Kupi Beungoh
Merawat Jaringan: Satu Malam Bersama Diaspora Aceh dan Turkiye di Malaysia
Ekspatriat Aceh yang bekerja secara profesional di Malaysia merupakan salah satu elemen yang sering dilupakan ketika menyebutkan diaspora Aceh.
Isteri saya, Marini Muchtar telah lama mengenal Nia Deliana ketika mereka sama-sama kuliah di Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris, Fakultas Tarbiyah dan Keguruan, Universitas Islam Negeri Ar-Raniry tahun 2004 lalu.
Hanya saja ketika itu, isteri saya hanya sempat kuliah sebentar di sana karena kemudian ia memutuskan untuk melanjutkan kuliah di bidang yang sangat diminatinya, dalam bidang Teknologi, Informasi dan Komunikasi pada Universiti Islam Antarabangsa Malaysia (UIAM).
Ketika selesai S1, isteri saya sempat bekerja pada salah satu perusahaan di Malaysia, sampai ia memutuskan berhenti karena melanjutkan pendidikan S2 di almamater yang sama.
Lalu, sejak selesai kuliah dia pun kembali bekerja sebagai ekspatriat di Malaysia dalam bidang IT di berbagai perusahaan di negeri jiran itu, hingga ke hari ini.
Isteri saya bertemu lagi dengan kawannya itu, ketika Nia Deliana melanjutkan kuliah di jenjang S2 di Fakultas Ilmu Pengetahuan dan Sains Kemanusiaan, UIAM.
Nia Deliana kemudian merampungkan pendidikan S3 di tempat yang sama di mana dia menulis disertasi yang berkonsentrasi pada sejarah hubungan internasional antara India Selatan dan Indonesia.
Saat ini dia menjadi dosen di Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Islam International Indonesia (UIII).
Suami Nia Deliana pula, Dr. Mehmet Ozay, dari namanya saja kita bisa menebak bahwa ia berasal Turki.
Saya sudah mengenalnya sejak tahun 2005 lalu.
Lelaki yang menamatkan S2 dan S3 di Universitas Marmara, Istanbul, Turki itu kini menjadi dosen di Institut Tamadun dan Pemikiran Islam Antarabangsa (ISTAC), UIAM.
Sebelumnya, dia pernah menjadi dosen tamu di Universitas Syiah Kuala (USK), lalu mengajar di Universiti Teknologi Malaysia (UTM) dan juga di negeri asalnya yaitu Universitas Ibnu Haldun, Istanbul.
Dr. Mehmet ini sering melakukan riset tentang sejarah Aceh dan Malaysia dalam konteks kolonialisme, gerakan kemerdekaan dan sosiologi masyarakat Muslim.
Dr. Mehmet dan isterinya Dr. Nia bisa dikatakan sebagai pasangan ilmuan yang sangat prolifik dalam melakukan riset dan mempublikasikan karya-karya mereka.
Mehmet sendiri selalu menyempatkan hadir untuk melakukan presentasi hasil penelitiannya ketika ada forum dan seminar di Aceh.
Salah satu forum yang hampir senantiasa dihadirinya adalah Seminar ICAIOS (International Centre for Aceh and Indian Ocean Studies).
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/Satu-Malam-Bersama-Diaspora-Aceh-dan-Turki-di-Malaysia.jpg)