  tahun 1959. Disertasi itu sebuah karya ilmiah tertinggi.

Sebelumnya, memang telah ada beberapa peneliti Barat yang mengutip Hikayat Aceh untuk memperkuat hujjah/alasan bagi disertasi mereka.  Misalnya, Juynboll  telah mengutip Hikayat Aceh untuk beberapa bagian karya ilmiahnya.

Penulis Van der Linden juga sudah menulis mengenai Hikayat Aceh dalam disertasi  yang berjudul “Pengaruh Eropa dalam Literatur Melayu”. Dia dengan agak mendalam menulis tentang kedatangan utusan-utusan Portugis ke Aceh yang tersurat dalam Hikayat Aceh.

Setelah Perang Dunia II berakhir, terbit pula disertasi Van Nieuwenhujze dengan judul “Samsu’l-Din van Pasai” (Syamsuddin dari Pasai). Dalam disertasi itu dicantumkan satu bab penuh isi  Hikayat Aceh.  Sampai hari ini Syekh Syamsuddin Pasai sebagai penasihat Sultan Saidil Mukammil dan Sultan Iskandar Muda masih dianggap sebagai penulis Hikayat Aceh.

Walaupun sudah banyak dikaji dan dikutip para sarjana asing, tetapi penerbitan lengkap teks Hikayat Aceh tidak ada sampai sekarang (tahun 1959). Maka “Untuk sekadar mengisi kekosongan itulah kami bermaksud menyajikan teks itu di sini,” tulis Teuku Iskandar dalam disertasinya.

Aceh–Portugis harmonis

Masa pemerintahan Sultan Saidil Mukammil, kakek Sultan Iskandar Muda, adalah masa indah, makmur, damai dan tenteram. Selama 15 tahun (1589–1604) masa pemerintahannya,  hubungan Kerajaan Aceh dengan Kerajaan Portugis dalam kondisi harmonis yang bersahabat.

Beberapa peristiwa terkait tentang baiknya hubungan diplomatik antara  kedua kerajaan itu dicantumkan panjang lebar dalam Hikayat Aceh.

Pada kesempatan ini saya kutip kisah yang terpendek saja sebagai berikut.

“Apakala sampai Syah  ‘ Alam (gelar lain bagi Sultan Saidil Mukammil)  ke Istana Bunga Setangkai, maka semayam seperti  ‘adat semayam pada ketika menyuruh sambut surat daripada raja-raja asing itu. Maka Syah  ‘Alam  memeri  (memberi) titah menyambut surat itu dengan hormatnya. Maka memeri  titah Syah Alam kepada Syaikhul Islam menyuruh memeca (membaca) surat itu.

Maka tatkala terdengar perkataan dalam surat itu, maka Syah ‘Alampun sukacita, maka antusan itupun dikaruniai persalinan (diberi pakaian kebesaran yang lengkap).

Setelah beberapa hari kemudian dari itu, maka Syah ‘Alam memeri titah memanggil antusan itu. Maka sabda Syah ‘Alam kepada antusan itu; “Apa kehendak  Sultan Pertugal menyuruhkan kamu kedua ini kepadaku?”  Maka sembah Dang Dawis dan Dang Tumis, antusan yang kedua itu: Tuanku, kami dititahkan saudara Tuanku menghadap duli halarat Tuanku ini, bahwa dari Tuanku hendak memohonkan Kota Biram yang di tepi laut itu.” Maka Syah ‘Alampun tersenyum menengar (mendengar) sembah antusan itu.” (Teuku Iskandar, Hikayat Aceh, halaman 146).

Pada halaman 152 disebutkan, ”Maka berapa lamanya antusan itu di Aceh maka iapun mohon kembali. Maka sabda Syah ‘Alam, ”Baiklah, jika kamu kembali katakan pesan kita kepada raja Pertugal bahwa Raja Pertugal minta Kota Biram itu bahwa Kota Biram itu kota yang mengawal Kuala Aceh. Jikalau tempat lain yang dipinta Raja Pertugal, niscaya kami beri.”

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved