Minggu, 10 Mei 2026

Kupi Beungoh

Merawat Jaringan: Satu Malam Bersama Diaspora Aceh dan Turkiye di Malaysia

Ekspatriat Aceh yang bekerja secara profesional di Malaysia merupakan salah satu elemen yang sering dilupakan ketika menyebutkan diaspora Aceh.

Tayang:
Editor: Zaenal
SERAMBINEWS.COM/HANDOVER
Penulis, Fahmi M Nasir (kiri) bersama akademisi asal Turkiye Dr. Mehmet Ozay (dua dari kiri) dalam pertemuan kecil keluarga ekspatriat Aceh, di Taman Harmonis, Gombak, Malaysia, Sabtu (27/7/2024) malam. 

Tidak heran dia mengenal hampir semua punggawa ICAIOS di Aceh mulai dari Dr. Saiful Mahdi hingga yang terkini Dr. Reza Idria.

Keluarga yang kedua adalah Dr. Zeldy Suryadi, ekspatriat IT pada perusahaan BUMN ternama di Malaysia.

Anak muda yang sejujurnya sudah tidak berapa muda lagi ini, sudah pernah saya ceritakan sedikit kisahnya ketika berjumpa Abe dan Abu beberapa waktu yang lalu.

Zeldy merampungkan pendidikan S1 di Institut Teknologi Bandung (ITB).

Lalu dia meneruskan S2 di Fakultas Teknik, Universiti Islam Antarabangsa Malaysia (UIAM).

Begitu selesai kuliah, ia langsung diterima bekerja di perusahaan IT di Malaysia.

Tak terasa, sudah puluhan tahun dia menjadi ekspatriat di Kuala Lumpur.

Di sela-sela kesibukannya bekerja, ia masih dapat merampungkan kuliah S3, juga di UIAM.

Menariknya lagi, hampir di setiap akhir pekan ia masih menyempatkan diri untuk menekuni hobinya bermain bola ataupun futsal.

Kepiawaiannya bermain bola memang sudah dimilikinya sejak kecil.

Ia pernah masuk tim PSAP Junior sebelum ia merantau melanjutkan pendidikan.

Ketika kuliah S2 dan S3, kehebatannya mengocek si kulit bundar amatlah terkenal di kalangan para pelajar Indonesia di Malaysia.

Zaldy dipercayakan menjadi kapten timnas, begitu kami menyebut tim sepakbola Persatuan Pelajar Indonesia (PPI)- UIAM FC.

Hingga kini kawan-kawan satu tim masih memanggilnya dengan sebutan ‘Capt’, ketika menyapa anak muda yang berasal dari Grong-Grong ini.

Saya sendiri dulu walaupun tidak pernah masuk tim sepakbola manapun di Aceh selain tim sekolah dan kampus tempat saya belajar, juga pernah dipercayakan menyandang ban kapten timnas PPI-UIAM FC itu.

Apakah saya juga dipanggil ‘Capt’ oleh anak-anak bola PPI-UIAM FC seperti halnya Zeldy? Lain kali saja kita cerita kisah ini.

Satu hal yang pasti saya dan Zeldy pernah sama-sama meraih anugerah Most Valuable Player (MVP) di kejuaraan antarmahasiswa Indonesia di Malaysia, pada waktu yang berbeda.

Selain saya dan Zeldy, ada beberapa mahasiswa dari Aceh yang menjadi tulang punggung tim PPI-UIAM FC, antara lain Khairul Yadi dan Dr. Win Syuhada.

Jika saya dan Zeldy bermain sebagai pemain tengah, Khairul Yadi dan Win Syuhada pula merupakan dua palang pintu yang sukar ditembus oleh tim lawan.

Khairul Yadi saat ini adalah dosen di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP), Universitas Syiah Kuala, sementara Dr. Win Syuhada, yang masih aktif bermain sepakbola eksekutif di berbagai daerah di Aceh, saat ini menjabat sebagai Ketua Mahkamah Syariah Takengon,.

Menariknya pasca generasi kami, kapten timnas PPI-UIAM FC dan MVP dalam beberapa turnamen juga diraih oleh anak muda asal Aceh, Muhammad Israfil, yang kini menjadi ekspatriat dalam bidang IT di United Kingdom (UK).

Apin, nama panggilan akrabnya, memiliki prestasi yang lebih gemilang lagi dalam cabang futsal.

Ia menjadi kapten tim IIUM Mustangs Futsal, tim futsal UIAM yang pemainnya berasal dari manca negara.

Bersama Apin, dalam timnas PPI-UIAM FC juga ada anak muda Aceh yang lain, yaitu Rudi Khairuddin.

Rudi, yang jago animasi ini, berasal dari Tambon Tunong, Dewantara.

Setelah sekian lama mengenalinya baru saya ketahui ternyata kami masih memiliki pertalian persaudaraan melalui almarhumah ibunya, Ruwaida Thaib, yang berasal dari Pulo Reudeup, Kutablang.

Menyikapi hal ini, kami selalu bergurau dengan mengatakan bahwa kita bisa memilih kawan, tapi tidak bisa memilih saudara.

Suka tidak suka itulah saudara kita, jadi kami pun terpaksa menerima hakikat ini.

Saat ini Rudi yang alumni IT dari Universitas Islam Antarabangsa Malaysia (UIAM) telah kembali ke Aceh dan menekuni profesi sebagai seorang pengusaha muda.

Sedikit demi sedikit, usaha yang dilakukannya semakin berkembang pesat dan menunjukkan prospek yang sangat bagus ke depan.

Melihat keuletannya, saya yakin tidak lama lagi dia akan menjadi pengusaha sukses di kawasan Lhokseumawe.

Kita teruskan sedikit lagi cerita tentang isteri Zeldy pula yang kebetulan tidak dapat datang pada malam itu.

Isteri Zeldy yang sering dipanggil dengan nama pendeknya Dini itu juga merupakan alumni S2 dan S3 di UIAM.

Sekarang dia merupakan dosen di Fakultas Teknologi, Informasi dan Komunikasi, UIAM setelah sebelumnya sempat mengajar di salah satu universitas swasta di Lembah Klang.

Pasangan suami isteri ini juga merupakan pakar yang punya kemampuan luar biasa, tidak kalah dibandingkan dengan pasangan Dr. Nia dan Dr. Mehmet.

Keluarga yang ketiga pula adalah Muammar Khadafi dan isterinya Ita Safarela.

Ita merupakan lulusan Program Studi Pendidikan Profesi Ners, Fakultas Keperawatan Universitas Syiah Kuala.

Khadafi, lelaki asal Beureunuen itu sekarang melanjutkan kuliah S3-nya di Institut Tamadun dan Pemikiran Islam Antarabangsa (ISTAC), UIAM.

Sebelumnya ia telah menyelesaikan pendidikan S2 di Fakultas Pendidikan, UIAM dan S1-nya di Prodi Bahasa Arab, Fakultas Tarbiyah dan Keguruan, UIN Ar-Raniry.

Hampir semua mahasiswa Aceh di Malaysia mengenali anak muda yang walaupun sudah tidak begitu muda lagi, namun masih lebih muda dibandingkan Zeldy ini.

Khadafi, begitu kami memanggilnya, adalah seorang hafiz Quran 30 juz dan memiliki suara yang merdu sehingga sering ia diundang untuk menjadi imam shalat terutama di waktu bulan Ramadhan.

Kami sering bergurau dengan Khadafi, kalau dia sedang tidak sehat atau suaranya sedang parau, maka kami siap menggantikannya menjadi imam untuk shalat zuhur dan asar.

Kelebihan lain  yang dimiliki oleh Khadafi adalah luasnya jaringan yang dimilikinya baik di Indonesia dan di Malaysia.

Ia juga sangat mengenal seluk beluk politik di Malaysia, yang mungkin akan sangat berguna di masa depan untuk menjembatani hubungan Aceh dan Malaysia.

Penguasaan bahasa Melayu yang dimilikinya juga sangat baik sehingga ia sering menjadi penyunting pada beberapa buku, majalah dan buletin terbitan salah satu institusi di negeri tempat dia menimba ilmu sekarang ini.

Berada bersama semua rekan-rekan keluarga yang bisa dikategorikan sebagai diaspora hebat ini membuat waktu terasa berjalan begitu cepat.

Kami sepakat untuk terus merawat persahabatan ini, apalagi anak-anak kami juga saling berteman antara satu sama lain.

Pada waktu yang sama kami sama-sama memiliki keinginan agar suatu waktu nanti, kami mendapatkan kesempatan untuk memberikan kontribusi bagi Aceh, walau sekecil apapun itu, dengan sedikit kepakaran dan jaringan yang kami miliki.

Ketika Dr. Mehmet menyebutkan bagaimana dan kepada siapa bisa mengusulkan supaya peringatan tsunami yang ke-20 tahun ini bisa dijadikan momentum untuk menjadikan Aceh lebih relevan di mata dunia, kami segera memberikan respons bahwa kita bisa bersama-sama berusaha menyampaikan hal ini kepada para pemangku kepentingan di Aceh.

Saya kemudian menambahkan, kalau bisa jangan hanya difokuskan kepada peringatan tsunami yang ke-20 saja, akan tetapi mengadakan acara tahunan yang akan menempatkan Aceh sebagai salah satu pemain penting khususnya dalam diskursus pembangunan pascabencana, resolusi konflik dan pembangunan pasca perang.

Acara tahunan ini bisa saja dinamakan dengan ‘Aceh Dialogue’ yang akan membahas berbagai macam agenda dengan menghadirkan sebanyak mungkin pakar berkelas dunia.

Hasil diskursus pada acara itu tentu akan menjadi rujukan banyak pihak yang secara otomatis akan membuat Aceh menjadi relevan di mata dunia.

Saya yakin dengan SDM yang dimiliki oleh Aceh saat ini, baik yang berada di Aceh ataupun para diaspora yang tersebar di seluruh dunia, kita mampu mengadakan kegiatan tersebut.

Kami mengakhiri kebersamaan di akhir pekan itu dengan sebuah tekad yang juga dimiliki oleh para perantau yang lain, yaitu kesempatan untuk kembali ke negeri asal baik secara langsung ataupun tidak langsung tentunya untuk mengambil bagian dalam membangun dan memajukan Aceh.(*)

*) PENULIS Fahmi M Nasir adalah Warga Aceh yang saat ini berdomisili di Taman Harmonis, Gombak, Malaysia. Email: fahmi78@gmail.com

KUPI BEUNGOH adalah rubrik opini pembaca Serambinews.com. Setiap artikel menjadi tanggung jawab penulis.

Baca Artikel KUPI BEUNGOH Lainnya di SINI

Halaman 4/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved