Konflik Palestina vs Israel

Intelijen AS: Bakal Ada 2 Gelombang Serangan ke Israel dari Iran dan Hizbullah

Intelijen Amerika Serikat (AS) memperkirakan skenario yang melibatkan dua gelombang serangan terhadap Israel.

Editor: Faisal Zamzami
khaberni/HO
Gambar ILustrasi. Kelompok milisi Lebanon, Hizbullah dilaporkan menyergap konvoi tentara Israel dan menghujani IDF dengan berbagai jenis tembakan mulai dari peluru artileri, rudal berpemandu, hingga senjata anti tank di Ruwaisat Al-Alam, Kamis (25/4/2024) malam. 

SERAMBINEWS.COM, LEBANON -  Intelijen Amerika Serikat (AS) memperkirakan skenario yang melibatkan dua gelombang serangan terhadap Israel.

Portal Axios, yang berafiliasi ke pemerintah AS, mengutip pejabat berwenang di AS menjelaskan soal itu, Selasa (6/8/2024).

Informasi itu diperoleh dari sumber yang mengetahui isi pertemuan antara Presiden AS Joe Biden dan Wakil Presiden Kamala Harris dengan tim keamanan nasional di Gedung Putih kemarin.

Intelijen AS melaporkan bahwa satu gelombang serangan diperkirakan akan datang dari Iran dan yang lainnya dari Hizbullah di Lebanon.

"Seorang pejabat AS mengatakan intelijen menunjukkan respons Iran dan Hizbullah masih merupakan pekerjaan yang sedang berlangsung dan keduanya belum memutuskan apa sebenarnya yang ingin mereka lakukan," tulis portal tersebut.

Baca juga: Donald Trump Dengar Iran Akan Serang Israel Malam Ini, Joe Biden Bilang Belum Jelas

Seperti diketahui situasi di Timur Tengah meningkat tajam setelah Hamas memasuki wilayah Israel dari Jalur Gaza pada 7 Oktober 2023, disertai dengan pembunuhan penduduk pemukiman perbatasan dan penyanderaan.

Situasi meningkat drastis sekali lagi setelah pembunuhan pemimpin Hamas Ismail Haniyeh di Teheran dan komandan senior Hizbullah Fuad Shukr di Beirut.

Hamas dan Hizbullah menyalahkan Israel atas pembunuhan tersebut dan memperingatkan aksi balasan untuk Israel.

Pihak berwenang Israel tidak mengomentari kematian Haniyeh.

Mengenai tewasnya Shukr, disebutkan bahwa hal itu merupakan balasan atas serangan penembakan di desa Druze Majdal Shams di Dataran Tinggi Golan yang menewaskan 12 orang.

Namun, Hizbullah membantah keterlibatannya dalam insiden tersebut.

Baca juga: 7 Tentara Israel Terluka Kena Ledakan Granat Hamas di Rafah, Al-Qassam Tewaskan IDF di Gaza Selatan

Houthi Juga Siapkan Serangan ke Israel

Sementara itu, kelompok Houthi Yaman mempersiapkan operasi besar-besaran untuk menyerang Israel.

Dalam sebuah wawancara dengan Newsweek, wakil sekretaris informasi Ansar Allah Nasreddin Amer menolak untuk mengungkapkan rincian partisipasi kelompok tersebut dalam serangan yang akan datang.

Namun dia mengatakan bahwa rencana besar telah dikembangkan.

Sementara Israel bersiap menghadapi kemungkinan pembalasan dari Iran dan sekutunya di Lebanon (Houthi) atas pembunuhan Pimpinan Hamas Ismail Haniyeh di Teheran pekan lalu.

Berbicara kepada Newsweek hari Senin, Wakil Sekretaris Informasi Ansar Allah Nasreddin Amer menolak untuk mengungkapkan rincian keterlibatan kelompoknya dalam serangan yang akan datang tersebut tetapi mengisyaratkan rencana besar sedang disusun.

"Selama periode ini, kita cenderung berbicara sedikit dan bertindak banyak," kata Amer kepada Newsweek.

"Inilah yang ingin saya sampaikan kepada dunia."

Baca juga: VIDEO 22 Negara Tarik Warganya dari TimTeng, Khawatir PD III Pecah Imbas Iran VS Israel Memanas!

Presiden Iran Gandeng Rusia Jadi Sekutu Prioritas

Presiden Iran Masoud Pezeshkian sepertinya mulai melakukan manuver untuk mengantisipasi eskalasi negaranya dengan Israel yang kian memanas.

Langkah antisipasi ini diperlihatkan Masoud dalam pernyataannya saat menemui Sekretaris Dewan Keamanan Rusia, Sergei Shoigu di Teheran pada hari Senin (5/8/2024).

Dalam pertemuan tersebut, Masoud Pezeshkian secara gamblang menyebut Rusia kini adalah mitra strategis terdekat dari Republik Islam tersebut.

Melalui pertemuan dengan delegasi Rusia tersebut, Masoud juga menegaskan bahwa perluasan hubungan antara kedua negara tersebut menjadi salah satu prioritas kebijakan luar negeri Iran.

Pezeshkian juga menjelaskan bahwa hubungan Iran dan Rusia sejatinya sudah terbangun sejak lama.

Ia mengatakan bahwa Rusia selama ini termasuk di antara negara-negara yang selalu mendukung Iran terutama di masa-masa sulit

Melalui kerja sama bilateral dengan Rusia tersebut, Pezeshkian juga berharap hubungan antar kedua negara ini dapat membawa peningkatan perdamaian dan keamanan global.

Bagi Pezeshkian, kerja sama antara Iran dan Israel tersebut juga dapat diasumsikan sebagai respons terkait kejahatan Israel terhadap Palestina di Gaza,.

Pezeshkian mengatakan bahwa tindakan kriminal Israel mulai dari agresi di Palestina hingga pembunuhan pemimpin Hamas, Ismail Haniyeh, adalah contoh jelas pelanggaran hukum internasional yang tidak bisa diabaikan.

Dalam pernyataannya, Pezeshkian membantah bahwa langkah mempererat hubungan dengan Rusia adalah langkah Iran untuk memperburuk ketegangan dan menyebarluaskan perang di kawasan timur tengah.

Pezeshkian kembali menegaskan bahwa hubungan dengan Rusia ini merupakan langkah yang harus mereka ambil sebagai respons atas kejahatan rezim Israel selama ini.

Sementara itu, Sergei Shoigu menyambut baik ajakan dari Iran untuk mempererat hubungan negaranya dengan Rusia.

Mantan Menteri Pertahanan Rusia itu juga mengatakan bahwa Iran selama ini telah menjadi salah satu sekutu kunci bagi Rusia di kawasan Asia.

Ia juga mengharapkan bahwa hubungan bilateral ini tidak hanya untuk memperkuat keamanan antara Rusia dan Iran, tapi juga untuk mengembangkan kemajuan antara kedua negara di semua bidang.

Baca juga: Kejam! Ibu di Jaksel Banting Bayinya ke Keramik Teras Rumah hingga Tewas

Baca juga: 7 Tentara Israel Terluka Kena Ledakan Granat Hamas di Rafah, Al-Qassam Tewaskan IDF di Gaza Selatan

Baca juga: Menlu Iran: Israel Harus Dibuat tidak Mampu Lagi Menyerang dan Menjajah Negara Lain di Timur Tengah

Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved